Advokasi

Akurasi dan Diagnosis dari Tes HIV Mandiri

  • By Caroline Thomas
  • 25 April 2022
Alat tes HIV mandiri

Pada tahun 2016, WHO merekomendasikan penggunaan tes mandiri HIV sebagai salah satu cara untuk meningkatkan jumlah orang yang ingin mengetahui status HIV mereka. Pada tahun 2019, WHO melakukan pembaruan bukti melalui tinjauan sistematis. Tinjauan sistematis ini melihat pada 32 hasil uji coba terkontrol secara acak (randomized controlled trials/RCT) yang menunjukkan bahwa dibandingkan dengan tes HIV standar berbasis fasilitas kesehatan, tes mandiri dapat meningkatkan penggunaan tes HIV. Selain itu, tinjauan ini juga menunjukkan bahwa penyalahgunaan tes mandiri HIV jarang terjadi. Risiko sosial dan angka bunuh diri akibat penggunaan tes HIV mandiri juga kecil. Lebih jauh, tes mandiri HIV tidak meningkatkan perilaku seksual berisiko antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL). Secara umum, tes mandiri HIV diterima dan layak untuk dilakukan dalam berbagai populasi dan pengaturan.

Sejalan dengan itu, serangkaian penelitian yang merupakan kerja sama antara Kementrian Kesehatan Indonesia, WHO, Kirby Institute, University of New South Wales Australia, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Udayana Bali, Universitas Padjadjaran Bandung, dan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dilakukan mulai dari tahun 2015. Penelitian ini salah satunya bertujuan melihat dampak dari intervensi penggunaan tes HIV mandiri melalui cairan oral di antara LSL di Bali.

Intervensi ini melibatkan peserta LSL yang berusia 16 tahun ke atas yang belum pernah tes HIV atau pernah tes HIV lebih dari 6 bulan, namun menolak untuk melakukan tes HIV di fasilitas kesehatan. Intervensi dilakukan oleh petugas penjangkau komunitas dari Yayasan Kerti Praja (YKP), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam program pencegahan HIV sejak tahun 1987.

Implikasi dari intervensi ini menunjukkan bahwa tes mandiri HIV dapat meningkatkan jumlah populasi kunci yang melakukan tes HIV. Studi ini merekomendasikan kebijakan agar tes HIV mandiri berbasis cairan oral dapat tersedia dan pendekatan ini dapat ditingkatkan skalanya untuk meningkatkan tes HIV khususnya bagi populasi kunci, termasuk klien dari pekerja seks.

Kapan waktu yang tepat untuk menggunakan alat tes HIV mandiri?

Tes HIV mandiri menjadi alat yang cocok untuk melakukan diagnosis awal setelah melakukan perilaku berisiko. Perilaku berisiko infeksi HIV yaitu berhubungan seks tanpa kondom dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau berbagi penggunaan jarum suntik. Secara umum, idealnya tes HIV dilakukan 2-8 minggu setelah melakukan kegiatan perilaku berisiko.

Tes HIV mandiri dapat dijadikan acuan awal dan cepat untuk menenangkan diri setelah melakukan perilaku berisiko. Kondisi psikologis akibat rasa khawatir terinfeksi HIV dapat menciptakan placebo effect kepada tubuh. Tubuh dapat memunculkan gejala umum infeksi HIV secara klinis berupa: 

  1. demam menggigil
  2. muncul ruam di kulit
  3. radang tenggorokan
  4. diare
  5. nyeri otot
  6. sakit kepala 
  7. pembengkakkan kelenjar

Tes HIV mandiri bisa menjadi deteksi dini dan cepat sebelum melakukan tindakan medis di penyedia layanan kesehatan. 

Namun, hasil dari tes HIV mandiri tidak dapat dijadikan sebagai diagnosis yang pasti. Kedua hasil positif/negatif atau reaktif/non-reaktif perlu dikonsultasikan lagi kepada penyedia layanan kesehatan.

Mengapa penting untuk melakukan tes HIV lanjutan di layanan kesehatan?

Tes HIV mandiri tidak dapat memberikan diagnosis yang pasti. Oleh karena itu, jika setelah melakukan tes mandiri dan hasilnya positif, hasil tersebut harus dikonfirmasi di layanan kesehatan sesuai dengan algoritma tes HIV Nasional.

Bagi yang telah didiagnosis positif di layanan kesehatan dan belum menggunakan terapi antiretroviral (ARV), harus didorong dan didukung untuk memulai terapi.

Hasil tes HIV mandiri yang negatif juga perlu untuk diulang dan didiskusikan dengan petugas layanan kesehatan mengenai kemungkinan penggunaan profilaksis pra-pajanan. Tes mandiri HIV tidak direkomendasikan untuk orang yang telah menggunakan terapi antiretroviral karena dapat memberikan hasil negatif palsu.