Penelitian

Mengenal Gangguan Neurokognitif pada Orang dengan HIV/AIDS

  • By Astri Parawita Ayu
  • 15 December 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Terapi kombinasi antiretroviral (ARV) dapat membantu mencegah perburukkan kondisi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan meningkatkan angka harapan hidup mereka. Di masa sebelum terapi ARV ditemukan, banyak terjadi kasus gangguan fungsi kognitif akibat infeksi virus yang menyebabkan proses inflamasi pada otak. Dengan meningkatnya cakupan dan kualitas pengobatan ARV, kasus gangguan fungsi kognitif semakin berkurang namun tidak hilang (1). Terapi ARV jangka panjang membuat ODHA dapat mencapai usia lanjut namun demikian penurunan fungsi kognitif tetap mungkin terjadi. Kondisi yang disebut sebagai HIV Associated Neurocognitive Disorder (HAND) sering muncul pada ODHA walaupun sudah dalam pengobatan ARV jangka panjang. HAND adalah istilah umum yang digunakan untuk berbagai tingkat gangguan fungsi kognitif yang terjadi pada ODHA. Gangguan tersebut melibatkan setidaknya dua area kognitif, seperti kemampuan memproses informasi, fungsi eksekutif, perhatian, daya ingat, keterampilan psikomotor, dan bahasa. HAND juga disertai dengan penurunan yang nyata dalam kemampuan menjalankan fungsi sehari-hari. Berdasarkan tingkat keparahannya, HAND dapat dibagi menjadi tanpa gejala atau Asymptomatic Neurocognitive Impairment (ANI), gejala ringan atau Mild Neurocognitive Disorder (MND), dan demensia HIV atau HIV Associated Dementia (HAD) (1,2).

Sebuah studi meta-analysis yang menelaah 123 artikel penelitian melaporkan prevalensi global kasus HAND adalah sebesar 42,6% (2). Prevalensi HAND berbeda secara signifikan pada tiap-tiap wilayah di dunia, dengan yang tertinggi adalah di Latin Amerika dan Karibia sebesar 59%, disusul Afrika Sub-Sahara sebesar 45,2%, wilayah Eropa Barat dan Tengah serta Amerika Utara sebesar 41,4%, dan Asia Pasifik sebesar 39,4% (2). Prevalensi tersebut juga berbeda, walaupun tidak signifikan, di negara-negara dengan pendapatan rendah (42,8%), menengah (46,4%), dan tinggi (40,5%) (2). Berbagai penelitian dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan prevalensi gangguan neurokognitif antara 11,5% - 73,6%, dan HAD sebesar 1 – 5% (3). 

Penelitian-penelitian menunjukkan berbagai kondisi yang dapat terjadi bersamaan dengan HAND. Kondisi-kondisi tersebut diduga menurunkan fungsi kognitif walaupun mekanismenya belum dapat dijelaskan secara pasti. Fungsi kognitif yang terganggu ditemukan pada ODHA yang mempunyai indeks massa tubuh yang rendah, kadar lemak darah yang tinggi, atau masalah pada hati atau ginjal (1,3). Penyakit-penyakit lain yang dapat terjadi bersama dengan HAND adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, epilepsi, serta gangguan jiwa (1,3). Infeksi hepatitis C diduga tidak mengganggu fungsi kognitif kecuali jika infeksi tersebut menyebar ke otak (encephalopathy) (1). Depresi juga diduga tidak menurunkan fungsi kognitif walaupun sering terjadi bersamaan dengan HAND (1). Kondisi HAND lebih banyak ditemukan pada ODHA yang berusia lanjut (di atas 50 tahun) dan sudah terinfeksi selama lebih dari 20 tahun (1). Pada usia lanjut, terjadi proses degeneratif (penuaan) pada jaringan otak yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Usia lanjut, namun demikian, belum dianggap sebagai faktor risiko karena hasil-hasil penelitian masih kontroversi. HAND juga dapat terjadi walaupun ODHA telah mengonsumsi ARV secara rutin walaupun belum dapat dijelaskan secara pasti apa penyebabnya. Salah satu hal yang diduga menjadi penyebab adalah beberapa jenis ARV yang belum terlalu efektif dalam menembus sawar darah otak (1). Ketika jumlah virus di dalam darah menurun dengan terapi ARV, proses peradangan otak masih bisa terjadi. Hal ini namun demikian masih perlu diteliti lebih lanjut.

Gejala penurunan fungsi kognitif pada HAND muncul secara bertahap dan perlahan. Biasanya diawali dengan gangguan konsentrasi, sulit memusatkan perhatian, dan mudah lupa (1). Pada tahap yang lebih berat (HAD) juga dapat muncul gangguan pergerakan, seperti tidak seimbang saat berjalan, tremor, bahkan gejala-gejala seperti pada penyakit Parkinson (1). Gejala-gejala yang tidak terkait dengan fungsi kognitif juga bisa terjadi, seperti kesulitan menahan buang air kecil (1). Kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari juga bisa dialami bahkan dalam kondisi penurunan fungsi kognitif yang ringan (ANI atau MND). Biasanya ODHA perlu dibantu oleh orang lain untuk melakukan aktivitas seperti memasak, belanja, atau mengurus keuangan pribadi (1).

HAND dapat menurunkan kualitas dan angka harapan hidup ODHA, serta kepatuhan mereka dalam mengonsumsi ARV (1,3). Penurunan fungsi kognitif pada HAND dapat terus berlangsung walaupun terapi ARV juga masih berjalan (1). Dengan demikian, evaluasi fungsi kognitif secara rutin penting untuk dilakukan pada ODHA sehingga dapat mendeteksi terjadinya HAND sejak dini. ODHA juga perlu diberikan pengetahuan tentang fungsi kognitif dan bagaimana mengenali gejala penurunan fungsi tersebut. Diharapkan dengan terdeteksinya masalah kognitif sejak awal, intervensi dapat diberikan untuk mencegah perburukkan kondisi ODHA. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mendiagnosis dan mengobati penyakit-penyakit lain yang diduga memengaruhi penurunan fungsi kognitif. Dengan teratasinya berbagai penyakit tersebut diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya HAND.

 

Daftar Pustaka

1.         Smail RC, Brew BJ. HIV-associated neurocognitive disorder. In: Handbook of Clinical Neurology. Elsevier B.V.; 2018. p. 75–97.

2.         Wang Y, Liu M, Lu Q, Farrell M, Lappin JM, Shi J, et al. Global prevalence and burden of HIV-associated neurocognitive disorder: A meta-analysis. Neurology [Internet]. 2020 Nov 10 [cited 2020 Dec 9];95(19):e2610–21. Available from: https://n.neurology.org/content/95/19/e2610

3.         Michael HU, Naidoo S, Mensah KB, Ramlall S, Oosthuizen F. The Impact of Antiretroviral Therapy on Neurocognitive Outcomes Among People Living with HIV in Low- and Middle-Income Countries (LMICs): A Systematic Review [Internet]. AIDS and Behavior. Springer; 2020 [cited 2020 Dec 10]. p. 1–32. Available from: https://link.springer.com/article/10.1007/s10461-020-03008-8

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.