Artikel / Penelitian

Sulitnya “Di Rumah Saja”

  • By Mervin Hansel Aditama
  • 22 January 2021
Foto hanya ilustrasi. Doc: Open Source

Kasus COVID-19 di Indonesia kian meningkat hingga pada awal tahun ini dapat mencapai lebih dari 10,000 kasus per harinya. Pemerintah beserta Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 pun tak lelah untuk menggembar-gemborkan imbauan untuk menerapkan protokol kesehatan. Salah satu yang paling santer dibunyikan ialah menjaga jarak fisik dan sosial. Caranya? Dengan tetap berdiam di rumah guna mengurangi penularan virus.  Sebagian dari kita tentunya mengalami kesulitan dalam melakukan pembatasan sosial, mengingat banyaknya upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang memerlukan interaksi sosial. Mulai dari bekerja, berbelanja, hingga bersosialisasi menjaga keakraban dengan keluarga, teman dan lingkungan sekitar. Tidak bisa dipungkiri bila kesulitan ini memunculkan mereka yang semata-mata mengabaikan protokol kesehatan hanya untuk keuntugan pribadi. Orang-orang ini tetap mengadakan pesta dan berkumpul di tempat-tempat umum. Walaupun sangat sulit untuk diterima terlebih lagi dibenarkan, namun perilaku tersebut ternyata dapat dijelaskan dalam perspektif yang menarik.

Seorang jurnalis mencoba mengulas pandangan beberapa psikolog terkait perilaku-perilaku yang dianggap abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya adalah, mengapa seseorang sulit untuk tetap tinggal di rumah selama pandemi? Alasan pertama adalah individu-individu ini kurang tanggap terhadap pandemi. Kurang tanggap sendiri berarti mereka merasa tidak akan terinfeksi dan tidak akan sakit walau berkeliaran di tempat umum. Kedua ialah mereka yang mengabaikan protokol kesehatan sebagai sarana untuk kembali memegang kendali. Karena merasa tak berdaya akan situasi pandemi, individu-individu ini memilih untuk “membangkang” sebagai cara memegang kendali. Alasan ketiga yang dipandang oleh psikolog-psikolog tersebut ialah beberapa orang memandang COVID-19 bukan sebagai masalah mereka. Mereka yang tidak atau belum merasakan dampak pandemi akan cenderung meremehkan keparahan situasi dan lebih enggan untuk menerapkan protokol kesehatan. 

Alasan keempat, dikatakan bahwa banyak orang sudah “mati rasa” akan COVID-19. “Mati rasa” yang dimaksud bukanlah secara harafiah, melainkan sudah terlalu banyak Informasi terkait COVID-19 yang diterima, sehingga menciptakan “infodemi” yang justru dapat membuat desensitisasi isu pada banyak orang. Kelima ialah cara pikir individualis. Kebebasan individu memang dipandang berharga saat ini, namun pada situasi pandemi dapat berakibat fatal bagi mereka yang rentan, sehingga banyak imbauan kesehatan yang mengatakan menjaga jarak bukanlah untuk diri sendiri tetapi untuk menjaga orang lain. Rasa kesepian menjadi alasan terakhir yang dipandang psikolog sebagai hambatan untuk “di rumah saja”. Sebagai makhluk sosial, manusia mendambakan komunikasi dan interaksi fisik sehingga berkurangnya hal tersebut di masa pandemi sewajarnya akan membuat banyak orang terbebani. 

Alasan-alasan di atas pastinya tidak seluruhnya relevan bagi tiap orang di bumi ini, karena banyak dari mereka yang tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan interaksi fisik dengan orang lain untuk tetap menjalani kesehariannya. Oleh karena itu, para ahli membagikan beberapa saran untuk mengajak orang untuk menjaga jarak dan tetap tinggal di rumah. Antara lain, selalu mencoba untuk mengingat kepentingan serta kebutuhan orang bisa jadi sangat berbeda, bersikap empatik, dan tidak mengkritik. Selain itu, kita juga disarankan untuk mempertimbangkan relasi dengan orang yang kita ajak berkomunikasi. Sebab, penyampaian informasi pandemi membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk setiap orang, terutama jika dilihat dari kelompok umur. Memang sulit bagi seluruh pihak masyarakat untuk menangani virus ini, namun  kita semua bisa memainkan bagian untuk saling menjaga dan melindungi.

 

Referensi:

Andrew, Scottie. 2020. Some people just won’t stay home during a pandemic. Six reasons may explain why. Atlanta: CNN Health. (24 Maret 2020).

Dwiputri, Agustine. 2021. Saling Menyelamatkan. Jakarta: Kompas Harian. (16 Januari 2021).

Paluszek, M. M., Landry, C. A., Taylor, S., & Asmundson., G. J. G. (2020). The Psychological Sequelae of the COVID-19 Pandemic: Psychological Processes, Current Research Ventures, and Preparing for a Postpandemic. The Behavior Therapist, 158-165.

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.