Artikel

Women in Research - International Women's Day 2022

  • By Fikri Haidar
  • 08 March 2022
Women in Research - International Women's Day 2022

Sebagai pusat penelitian, keterlibatan perempuan dalam proses dan pengelolaan riset adalah upaya memperkecil ketimpanga gender dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kajian HIV dan AIDS adalah kajian kompleks yang membutuhkan beragam perspektif untuk memahami, menelusuri, dan menawarkan solusi. Posisi dan keterlibatan perempuan dalam riset, baik sebagai peneliti hingga manajer, mampu memberikan perspektif yang sensitif atas relasi gender serta keberpihakan kepada perempuan. 

PUI-PT Pusat Penelitian HIV AIDS PUK2IS UAJ bangga memiliki rekan peneliti perempuan dalam berbagai tingkatan. Dari posisi strategis hingga peneliti muda. Dengarkan cerita mereka, perempuan dalam penelitian.


Evi Sukmangingrum
Kepala PUI-PT Pusat Penelitian HIV AIDS PUK2IS UAJ periode 2015-2022

One in three researchers is a woman.
Satu dari tiga peneliti adalah perempuan (UNESCO, 2021)

Data global tersebut menunjukkan bahwa peluang yang diberikan untuk perempuan berkarya dalam dunia riset itu sudah terbuka dibandingkan puluhan tahun sebelumnya, namun kesenjangan tersebut masih memperlihatkan ketidaksetaraan yang terjadi pada perempuan. Sepanjang sejarah, perempuan adalah aktor yang punya peran penting dalam menangani aspek-aspek utama dari masalah dunia, mulai dari kemiskinan, kesehatan, dan perubahan perilaku masyarakat untuk perbaikan lingkungan. Di masyarakat, perempuan jugalah yang sebenarnya mampu memprediksi keberhasilan dalam promosi program kesehatan, pendidikan, dan komponen lainnya dalam peranan mereka sebagai ibu, pelajar, maupun keanggotaan kemasyarakatan lainnya. 

Ketidaksetaraan gender menciptakan penghalang besar yang perlu diatasi oleh perempuan yang ingin berkontribusi secara efektif untuk pembangunan, tidak terkecuali di dunia riset dan akademik. Perempuan belum mendapatkan representasi yang setara dengan laki-laki di banyak komponen, seperti  level Pendidikan, jumlah publikasi, dan posisi mereka di jenjang akademik. 

Penting untuk mengejar kesenjangan ini dan diperlukan komitmen bersama, termasuk membangun gender equality plans yang menjadi agenda besar dalam seluruh kebijakan pemerintah di segala sektor.

Made Diah Negara
Peneliti dalam Penelitian Kesehatan Jiwa untuk Puskesmas


Jika melihat perbandingan jumlah peneliti perempuan dan laki-laki di lembaga yang saya naungi, lebih banyak peneliti perempuan. Namun secara umum, jumlah peneliti perempuan lebih sedikit dengan peneliti laki-laki. Persentase peneliti perempuan hanya ada 31% (UNESCO Institute for Statistic, 2015). Menjadi peneliti memang bukan pekerjaan yang lazim buat perempuan. Berangkat dari refleksi saya pribadi, menjadi peneliti bukanlah aspirasi karir yang dibayangkan orang tua. Ada kekhawatiran terkait persoalan berumah tangga. Selain itu ada anggapan perempuan yang pintar dan mandiri sulit untuk mendapatkan pasangan. Selain dukungan keluarga, hal lainnya yang turut menjadi tantangan dalam dunia riset adalah jam kerja yang panjang sehingga sulit bagi perempuan untuk mencari keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadinya.

Saya berharap peneliti perempuan bisa didorong ke dalam dunia riset. Salah satu cara yang saya pikirkan adalah dengan meminimalisir stigma pekerjaan perempuan dalam ranah domestik. Perempuan harus melihat menjadi peneliti adalah sebagai kesempatan, sebuah aspirasi karier. 

Amalia Puri Handayani
Peneliti terkait Kekerasan terhadap Perempuan, dan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas

Turun lapangan jadi pengalaman yang campur aduk. Satu sisi, walaupun selalu deg-degan ngobrol sama orang yang baru kenalan, aku sering merasa ngobrolnya menyenangkan. Mendengarkan cerita-cerita mereka, bagaimana mereka memaknai identitasnya, perannya, dan situasi di sekeliling mereka. Kalau pengumpulan datanya tentang kekerasan, apalagi kekerasan terhadap perempuan atau ragam kelompok minoritas, aku baru tahu pentingnya punya waktu untuk memproses cerita-cerita itu. Aku seperti terus-menerus terpapar bagaimana patriarki bekerja secara sistematis, terstruktur, dan diamini oleh banyak orang. Pada saat yang sama, aku sering terinspirasi melihat daya juang dan bertahan perempuan dan ragam kelompok minioritas

Di sisi lain, kalau turun lapangan, aku seringnya ekstra hati-hati. Pernah beberapa kali, aku mendapat mendapat omongan yang melecehkan dari narasumber atau orang yang mendampingi selama di daerah itu. Pernah juga harus pura-pura pakai cincin kawin dan mengaku-ngaku sudah nikah untuk menghindari pelecehan lainnya. Tantangan lainnya adalah mendengar omongan narasumber yang seksis. Ampun.

Menjadi perempuan yang berperan sebagai peneliti rasanya penting untuk sadar akan privilese di dunia akademis: tinggal di ibukota, berbahasa Indonesia, menjajaki bangku pendidikan, berupaya keras memahami bahasa Inggris, mendapat akses internet, mendapat mentor yang lebih memberikan bahan bacaan. Pendidikan memang belum membebaskan; masih bergantung... bergantung privilese. 

Dengan menjadi peneliti, aku melihat bagaimana pengetahuan diproduksi, siapa yang memproduksi pengetahuan, dan buat siapa pengetahuan itu. Sambil jalan, aku masih belajar untuk berani mengambil ruang di antara pembicara yang cas-cis-cus tapi pandangannya merendahkan perempuan. Perlu berbagi, bahkan mendorong teman-teman, untuk mengisi ruang-ruang publik. Kita akan sama-sama terus berbagi, bahkan mungkin mengulang hal-hal yang itu-itu lagi terus-menerus. Kita juga sama-sama percaya bahwa perubahan akan terus terjadi, perempuan dan ragam minoritas gender semakin terlatih agensinya. Pengetahuan dari kita akan terus menjalar dan menggilas patriarki. Biar suatu saat nanti, aku bisa kirim surat ke Karlina Supelli, “Akhirnya, saat ini datang juga.”

Nidia Muryani
Asisten Peneliti dalam Studi Pelaksanaan Rehabilitasi Narkotika di Lapas

Menurut ku, secara fisik ataupun gelar pendidikan masih terhitung junior, sepertinya kadang kurang cepat ditanggapi serius saat berhadapan dengan pihak eksternal. Di sisi lain, aku sendiri masih suka ngerasa nggak pede saat ada kesempatan untuk sekedar kasih opini dalam diskusi internal penelitian atau ambil kesempatan dalam kegiatan yang sebetulnya bagus untuk pengembangan diri. 
Tapi, aku merasa lebih fleksibel saat menggunakan aplikasi digital yang diperlukan untuk aktivitas penelitian (apalagi yang harus dilakukan secara daring), entah aplikasi yang sudah terbiasa digunakan maupun jika harus belajar menggunakan aplikasi baru. 

Aku berharap peneliti junior perempuan seperti ku punya semangat untuk belajar, apalagi dari aneka pengalaman yang kadang rasanya bikin down. Juga terus berani ambil beragam kesempatan atau eksplorasi hal baru yang ada di area penelitian. Adanya aneka medsos juga bisa kita gunain bukan cuman untuk tau film series atau tempat makan yang trending, tapi bisa dimanfaatin untuk keep up to date dengan artikel seputar bidang penelitian yang diminati. Biasanya aku mulai dari yang ringan/populer sampai yang ilmiah supaya gak terlalu kaget.