Peningkatan Kapasitas

Lecture Series PPH: HIV dan Populasi Spesifik, Mengupas Permasalahan Kelompok Kunci HIV di Indonesia

  • By Armadina Az Zahra
  • 07 September 2019
None

Ada suasana berbeda ketika pertama melangkahkan kaki di Ruang Seminar K2.201, Kampus Semanggi UNIKA Atma Jaya pada Jumat (6/9) lalu. Puluhan kursi empuk di dalam ruangan hampir terisi penuh. Menariknya, mereka yang duduk di sana bukan hanya wajah-wajah yang biasa terlihat di sekitaran lingkungan Kampus UNIKA Atma Jaya. Hampir setengahnya merupakan wajah-wajah baru. Perempuan dan laki-laki paruh baya duduk bersisian dengan teman-teman transpuan, perwakilan dari Organisasi Masyarakat Setempat (OMS), aktivis penggiat isu HIV AIDS, mahasiswa dan civitas academica UNIKA Atma Jaya lainnya. Datang dari berbagai latar belakang berbeda, mereka yang memenuhi ruang seminar membawa tujuan serupa, mendengarkan pemaparan materi dan mengikuti diskusi bertajuk Lecture Series “HIV dan Populasi Spesifik” yang diinisiasi oleh Pusat Penelitian HIV AIDS UNIKA Atma Jaya (PPH UAJ).

Dipilihnya “HIV dan Populasi Spesifik” sebagai tema utama Learning Series mempunyai latar belakang kuat. Dalam hal ini, “populasi spesifik” merujuk pada “populasi kunci” dalam HIV. Populasi kunci adalah kelompok masyarakat yang rentan terhadap penularan HIV. Mereka adalah kelompok-kelompok populasi tertentu yang memiliki perilaku berisiko untuk tertular HIV. Di antaranya adalah kelompok penyalahguna NAPZA suntik dan kelompok yang tertular melalui transmisi seksual semisal Pekerja Seks (PS), Lelaki seks dengan Lelaki (LSL), dan waria atau transpuan. Di Indonesia, penyebaran HIV masih terkonsentrasi kepada kelompok ini, sehingga program penanggulangan HIV di Indonesia lebih menyasar kepada mereka. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memandang negatif terhadap perilaku berisiko populasi kunci. Dampaknya, stigma dan diskriminasi pada kelompok ini masih sangat kuat.

Label amoral, menyalahi kodrat, berdosa, hingga tudingan-tudingan pelanggaran normal dan nilai sosial membuat sebagian besar populasi kunci cukup sulit dijangkau. Mereka cenderung menarik diri dan menyimpan cerita rapat-rapat karena ketakutan terjadinya persekusi yang selalu menghantui. Pemahaman lebih dalam, informasi akan karakteristik, penggalian faktor risiko masing-masing kelompok dan pengupasan dinamika problematika penyebaran HIV pada kelompok kunci menjadi kebutuhan penting. Ini berlaku tidak hanya kepada para praktisi, aktivis, maupun peneliti di bidang HIV, tapi juga bagi masyarakat umum. Dengan mengetahui seluk beluk dinamika penyebaran HIV pada populasi kunci, harapan terkikisnya stigma dan diskriminasi terhadap populasi kunci akan selalu ada.

Keberagaman peserta yang datang dalam Lecture Series kali ini pun membawa angin segar bagi penyebaran informasi terkait populasi kunci HIV dan berperan besar dalam memberi warna yang unik pada sesi diskusi yang berlangsung usai materi dituturkan. Dua di antara sekian banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta pun terus teringang. Kedua pertanyaan itu berasal dari dua orang perempuan dari dua latar belakang berbeda. Satu orang petugas penyuluh HIV di lingkungan Rukun Tetangga/Rukum Warga (RT/RW) dan seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Petugas penyuluh HIV membagi pengalamannya pernah dipersulit dan ditolak ketika meminta izin melakukan penyuluhan di lingkungan RT dan RW sekitar tempat tinggalnya. Saat ia nekat untuk tetap melaksanakan penyuluhan HIV tersebut, pihak RT dan RW beserta sekelompok warga lantas datang dan membubarkan acara. Di kesempatan ini, ia juga bertanya tentang cara membedakan anak terdampak HIV dan yang tidak. Sementara itu, sang Guru SMK bertanya seputar penularan HIV melalui jarum medium tato, seni rajah tubuh yang kini semakin banyak diminati anak-anak didiknya.

Ditemui seusai acara, Iman Abdurrakhman, pengampu Lecture Series “HIV dan Populasi Kunci” yang juga menjabat sebagai Advocacy Officer PPH UAJ mengatakan, “Saya senang sekali sekaligus surprised ketika melihat peserta yang datang sangat beragam dan terlihat sangat peduli dengan isu HIV di sekitar mereka. Keberagaman orang yang datang ke acara-acara pembahasan dan diskusi seputar isu HIV seperti ini yang selalu saya harapkan agar informasi mengenai isu ini dapat lebih tersampaikan dan tersebar lebih masif.”

Perjuangan dalam mengentaskan permasalahan pada populasi kunci disadari betul sebagai sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Beragam tantangan hadir di depan wajah. Sebut saja stigma dan diskriminasi, pemenuhan hak-hak dasar yang masih sulit terpenuhi, akses terhadap perlindungan hukum, akses terhadap pelayanan kesehatan yang baik, dan masih banyak yang lainnya. Namun, seperti kata pepatah kuno, “nothing impossible” dan “sulit bukan berarti tidak mungkin”, kita selalu punya harapan untuk terus mengupayakan. Hal pertama yang bisa dilakukan akan dengan mengakui keberaaan kelompok-kelompok populasi kunci di sekitar kita dan tidak memandang mereka sebelah mata. Setelahnya, adalah memperkaya diri dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap problematika yang dihadapi oleh populasi kunci. Caranya? Membaca tulisan-tulisan yang berkaitan dengan isu-isu HIV, ODHA dan Populasi Kunci, serta menghadiri berbagai diskusi yang membahas isu ini. Akan tetapi, perlu diingat bahwa yang juga penting adalah terus membagikan informasi dan meneruskan pengetahuan yang kamu punya pada orang-orang di sekitarmu.

“Sejak dulu tantangan untuk mengentaskan permasalahan pada populasi kunci itu beragam, yang paling sering muncul misalnya informasi tentang HIV serta stigma dan diskriminasi yang pada akhirnya menghambat pemenuhan hak dasar, perlindungan hukum, dan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu sangat penting untuk mengupayakan terkikisnya stigma dan diskriminasi guna pemenuhan hal-hal tersebut. Penting juga untuk kita mengakui keberadaan populasi kunci ini, tapi bukan sekadar mengakui keberadaannya, namun juga memiliki pengetahuan dan pemahaman dengan problematika yang dihadapi oleh populasi kunci ini”, sambung Iman Abdurrakhman.


Ulasan kegiatan ini juga dimuat di https://www.cendananews.com/2019/09/memahami-perbedaan-tahapan-hiv-dan-aids.html