Penelitian

Cerita Bobby: Perjuangan Panjang Melawan Masalah Kesehatan Jiwa

  • By Armadina Az Zahra
  • 22 November 2019
Andri F. Bobby

Nama saya Andri F Bobby, teman-teman dan orang terdekat biasanya menyapa saya “Bobby”. Saat ini saya bekerja di salah satu lembaga yang bergerak pada isu kesehatan masyarakat. Saya juga seorang praktisi kesenian tradisional sebagai dalang Wayang Golek dan Wayang Menak, kini saya yang meneruskan generasi terakhir dan satu-satunya di Kabupaten Cilacap.

Tidak pernah terlintas bahwa saya akan mengalami gangguan kejiwaan, yaitu Depresi Klinis dan Anxiety Disorder. Kondisi itu menyebabkan saya diserang dengan berbagai pikiran negatif dan kebencian akan diri sendiri. Saya merasa tidak berharga sebagai manusia, tidak punya harapan, dan merasa lelah untuk melanjutkan hidup. Bahkan saya pernah berada pada kondisi anhedonia, kondisi itu membuat saya tidak bisa merasakan kesenangan dan kebahagiaan sedikitpun. Namun, saya beruntung karena cepat sadar bahwa saya membutuhkan bantuan profesional, sehingga tidak sampai ada percobaan bunuh diri.

Terbayang benar dalam perjalanan hidup ini, memang ada banyak faktor risiko untuk mengalami gangguan kejiwaan yang telah saya lewati. Saya merasa menyimpan luka batin sejak kecil hingga usia dewasa. Neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan norepinephrine di otak saya kacau. Amygdala di otak saya pun lebih lebih kecil daripada kebanyakan orang. Namun jangan salah, gangguan jiwa ini bukan karena saya lemah, tapi karena aspek biologis, psikologis, dan sosial. Ketiganya berkontribusi membuat saya lebih rentan terhadap gangguan jiwa.

Tidak terasa 15 tahun sudah saya berjuang seorang diri melawan gangguan jiwa ini. Tanpa didampingi caregiver, baik keluarga maupun kawan. Teman curhat saya, hanya Psikiater yang mengangani permasalahan saya. Saya sulit untuk terbuka karena saya memang tipe orang yang tidak mudah percaya pada orang lain. Beberapa kali saya pernah mencoba berbicara dengan teman, tetapi mereka hanya bilang kalau saya tidak kuat ditimpa masalah, tidak berpegang pada agama, rapuh, dan stigma negatif lainnya yang justru membuat keadaan semakin buruk. Padahal, gangguan jiwa bukanlah tanda bahwa saya manusia yang payah atau tidak menghadapi masalah hidup. Ini juga bukan hukuman Tuhan, sama seperti penyakit lain yang menyerang fisik, ini adalah penyakit yang butuh pengobatan.

Ada dua episode dalam hidup dimana saya menjalani kombinasi pengobatan dan psikoterapi dengan tingkat kepatuhan yang tinggi di bawah pengawasan Psikiater, dan selama bertahun-tahun semuanya bisa terkontrol. Namun, saat ini saya sedang mengalami masa relapse (kambuh) untuk ketiga kalinya dan saya menjalani lagi pengobatan bersama Psikiater di salah satu rumah sakit pemerintah di Jakarta. Pengobatan ini saya tempuh karena saya paham bahwa saya punya kuasa dan kendali penuh untuk menentukan sikap serta tindakan terbaik yang akan saya lakukan untuk kesehatan jiwa saya.

Bagi saya, kita harus selalu menyadari bahwa tidak apa-apa kok, jika kita mengalami permasalahan kejiwaan. Kita tidak sendirian. Jika kita butuh bantuan Dokter atau Psikiater, itu tidak berarti kita lemah. Mencari bantuan profesional berarti kita mencintai diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Itu artinya kita cukup kuat untuk mengakui, “Ya, saya sakit, namun saya ingin bisa berfungsi normal dan sehat, makanya saya berobat.”

Saya selalu ingin berkata, “Kawan, ketahuilah saya tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang membuat jiwa saya terganggu. Pun ini bukan keinginan saya untuk menderita gangguan jiwa. Mungkin bagi kalian sangat mudah untuk mengendalikan diri dan mood (suasana hati) jika kalian berpikir dari sisi ‘kenormalan’ kalian. Tapi saya berbeda, bagi saya yang memiliki permasalahan kejiwaan, hal itu sungguh sangat berat dan menyesakkan. Saya ingin bangkit dari depresi dan merasakan indahnya dunia seperti kalian. Saya berjuang keras untuk sembuh. Saya juga ingin seperti kalian yang jiwanya mungkin baik-baik saja. Tapi saya tahu semua itu butuh proses. Semoga kalian bisa mengerti, dan tolong jangan hakimi kami dengan menjadikan permasalahan kejiwaan sebagai bahan olok-olokan dan bahan lelucon kalian.”