Artikel

Mampukah Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Berperan dalam Penanganan AIDS di Indonesia Tanpa Dukungan Inisiatif Kesehatan Global?

  • By Gracia Valeska Simanullang
  • 29 February 2016
None

Di Indonesia, respon terhadap epidemi HIV sudah berlangsung secara formal sejak tahun 1994 melalui dibentuknya Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) diikuti dengan berbagai kerjasama dengan organisasi internasional. Kerjasama baik bilateral maupun multilateral ini mendorong adanya pengalokasian dana hibah asing untuk program HIV AIDS di Indonesia yang selama ini dikenal dalam skema Inisiatif Kesehatan Global (Global Health Initiative – GHI).

Lembaga-lembaga donor asing seperti USAID, DFAT, GF, World Bank dan banyak lembaga donor lainnya yang telah mengalokasikan dana yang besar untuk program HIV AIDS di negara kita ini. Dana tersebut tidak hanya disalurkan secara langsung kepada pemerintah melalui upaya-upaya dalam sistem kesehatan namun juga kepada lembaga non-pemerintah termasuk Organisasi Masyarakat Sipil (OMS).

OMS dinilai memiliki peran strategik dalam upaya penanggulangan HIV AIDS di Indonesia. Ya, tentu saja hal ini tidak dapat dipungkiri. Dalam sekian puluh tahun perjalanan program HIV, peran OMS dalam membantu program pemerintah menjadi penyambung akses layanan kesehatan bagi ODHA, menjangkau dan mendampingi ODHA menghadapi segala tantangan akibat status HIV-nya, sampai pada mengusung kebijakan-kebijakan yang diperlukan dalam program HIV AIDS terlihat sangat signifikan.

OMS sebagai bagian dari sistem komunitas juga dilihat sebagai kontrol dan penyeimbang program pemerintah untuk memastikan layanan kesehatan yang komprehensif, responsif terhadap kebutuhan, akuntabel dan berkualitas, baik dari aspek cakupan, akses dan pemerataan layanan. Peran penting OMS inilah yang kemudian dilihat GHI sangat signifikan dan memilih untuk menyalurkan dana bantuan melalui OMS (Doyle P., 2008).

Bagaimana kemudian dana hibah asing ini memberikan dampak pada keberadaan dan peran OMS dalam penanggulangan HIV di Indonesia? Beberapa penelitian terdahulu mencoba untuk melihat berbagai dampak GHI terhadap peran OMS dalam penanggulangan HIV AIDS namun masih sangat sedikit penelitian yang telah dilakukan terutama di Indonesia. Oleh karena itu, PPH Atma Jaya pada tahun 2015 telah melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Global Health Initiative (GHI) terhadap Keberadaaan dan Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pengendalian HIV di Indonesia”.

Penelitian ini dilakukan di 6 kota di Indonesia yaitu: Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Malang dan Denpasar. Salah satu kesimpulan penting dari penelitian ini adalah bahwa di samping peran GHI yang sangat penting dalam upaya penanggulangan HIV AIDS di Indonesia, pengaruh GHI terhadap keberadaan dan peran OMS luar biasa besarnya, bahkan bisa mempengaruhi landasan, visi, misi dan tujuan OMS.

Lebih lanjut penelitian ini menemukan bahwa adanya ketergantungan pendanaan program HIV AIDS pada donor yang mempengaruhi orientasi kerja OMS sehingga kebanyakan OMS terjebak dalam proyek sesaat. Temuan ini didukung oleh hasil dari beberapa penelitian lain yang juga menyebutkan bahwa GHI tidak hanya memberikan dampak positif bagi program HIV AIDS di negara penerima bantuan namun juga memberikan dampak negatif (Chima, 2015) bahkan studi lain menemukan bahwa OMS seringkali dijadikan “topeng” untuk menutupi kepentingan pihak asing dengan tampilan otonomi negara dan masyarakat (Kapilashrami, 2012).

Dengan kondisi OMS seperti saat ini, dimana keberadaannya dan perannya memiliki ketergantungan cukup besar terhadap donor asing, apa yang kemudian dapat diperbuat? Pertanyaan ini untuk dipikirkan dan dijawab oleh semua pihak. Baik pemerintah, OMS maupun pihak GHI perlu memikirkan dan melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan keberlanjutannya dalam ikut berperan dalam program penanggulangan HIV AIDS. Rekomendasi akan sumber-sumber pendanaan lain dan strategi yang tepat diperlukan agar OMS dapat menjawab tantangan di depan apabila lembaga donor yang menjadi sponsor utama GHI berhenti mengucurkan dananya di Indonesia.

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya