Artikel

Pergeseran Makna Terminologi Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL)

  • By Iman Abdurrakhman
  • 18 May 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Perlukah strategi khusus dalam penanggulangan HIV untuk LSL?

Bagi pegiat isu HIV istilah LSL atau Lelaki Seks dengan Lelaki atau Laki-laki yang berhubungan Seks dengan Laki-laki (LSL) tentu saja istilah yang sudah tidak asing lagi didengar. Dimana LSL merupakan salah satu populasi yang termasuk dalam populasi kunci untuk program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Salah satu kelompok populasi yang seringkali terpinggirkan di masyarakat ini, justru merupakan kunci bagi keberhasilan program penanggulangan HIV di Indonesia. 

Bagaimana tidak? Data estimasi populasi resiko tinggi tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan jumlah populasi LSL sebesar 754.310 orang secara nasional, memang jumlah yang tidak sedikit untuk sasaran program penanggulangan HIV. Angka tersebut bahkan lebih rendah jika dibandingkan jumlah estimasi tahun 2012 sebanyak 1.095.970. Beberapa pegiat isu Hak atas Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bahkan mengklaim bahwa jumlah tersebut masih cenderung sedikit jika dibandingkan jumlah sebenarnya. 

Lalu siapa sajakah sebenarnya yang masuk dalam kategori LSL ini? LSL diambil dari kata MSM (Men who have Sex with Men), sebuah kata yang diberikan oleh para ahli epidemiologi kesehatan di awal tahun 1990an yang menggambarkan sebuah konsep penamaan baru terhadap komunitas laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan jenis kelamin yang sama, yaitu laki-laki juga terlepas dari orientasi seksual (homoseksual) dan identitas seksual (gay). Dengan demikian, sejak era 1990an tersebut istilah LSL diperkenalkan untuk mencerminkan gagasan bahwa perilaku seksual lah yang menempatkan individu pada risiko infeksi HIV dan bukan identitas seksual. 

Perbedaan ini menjadi sangat penting dalam pemaknaan istilah LSL, mengingat para ahli ilmiah dan medis pada awalnya mengidentifikasi indentitas gay sebagai risiko untuk HIV dan AIDS. Hal yang justru seolah menciptakan karakter yang mengstigmatisasi populasi lesbian, gay, dan biseksual (LGB) dan upaya-upaya yang membingungkan untuk mencegah infeksi HIV. Padahal, selama ini program penanggulangan HIV yang menyasar perilaku LSL kebanyakan hanya ditujukan kepada individu yang menyatakan dirinya sebagai gay atau homoseksual laki-laki (lesbian merupakan identitas seksual bagi homoseksual perempuan). Sehingga hal ini disinyalir akan menambah stigmatisasi kepada mereka yang memiliki identitas seksual sebagai gay atau yang memiliki orientasi seksual sebagai homoseksual.  

Dan jika kita juga merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Drs. Alfred Kinsey dkk yang berjudul “Sexual Behaviour in the Human Males” pada tahun 1948 yang menghasilkan kontinum orientasi seksual. Dimana konsep psikologis dan filosofis menempatkan orientasi seksual dalam suatu spektrum heteroseksualitas ke homoseksualitas. Yang selanjutnya dikenal dengan istilah Skala Kinsey (Kinsey Scale).

Dalam spektrum ini diperlihatkan mulai dari skala 0 yang merupakan heteroseksual murni (eksklusif) sampai skala 6 yang merupakan homoseksual murni (eksklusif). Sementara diantara skala 1 sampai 5 memperlihatkan tingkat orientasi seksual setiap laki-laki yang berbeda-beda, tergantung dari seberapa sering seseorang atau laki-laki tersebut melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis tanpa melihat orientasi seksualnya. Bahkan spektrum/skala Kinsey juga menggambarkan skala “x” untuk mengakomodir individu yang tidak ada kontak atau reaksi sosio-seksual (aseksual)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram berikut:

 

 

 

  • 0: heteroseksual murni (eksklusif)
  • 1: Utamanya heteroseksual, sesekali homoseksual
  • 2: Utamanya heteroseksual, kadang-kadang homoseksual
  • 3: heteroseksual dan homoseksual seimbang/sama
  • 4: Utamanya homoseksual, kadang-kadang heteroseksual
  • 5: Utamanya homoseksual, sesekali heteroseksual
  • 6: Homoseksual murni (eksklusif)
  • X: tidak ada kontak/reaksi sosio-seksual (aseksual)

 

Merujuk pada hasil-hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada pergeseran makna dari LSL, yang semula merupakan “perilaku seksual” menjadi “indentitas seksual”. Padahal LSL adalah istilah yang digunakan dalam mengacu pada perilaku seksual dan bukan orientasi seksual.

Dengan demikian, program penanggulangan HIV yang menyasar kelompok LSL, seharusnya tidak hanya menyasar pada individu yang mengidentifikasi dirinya sebagai gay saja, tetapi juga menyasar semua laki-laki yang “pernah” melakukan hubungan seksual dengan sesama laki-laki meskipun mereka tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai gay. Meskipun hal tersebut akan berdampak pada adanya kebutuhan untuk melakukan identifikasi dan strategi program penunggalangan HIV dan AIDS di Indonesia, tetapi akan berdampak besar pada program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya

 

Referensi:

  1. Young RM, Meyer IH (July 2005). “The trouble with “MSM” and “WSW”: erasure of the sexual-minority person in public health discourse”. Am J Public Health 95 (7): 1144–1149
  2. Sexual Behaviour in The Human Male, (Kinsey, Pomeroy, & Martin, 1948, p. 639)