Artikel

Literasi Digital: Di antara FAKTA dan HOAX?

  • By Lydia Verina Wongso
  • 19 August 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Satpam             : “Mohon ijin cek suhu tubuh!”
Customer          : “ Silakan pak (sambil menurunkan face shield dan mengarahkan dahi ke arah satpam)
Satpam             : Gak usah pak di lengan saja
Customer          : … (dengan bingung menyodorkan lengan)

Apakah ada yang pernah mengalami situasi serupa?

Belakangan ini marak tersebar berita di sosial media yang menyebutkan bahwa alat pengukur suhu tubuh Thermo Gun yang sekarang banyak digunakan disaat pandemi COVID-19 ini berbahaya bagi otak atau tubuh manusia. Thermo Gun di tengarai menggunakan radiasi laser yang dapat merusak struktur otak. Berita inilah sepertinya yang melatarbelakangi sepenggal kejadian di atas.

Ini bukanlah kali pertama berita atau informasi yang salah ini beredar secara masif di sosial media dan dipercayai di masyarakat. Berita lain yang juga sempat naik daun adalah tentang minyak kayu putih (eucalyptus) yang dapat menyembuhkan dan menghilangkan virus COVID-19. Pada penggalan chat di Whatsapp dijelaskan penggunaan minyak kayu putih (eucalyptus) dengan mengusapkan pada bagian dada dan diminum bersama air hangat dapat menyembuhkan penyakit COVID-19. Peningkatan pembelian minyak kayu putih ini terlihat di berbagai situs marketplace diiringi adanya kenaikan minyak kayu putih dari harga normal.

Sepenggal kisah diatas mungkin juga pernah Anda alami, atau sempat Anda percayai sebagai informasi yang benar, bahkan mencobanya. Jadi, sebenarnya mengapa kita dengan mudahnya bisa mempercayai berita yang tidak benar ini? Apa penyebabnya seseorang dapat mempercayai sebuah informasi dari media sosial?

Saat ini, setiap orang memang menjadi lebih mudah untuk mengakses berbagai informasi dengan keberadaan sosial media. Sosial Media seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan juga WhatsApp menjadi semakin penting sebagai sumber berita yang diandalkan di masyarakat. Berdasarkan data Hootsuite Digital Report 2020, lima sosial media yang paling banyak diakses masyarakat Indonesia, yaitu Youtube, Whatsapp Facebook, Instagram, dan Twitter. Secara global, Indonesia menempati peringkat ketiga pengguna Facebook dan peringkat kelima pengguna Twitter tertinggi[1]. Akses pada sosial media yang tinggi inilah yang memungkinkan cepatnya pertukaran informasi terjadi, baik itu fakta maupun hoax.

Dengan keberadaan sosial media yang menjadi andalan sebagai sumber informasi, kebenaran dari sebuah berita menjadi dinomorduakan. Banyak orang yang menempatkan prioritas pada berbagi informasi yang ia terima terlepas kebenaran dari informasi tersebut. Sebuah informasi seringkali dengan lebih mudah kita percayai karena telah dikirimkan oleh banyak orang. Pada masa kini, masyarakat menilai kebenaran sebuah informasi berdasarkan siapa yang membagikan, berapa banyak likes, komentar dan share, tanpa lebih lanjut memahami isinya. Permasalahannya, seperti yang sedang ramai diperbincangkan, ada publik figur yang berpandangan tidak berlandaskan kebenaran atau bukti dan lebih mengedepankan teori konspirasi. Salah satu contohnya adalah terkait penggunaan masker dan konspirasi COVID-19. Hal ini menjadi berbahaya karena banyak pengikutnya yang dapat mengikuti sikap sang publik figur tanpa mengecek kembali kebenaran yang disampaikan, apalagi hal ini terkait dengan kesehatan masyarakat.

Hoaks dan lingkaran informasi yang menyesatkan

Seseorang menyaring informasi berdasarkan kacamata pengalaman masa lalu mereka. Umumnya seseorang akan secara kognitif menolak apabila sebuah informasi berkontradiksi terhadap kepercayaan yang ada. Oleh karena itu seseorang cenderung mencari informasi yang menguatkan pandangannya, yang biasa dikenal dengan bias konfirmasi. Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, mendukung, dan mengingat informasi yang menegaskan atau mendukung keyakinan atau nilai seseorang sebelumnya. Ini adalah jenis bias kognitif penting yang memiliki efek signifikan pada berfungsinya masyarakat dengan mendistorsi pengambilan keputusan berbasis bukti.

Pada masa era digital ini, jauh lebih mudah untuk menghindari informasi yang tidak sesuai dengan preferensi nilai dan keyakinan kita. Media sosial memudahkan setiap orang untuk menghindari informasi yang tidak cocok dengan narasi yang sudah ada. Semua platform digital termasuk sosial media memiliki algoritme yang dapat memperkuat bias konfirmasi pada individu. Secara otomatis, algoritme di sosial media akan menghindarkan informasi yang tidak menyenangkan menurut pengguna, dan mendekatkan berita atau informasi yang sesuai dengan keyakinan atau perilaku yang dijalani oleh pengguna tersebut. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Jun (2012) yang menjelaskan bahwa pada prinsipnya internet memfasilitasi keterpaparan selektif, yaitu pemilihan informasi yang sesuai dengan keyakinan seseorang. Dengan begitu, ketika seseorang mempercayai hal tertentu maka sirkulasi informasi dari sosial media akan akan bertahan menyesuaikan hal tersebut. Orang yang mempercayai berbagai hoax akan terus disodorkan pada informasi-informasi yang mungkin tidak jelas kebenarannya akibat pola penggunaannya dalam sosial media yang menyukai atau membagi informasi sejenis.

Literasi Digital

Membaca tidak hanya sekedar melihat namun juga dibutuhkan keterbukaan pikiran. Saat menerima informasi baru yang berbeda dari pengetahuan sebelumnya seseorang mungkin akan mengalami disonansi kognitif. Dalam menyikapi disonansi tersebut, seseorang dapat memilih untuk mempertanyakan apa yang dibacanya atau menghindari berita yang tidak disukai. Pada era digital ini, keterbukaan informasi juga perlu diimbangi dengan keterbukaan pikiran dan kemampuan untuk mengevaluasi sebuah informasi. Dengan begitu, seseorang akan mampu untuk menemukan, mengevaluasi, dan menyusun informasi yang jelas melalui tulisan dan media lain di berbagai platform digital, atau biasa dikenal dengan literasi digital.

Saat menilai keandalan sumber media serta kebenaran klaimnya, kita perlu untuk membaca secara menyeluruh seluruh bagian sebelum membagikan dan memperkuat pesan. Dorrie Cooper (dalam Sano, 2017) merekomendasikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk mengevaluasi kebenaran sebuah berita atau informasi:

  1. Tanyakan secara kritis, apakah sifat dari klaim tersebut merupakan sebuah fakta atau opini?
  2. Apakah tersedia sumber yang dapat diteliti? Dapatkah Anda menemukan penelitian utama dari pernyataan mereka?
  3. Membaca secara lateral (mencari konteks dan perspektif dari situs lain) lebih efektif daripada membaca secara vertikal (yang melibatkan penyelidikan mendalam atas keandalan sumbernya).

Sebagai referensi, kita bisa membaca dan mengecek kebenaran sebuah berita (hoax atau disinformasi) melalui kanal dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang bisa dilihat melalui tautan ini[2]. https://kominfo.go.id/content/all/laporan_isu_hoaks

"Kita tidak bisa memperlambat arus informasi, tapi kita bisa memperlambat diri kita sendiri dan kita bisa mendorong orang di sekitar kita untuk melakukan hal yang sama." -Hornik

 

Bahan Bacaan:

[DISINFORMASI] Covid-19 Bisa Disembuhkan dengan Minyak Kayu Putih. 2020. Diakses dari https://kominfo.go.id/content/detail/26851/disinformasi-covid-19-bisa-disembuhkan-dengan-minyak-kayu-putih/0/laporan_isu_hoaks

[DISINFORMASI] Pengukur Suhu Tubuh Thermo Gun Berbahaya Bagi Manusia. 2020. Diakses dari https://kominfo.go.id/content/detail/27991/disinformasi-pengukur-suhu-tubuh-thermo-gun-berbahaya-bagi-manusia/0/laporan_isu_hoaks#:~:text=Penjelasan%20%3A,tersebut%20dapat%20merusak%20struktur%20otak.

[HOAKS] Thermo Gun atau Termometer Tembak Bisa Merusak Otak. 2020. Diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/23/062530765/hoaks-thermo-gun-atau-termometer-tembak-bisa-merusak-otak?page=all.

Fake News, Confirmation Bias and Selective Attention: Teaching Digital Literacy #DLNchat. 2018. Diakses dari https://www.edsurge.com/news/2018-09-13-fake-news-confirmation-bias-and-selective-attention-teaching-digital-literacy-dlnchat

Hoosuite. We Are Social: Indonesia Digital Report 2020. Diakses dari https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia?rq=indonesia%202020

Jun, N. (2012). Contribution of Internet news use to reducing the influence of selective online exposure on political diversity. Computers in Human Behavior, 28(4), 1450–1457.doi:10.1016/j.chb.2012.03.007 

Theories of Selective Attention. 2018. Diakses dari https://www.simplypsychology.org/attention-models.html

Today’s biggest threat to democracy isn’t fake news—it’s selective facts. 2017. Diakses dari https://qz.com/1130094/todays-biggest-threat-to-democracy-isnt-fake-news-its-selective-facts/

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.

 


[1] https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia?rq=indonesia%202020