Penelitian

Jalan-jalan Etnografi: Workshop Metode Pelatihan Etnografi Dasar

  • By Benjamin Hegarty , Amalia Puri Handayani , Fikri Haidar
  • 30 May 2022
Workshop Metode Pembelajaran Etnografi Indonesia

"Ketulusan; alternatif; subjek; masyarakat; asyik; observasi; budaya; metode; belajar; penasaran, kemasyarakatan; manusia; budaya dan perilaku”.

Di atas adalah kumpulan dari satu kata yang disebutkan para peserta workshop begitu mendengar etnografi pada Kamis, 19 Mei 2022. Begitu tiba di Aula D Unika Atma Jaya Jakarta, peserta duduk di kursi yang sudah disediakan. Posisi kursi diatur melingkar tanpa ada meja. Semua peserta bisa saling berhadapan. Posisi ini membuat semuanya berada sejajar dan terbuka. Terbuka dan kolaboratif memang konsep yang ingin didiskusikan oleh Benjamin Hegarty; antropolog gender dan seksualitas dengan lokasi penelitian utama di Indonesia dan Amalia Puri Handayani; peneliti PPH UAJ sebagai kolaborator dalam workshop kali ini. Bersama dengan PPH UAJ, Jaringan Etnografi Terbuka mengadakan Workshop Metode Pelatihan Dasar. Acara ini juga sekaligus acara tatap muka untuk umum pertama oleh PPH UAJ sejak 2020.

"Latihan cara perkenalan yang kita lakukan sekarang sebenarnya masuk dalam latihan etnografi. Etnografi menjadi cara untuk mendengarkan orang lain dan menulis tentang pengalaman dia”, jelas Ben, panggilan akrab Benjamin Hegarty. Workshop ini bukan hanya bicara tentang teori, melainkan juga langsung mempraktikkannya.

Melalui sesi awal yang membiarkan saling berkenalan dengan peserta lain yang duduk di sebelahnya, kami semu mengetahui masing-masing aktivitas peserta serta latar belakang mereka yang beragam. Setelah sesi perkenalan, Ben dan Amalia mengajak peserta untuk melakukan fieldwalk – terjemahan bebasnya jalan-jalan etnografi. Salah satu cara kami memperkenalkan bagaimana rasanya penelitian di lapangan. Pertanyaan selanjutnya, "Dalam etnografi, lapangan itu apa?" Lapangan bisa jadi tempat, relasi, kelompok, juga bisa lapangan di bidang ilmu juga. Etnografi bukan hanya metode, juga cara menulis. Cara penulisan sangat penting untuk kita menyampaikan pengalaman kompleks dari suatu kelompok masyarakat. Etnografi bukan hanya menceritakan pengalaman sendiri dengan orang lain, tetapi juga tentang pengalaman yang mungkin belum dilihat dari sudut pandangan lain. Etnografi juga sudah berkembang. Ia tidak hanya berupa tulisan; ada film, fotografi, dan media sosial.

Workshop ini berangkat dari pertanyaan-pertanyaan reflektif selama melakukan penelitian ketika pandemi berlangsung. Penelitian ini untuk apa? Apa gunanya? Siapa yang menerima manfaatnya? Siapa yang bisa melakukan penelitian? Siapa yang bisa menjadi perwakilan dari komunitas? Apakah etnografi bisa menjadi pintu masuk untuk bisa melakukan penelitian yang lebih eksperimental dan kreatif dalam bidang ilmu lain, seperti kesehatan masyarakat, kedokteran, dan lain-lain? Siapa yang memiliki hasil dari data? Relasi apa yang bisa dan perlu dibangun dalam melakukan penelitian? Pertanyaan tersebut diajukan di awal untuk bisa menjadi pemicu eksplorasi ketika melakukan etnografi jalan-jalan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berjalan-jalan di sekitar kampus untuk menentukan satu "objek" yang sudah disepakati bersama. Dalam pemilihan, peserta diminta untuk mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu pancaindera, politik, ekonomi, materi, dan sejarah. Objek itu bisa direkam atau difoto. Kemudian, ketika kembali, mereka diminta untuk menunjukkan objek masing-masing.

Ben dan Amalia menunjukkan beberapa pertanyaan lanjutan yang menjadi bahan diskusi setiap kelompok terkait objek yang ditemukan.
1. Pancaindera
- Apa rasa objek itu?
- Apa yang dialami ketika menyentuh, mencium/membaui, melihat, mengecap, mendengar?
- Apakah orang lain dengan gender, seksualitas, etnisitas, ras, kelas sosial, agama, dan abilitas mengalami hal yang sama?

2. Politik 
- Siapa saja institusi yang terlibat dalam mengatur objek ini?
- Siapa saja yang berkepentingan?
- Apakah ada konflik kepentingan antaraktor tersebut?
- Solidaritas apa yang terbangun di sekitar objek?


3. Ekonomi
- Siapa yang memproduksi, memasarkan, menjual, membeli, dan mengkonsumsi objek ini?
- Di mana?
- Bagaimana objek ini diproduksi, didistribusi, dan dikonsumsi?
- Bagaimana objek ini terkait dengan ekonomi yang lebih luas (nasional/global)?

4. Materi
- Terbuat dari apa?
- Bahannya dibuat dari mana?
- Siapa yang membuatnya?
- Dengan cara apa objek ini dipakai?
- Sampai kapan objek ini bisa digunakan? Dan, apa yang terjadi setelah itu?

5. Sejarah
- Apa ingatan pertama yang muncul tentang objek ini?
- Ada kejadian lain apa saat itu?
- Sumber informasi apa yang sudah tersedia tentang objek ini?
- Siapa saja yang terkait dengan objek ini (pengguna, penemu, dan lain-lain)?

Peserta mempresentasikan lagi hasil diskusinya. Tiap presentasi dari peserta membuat kami belajar tentang bagaimana posisi peneliti ketika turun lapangan. Peneliti juga menjadi bagian dari proses penelitian; tidak semerta-merta berusaha untuk memisahkan diri darinya. Dengan melakukan aktivitas ini, peserta semakin paham tentang bagaimana pengetahuan tercipta secara reflektif, bagaimana posisi mereka dapat mempengaruhi apa yang mereka tahu, pertanyaan apa yang diajukan, apa yang menjadi perhatian dan apa yang luput. Jadi, dalam workshop kali ini, kami melihat bagaimana penelitian bisa membangun relasi dengan inspirasi dari Dumit.


Tulisan ini terbit pertama kali di blog pribadi Benjamin Hegarty. Baca artikel sumber di sini dalam bahasa Inggris.