Artikel

Addressing the Gaps for Mental Health Service for People Living with HIV

  • By Evi Sukmaningrum
  • 04 August 2020
None

[Seri Reportase AIDS Conference 2020]

Selalu menarik untuk membicarakan isu kesehatan pada individu dengan HIV-AIDS (ODHA). Isu ini selalu digaungkan, namun implementasinya kerap dibelakangkan dan menjadi prioritas yang bahkan terlewatkan. Pada sesi dalam International AIDS Conference 2020 kali ini tervalidasi pula bagaimana sejak awal epidemi HIV-AIDS, kesehatan jiwa (mental health) telah menjadi agenda ‘rutin’ yang masuk dalam daftar masalah yang diabaikan dalam perawatan orang yang hidup dengan HIV. Sesi ini akan menjadi kesempatan bagi para ahli kesehatan jiwa baik secara global, maupun mereka yang berkiprah di isu HIV untuk memahami ruang lingkup dan besarnya masalah kesehatan jiwa dan HIV, dan mempertimbangkan solusi untuk mengintegrasikan perawatan mereka.

Sesi ini membahas pentingnya untuk memfokuskan pada pada kesehatan jiwa dan perilaku dalam konteks pencegahan dan perawatan HIV. Yang pertama adalah karena terdapat kesenjangan yang sangat signifikan yang terjadi pada kaskade HIV. Data yang diperoleh dari berbagai riset yang telah dipublikasikan sejak tahun 2005, kesenjangan yang terjadi dalam perawatan kesehatan jiwa adalah: (1) Sebanyak 67 persen individu yang mengalami gangguan kesehatan jiwa tidak mendapatkan treatment atau perawatan dengan baik; (2) Sebanyak 30-50% yang dirujuk dari layanan primer ke klinik kesehatan jiwa, ternyata tidak melakukan first appointment; (3) Sebanyak dua pertiga dari dokter di layanan kesehatan (N=6660) melaporkan bahwa mereka tidak bisa mengakses data kesehatan jiwa untuk pasien rawat jalan. Kesenjangan dalam perawatan kesehatan jiwa terjadi karena beberapa faktor penghambat antara lain: keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk layanan kesehatan jiwa isu asuransi, dan tidak adanya perencaanaan kesehatan yang menyeluruh (hanya ada rencana kesehatan fisik saja, misalnya, namun tidak melibatkan aspek kesehatan psikologis), dan terlebih adalah masalah stigma.

Aspek penting yang kedua adalah bagaimana melihat masalah kesehatan mental menjadi masalah dan gangguan yang memengaruhi kaskade HIV di setiap kontinumnya, sebagaimana yang bisa dilihat pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Permasalahan psikologis dan perilaku di setiap tahapan HIV continuum of care (Bemelmans, et al., (2012)

Bila melihat gambar 1 tersebut, maka proses skrining dan intervensi untuk setiap tahapan menjadi sebuah kesempatan baik yang dapat berkontribusi dalam keberhasilan di setiap tahapan tersebut.

Aspek ketiga adalah pentingnya melihat prioritas kebutuhan dalam meningkatkan kaskade. Dalam delphy survey yang dilakukan oleh AIDS Education and Training Center Program (AETC) di US region II (New York, New Jersey, Puerto Rico, US Virgin Islands), diperoleh hasil bahwa kebanyakan narasumber kunci memberikan dua prioritas tertinggi terkait dengan kebutuhan yang paling penting untuk diutamakan dalam meningkatkan kaskade perawatan, yaitu: (1) pentingnya mempertahankan dan melibatkan kembali pasien dalam sistem perawatan; dan (2) integrasi layanan kesehatan jiwa dan layanan adiksi. Dari hasil delphy survey tersebut, sejumlah rekomendasi ditawarkan untuk menguatkan layanan kesehatan jiwa dengan mengintegrasikan HIV care continuum dan sekaligus behavioural health continuum yang dapat dilihat melalui gambar 2 berikut.

 

Gambar 2. New Jersey and Behavioral health Integration Project

Aspek yang terakhir adalah dengan melihat bahwa akses kesehatan secara menyeluruh merupakan hak asasi setiap orang. Merujuk pada aspek ini, maka pembicara juga menekankan bahwa selain fokus pada capaian 90-90-90 adalah hal penting, akan tetapi kita tetap harus ‘mengingat’ dan memberikan perhatian pada kelompok 10 % yang tidak melakukan tes HIV, 10% yang belum masuk ke pengobatan, dan 10% yang belum mencapai supresi viral load.

Take home message yang bisa dilanjutkan setelah konferensi ini adalah: (1) Kaskade pengobatan perawatan HIV tidak akan tercapai tanpa melibatkan isu kesehatan jiwa di dalamnya; (2) Layanan kesehatan mental dalam setiap kontinum pengobatan dan perawatan hanya dapat diselenggarakan bila pemerintah mau melihat dan memperbaiki aspek SDM, struktur, dan sistem layanan kesehatan,(3) Angka 90-90-90 tidak akan pernah tercapai bila tidak pernah ada prioritas untuk memperhatikan kontinum kesehatan jiwa (4) Tetap memperhatikan kelompok 10-10-10 yang belum ada dalam jangkauan 90-90-90.