Peningkatan Kapasitas

Diskusi Kultural: Volunterisme atau Profesionalisme untuk Pengembangan dan Implementasi Program

  • By Fikri Haidar
  • 01 June 2022
None

Kerja sosial terkait pendampingan kelompok marjinal dalam suatu organisasi masyarakat dan komunitas pendamping lekat dengan kerelawanan. Anggota organisasi dan komunitas bekerja secara sukarela untuk membantu penyintas HIV. Setidaknya hal tersebut adalah gambaran umum ketika berbicara tentang bekerja di lembaga non-profit yang biasa menaungi program penanggulangan HIV di Indonesia. Dengan perkembangan lembaga non-profit yang semakin terstruktur dan cakupan program penanggulangan semakin luas, Ade Aulia mengundang diskusi tentang kerelawanan dan profesionalitas dalam tubuh lembaga non-profit.

Diskusi Kultural ke-7 pada Rabu, 25 Mei 2022 membahas Antara Volunterisma (atau Kerelawanan) dan Profesionalisme: Mana Idealnya untuk Pengembangan dan Implementasi Program Penanggulangan HIV di Indonesia? Diskusi diadakan secara daring dan dihadiri oleh berbagai organisasi masyarakat, komunitas pendamping, penyintas HIV dan Napza, serta peneliti isu HIV dari berbagai wilayah di Indonesia. 

Secara historis, epidemi HIV/AIDS memberikan stigma dan diskriminasi kepada penyintas HIV dan AIDS. Menempatkan tenaga profesional memberikan rasa takut kepada orang dengan HIV untuk membuka status HIV dan mengakses layanan kesehatan. Di sisi lain, tenaga relawan yang terlatih dengan baik dapat menawarkan dukungan dengan memberikan rasa aman, nyaman, dan familiaritas karena relawan datang dari lingkungan yang sama, latar belakang serupa, hingga status kesehatan yang serupa. Pendampingan kepada penyintas HIV dapat berjalan dengan baik, selagi tetap mengadvokasikan kebutuhan orang dengan HIV kepada pengambil kebijakan. 

Kerelawanan profesional adalah istilah yang ditawarkan oleh Ade Aulia untuk lembaga non-profit dapat terus berkembang dan mengimplementasikan program penanggulangan HIV. Studi yang dilakukan oleh Gregory & Howard (2009) menunjukkan bahwa relawan profesional dalam lembaga non-profit dan lembaga swadaya masyarakat memungkinkan perencanaan anggaran dan sumber daya yang lebih efektif. Visi dan misi lembaga dapat dikembangkan dengan realistis sesuai dengan populasi kunci dan diimplementasikan dengan tepat. Lembaga punya kesempatan untuk memgembangkan strategi penggalangan dana selagi mempertahankan reputasi sosial mereka. Kerelawanan profesional meningkatkan peluang mencapai visi mereka lebih tinggi. 

Tentu saja, kerelawanan profesional juga memiliki dampak terhadap persepsi masyarakat terhadap lembaga non-profit yang beralih ke model profesional. Peningkatan jumlah profesional di sektor non-pemerintah juga dapat mendorong ketergantungan pada sumber pendanaan eksternal, yang dapat membatasi fleksibilitas, independensi, dan kemampuan cepat tanggap darurat.


Diskusi Kultural: Mimpi masyarakat sipil dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV menjadi ruang terbuka untuk setiap perwakilan organisasi masyarakat memberikan suaranya atas mimpi-mimpi pencegahan dan pengendalian HIV dan Napza di Indonesia.

Dapatkan lembar materi untuk Antara Volunterisme dan Profesionalisme: Mana Idealnya untuk Pengembangan dan Implementasi Program? oleh Ade Aulia untuk program harm reduction di sini.