Peningkatan Kapasitas

Diskusi Kultural: Mimpi masyarakat Sipil dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV

  • By Fikri Haidar
  • 23 February 2022
Diskusi Kultural: Perspektif Lain untuk Penanggulangan Napza dan HIV di Indonesia

Prinsip utama dalam penanggulangan Napza dan HIV, yaitu fungsi dan pemberdayaan organisasi masyarakat sipil. Organisasi masyarakat sipil menjadi kolektif pertama yang menyuarakan kebutuhan penanggulangan yang sistematis dan humanis. 

Organisasi masyarakat berupaya menyampaikan suara msayarakat yang didampingi kepada pihak berwenang sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Organisasi masyarakat mendorong kebijakan yang inklusif, implementasi yang humanis, dan mendorong transparansi pemerintah dan pemangku kebijakan. Di sisi lain juga memberikan layanan informasi, kesehatan, dan hukum untuk korban dan pengguna, serta advokasi sebagai tindakan preventif. 

Memahami seberapa penting organisasi masyarakat berperan dalam penanggulangan Napza dan HIV harus disampaikan sebagai dasar untuk memahami posisinya dalam penanganggulangan. Maka dari itu, Diskusi Kultural pertama pada 23 Februari membahas tentang Mimpi Masyarakat Sipil dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV. Dipandu oleh Octavery Kamil, ia berpengalaman dalam penanggulangan Napza dan HIV berbasis harm reduction dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. 

Diskusi meliputi pembahasan tentang sejarah partisipasi organisasi masyarakat sipil sejak 1990-an sampai sekarang. Dimulai dari penerimaan program AIDS pada tahun 1990-an. Organisasi masyarakat sipil menjadi pionir advokasi dan penjangkauan kelompok populasi kunci HIV dan AIDS, termasuk pengguna Napza di Indonesia. Dukungan finansial menjadi faktor utama organisasi masyarakat berkembang hingga tahun 2010. Organisasi masyarakat mampu memberikan layanan dan penampingan untuk korban dan penyintas. Semangat advokasi tinggi untuk memastikan suara masyarakat tertuang dalam kebijakan dan implementasi program yang optimal. 

Organisasi masyarakat yang fungsional, berorientasi kepada masyarakat, dan aktif berpartisipasi dalam pengusulan kebijakan adalah mimpi dari penanggulangan Napza dan HIV. Awal upaya mencipatkan sistem penanggulangan Napza dan HIV yang humanis diawali dengan partisipasi aktif organisasi masyarakat dalam menyuarakan kebutuhan kelompok di lapangan. 

Perjalanan panjang perkembangan menghasilkan organisasi masyarakat sipil yang mapan secara struktural. Organisasi masyarakat memiliki identitas yang tetap dengan kajian dan fokus yang khusus. Sayangnya, kemapanan ini megurangi fleksibilitas ormas dalam merespons dan menanggapi keadaan darurat yang terjadi kepada masyarakat. Birokrasi dan urusan keuangan menghambat dan mengurangi semangat advokasi. 

Masalah tersebut yang kini sedang diangkat oleh Diskusi Kultural dan diharapkan semakin banyak orang yang membahas idealnya sebuah organisasi masyarakat untuk penanggulangan Napza dan HIV. Beberapa peserta menyebutkan kepemimpinan yang tegas dan tujuan yang jelas menjadi faktor utama keberlanjutan suatu organisasi masyarakat dalam menjalankan program penanggulangan HIV dan Napza. Lainnya mengatakan semangat advokasi dari semua elemen organisasi perlu dikembalikan sebagai sumber daya utama menjalankan program penanggulangan HIV dan Napza.


Seri Diskusi Kultural: Perspektif Lain untuk Penanggulangan Napza dan HIV di Indonesia menjadi ruang terbuka untuk setiap perwakilan organisasi masyarakat memberikan suaranya atas mimpi-mimpi pencegahan dan pengendalian HIV dan Napza di Indonesia.

Dapatkan lembar materi untuk Diskusi Kultural: Mimpi masyarakat sipil dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV di sini.