Artikel

Merayakan Pride Month dan Mengingat Lagi Kekerasan Berbasis Gender yang Masih Menghantui Transgender Laki-laki

  • By Armadina Az Zahra
  • 14 June 2021
Foto Hanya Ilustrasi.

Jika kamu termasuk pengguna media sosial Twitter, mungkin kamu masih ingat bila di awal Juni 2021 lalu, Pride Month dan tagar #pride sempat menjadi trending teratas. Bersamaan dengan melejitnya tagar #pride, lini masa Twitter turut dipenuhi ilustrasi, gambar atau emoji bendera pelangi dan ucapan “Happy Pride!” atau “Happy Pride Month 2021!”. Sebagian dari kamu mungkin sudah memahami benar mengapa tagar pride dan berondongan ucapan “Happy Pride Month!” bertebaran di laman utama media sosial. Akan tetapi, sebagian lainnya mungkin masih bertanya-tanya tentang, apa dan mengapa tagar tersebut muncul memenuhi lini masa?

Sejarah panjang Pride Month yang dirayakan setiap bulan Juni berawal dari sebuah peristiwa kerusuhan yang menimpa komunitas LGBTQ 52 tahun lalu. Pada tanggal 28 Juli 1969, polisi New York, Amerika Serikat, tiba-tiba saja melakukan penggerebekan di sebuah klub gay bernama Stonewall Inn. Polisi New York saat itu beralasan penggerebekan dilakukan karena bar beroperasi tanpa izin minuman keras. Namun, polisi tidak hanya menggerebek klub melainkan juga menangkap individu-individu dari komunitas LGBTQ tanpa alasan jelas dan di tempat yang selama ini menjadi zona aman mereka. Komunitas LGBTQ melawan, sebab telah jengah dengan peristiwa-peristiwa serupa yang telah terjadi berulang, dan kali ini mereka enggan untuk kembali diintimidasi. Bentrokan antara komunitas LGBTQ dan polisi pun tidak dapat dihindarkan. Selama 6 hari penuh, komunitas LGBTQ di New York terus melakukan perlawanan hingga peristiwa tersebut dikenal sebagai Kerusuhan Stonewall. Kerusuhan Stonewall kemudian menjadi titik balik dalam gerakan dan perjuangan modern untuk hak-hak LGBTQ hingga akhirnya bulan Juni – bulan terjadinya Kerusuhan Stonewall- dirayakan dan diperingati sebagai Pride Month.

Ada banyak cara yang dilakukan untuk merayakan Pride Month. Sebelum pandemi COVID-19, jutaan orang berkumpul di berbagai titik, berparade dan menyatakan dukungannya pada komunitas LGBTQ. Namun, di tengah situasi pandemi COVID-19, parade seperti ini ditunda atau ditiadakan dan berganti dengan kampanye-kampanye virtual dan memberi dukungan pada hak-hak komunitas LGBTQ di seluruh belahan bumi. Itu mengapa #Pride dan “Happy Pride Month!” lengkap dengan bendera pelangi menjadi trending Twitter pada awal Juni 2021 lalu. Akan tetapi, Pride Month sepertinya tidak cukup bila hanya disambut dengan perasaan senang untuk merayakan. Sebab, Pride Month juga menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan kembali pelbagai urgensi permasalahan yang masih terus dihadapi komunitas LGBTQ. Salah satunya adalah permasalahan kekerasan berbasis gender yang masih saja menghantui teman-teman Transgender Laki-laki.

Transgender Laki-laki dan Kekerasan Berbasis Gender

Transgender adalah individu yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan jenis kelaminnya saat dilahirkan. Sementara itu, transeksual adalah ketika seorang transgender melakukan upaya medis untuk proses transisi jenis kelamin, baik dengan tindakan operasi atau terapi hormon. Dalam konteks ini, mungkin selama ini kamu lebih familier dengan Transgender Perempuan (Transpuan), transgender yang awalnya diidentifikasikan sebagai laki-laki karena lahir dengan alat kelamin laki-laki, namun kemudian ia merasa dirinya adalah seorang perempuan. Tapi bagaimana dengan Transgender Laki-Laki? Bisa jadi kamu sedikit lupa. Transgender Laki-Laki berkebalikan dari Transgender Perempuan, Transgender Laki-Laki adalah individu yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan dan kemudian mengidentifikasikan diri sebagai laki-laki.

Narasi mengenai Transgender Laki-Laki dan kelindan permasalahannya masih jarang muncul ke permukaan. Misalnya saja dalam permasalahan kekerasan berbasis gender. Seperti yang dilansir oleh Advocate.com, kasus kekerasan terhadap Transgender Laki-Laki lebih sedikit dibahas dan terungkap. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa Transgender Laki-Laki lebih berisiko mengalami kasus kekerasan. Di tahun 2011 sebuah studi yang dilakukan pada 1.005 transgender menunjukkan bahwa Transgender Laki-Laki lebih rentan mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, kekerasan seksual saat dewasa, kekerasan dalam pacaran, kekerasan dalam rumah tangga, dan penguntitan. 

Sebuah artikel menarik tentang permasalahan yang dialami Transgender Laki-Laki juga pernah ditulis oleh Abhipraya A.Muchtar di Magdalene.co. Di artikel tersebut, Abhipraya mengungkapkan bahwa setidaknya empat orang Transgender Laki-Laki yang pernah bercerita ke Lini Zurlia (Aktivis Perempuan) mengatakan bahwa mereka pernah mengalami kekerasan seksual. “Meskipun dia [trans laki-laki] maskulin, tapi masih memiliki kerentanan mengalami kekerasan dan diskriminasi karena alat kelaminnya seperti perempuan pada saat dilahirkan.”, kutipan dari pernyataan Lini Zurlia dalam artikel. Lebih jauh, dalam artikelnya, Abhipraya menuturkan bahwa, “Walaupun maskulin dan tertarik pada perempuan, trans laki-laki tidak memiliki phallus power. Karenanya, mereka juga menghadapi corrective rape atau pemerkosaan yang dilakukan untuk “menormalkan” trans laki-laki.”

Transgender Laki-Laki juga rentan terjebak dalam kesadaran semu dari sistem patriarki dan dituntut menjadi bagian dalam konstruksi sosial gender identitas laki-laki. Misalnya saja harus berpenampilan maskulin, memiliki penis, dan tertarik pada perempuan. Mereka -Transgender Laki-Laki- yang tidak memenuhi imaji ideal konstruksi sosial tersebut lantas menjadi rentan terhadap kekerasan, stigma, dan diskriminasi.

Memutus Mata Rantai Kekerasan Berbasis Gender terhadap Transgender Laki-Laki

Setiap orang -transgender atau bukan- memiliki identitas gender masing-masing. Namun, sebagian dari kita mungkin belum pernah memikirkan apakah identitas gender yang akhirnya diamini cocok dengan jenis kelamin saat lahir, dan cerita berbeda dialami oleh teman-teman transgender. Sebab, mereka telah melewati proses panjang perenungan, pencarian, dan pergumulan terkait identitas gender di dalam dirinya. Oleh karena itu cara terbaik untuk memahami apa yang telah dialami oleh masing-masing dari mereka adalah dengan memperkaya diri dengan pengetahuan mengenai realita hidup sebagai transgender dan mendengarkan cerita hidup dari teman-teman transgender, bukan menghakimi. Penghakiman berdasarkan kompas moral pribadi justru bisa memicu kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh teman-teman transgender dan tidak akan menyelesaikan akar permasalahan, termasuk bayang-bayang masalah kekerasan berbasis gender yang menghantui mereka.

Kekerasan berbasis gender yang dialami oleh Transgender Laki-Laki tidak bisa dibiarkan begitu saja dan masing-masing dari kita perlu memberi perhatian lebih untuk mengakhiri segala wujud kekerasan tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan kesadaran tentang keberadaan teman-teman Transgender Laki-Laki dan penanaman pengetahuan mengenai berbagai masalah kekerasan, stigma, dan diskriminasi yang mereka hadapi dalam kesehariannya. Trangender Laki-Laki -dan juga Transgender Perempuan- seharusnya diperlakukan dengan bermartabat dan setara, sama seperti manusia lainnya, dan dihormati sesuai dengan identitas gender mereka.

Refrensi:

https://www.advocate.com/commentary/2015/07/23/op-ed-trans-men-experience-far-more-violence-most-people-assume

https://www.glaad.org/transgender/transfaq

https://magdalene.co/story/berempati-dengan-trans-laki-laki-menyuarakan-yang-tak-terdengar

https://tirto.id/arti-pride-month-2021-yang-trending-kapan-bagaimana-sejarahnya-ggt6

https://transequality.org/issues/resources/frequently-asked-questions-about-transgender-people

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.