Artikel

Memahami Berbagai Ketidaksetaraan yang Dialami Kaum Marginal di Tengah Pandemi HIV/AIDS

  • By Nidia Muryani
  • 16 July 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

[Seri Reportase AIDS Conference 2020]

Sesi presentasi ini dibawakan dalam salah satu prime sessions yang terletak di Auditorium. Materi disampaikan oleh Celeste Watkins-Hayes, seorang profesor di bidang sosiologi. Secara umum sesi ini membahas tentang bagaimana ketidaksetaraan (inequalities) sangat penting untuk menjadi fokus perhatian ketika kita ingin mengkaji pandemi HIV/AIDS. Dari beberapa subtopik yang ada, salah satu topik sangat menarik perhatian saya. Subtopik ini menyadarkan saya bahwa ketidaksetaraan dapat ditinjau dari berbagai level lingkungan sekitar kita, yakni level: individu, interpersonal, organisasi, komunitas, hingga struktural.

Level individu berkaitan dengan bagaimana riwayat hidup seseorang, perkembangan fisik dan mentalnya. Kondisi-kondisi tersebut nantinya akan menentukan siapa saja orang-orang yang masuk dalam lingkup interaksi individu. Level interpersonal berkaitan dengan keluarga, pertemanan. Dicontohkan bahwa pada level inilah yang menjadi penentu ada atau tidaknya kontak langsung dengan aneka bentuk kekerasan. Selanjutnya, level organisasi, menyangkut aturan-aturan atau protokol. Seringkali organisasi yang nantinya menjadi agen pelaksana akibat ketidaksetaraan yang timbul dari level struktural. Kemudian level komunitas, yakni social capital dan jejaring. Terakhir, level struktural, yakni terkait dengan keberadaan kebijakan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum yang berlaku. Masing-masing level tersebut dapat jadi sumber awal dari kemunculan stigma dan ketidaksetaraan, namun sekaligus dapat menjadi lokasi penyembuh atau pendukung kondisi individu.  

Setelah menerangkan hal tersebut, narasumber menekankan bahwa kaum marginal memang sangat terpojok, mengingat begitu rentannya mereka untuk dekat dengan peredaran narkoba, permasalahan kesehatan mental, kekerasan, dan HIV itu sendiri.

Setelah presentasi materi selesai, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yakni “Apa yang dapat dipelajari dari situasi COVID-19?”, menghasilkan jawaban yang menarik untuk saya. Pertama, perlunya bertumpu pada temuan-temuan ilmiah. Kedua, menyuarakan kebutuhan orang-orang yang paling rentan dan terdampak pada situasi pandemi ini. Serupa dengan cara dalam menghadapi pandemi HIV, kita perlu juga untuk mau mendengar sudut pandang orang-orang yang paling terdampak. Lalu ketiga, menyadari dan memahami bahwa ketidaksetaraan memang dapat memperburuk/memperpanjang masa berlangsungnya pandemi.

Narasumber menambahkan, bahwa ada kesamaan antara HIV dan COVID-19, yang mana keduanya dapat dialami oleh siapapun. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa adanya populasi atau kelompok yang memang lebih rentan untuk mengalami, baik HIV maupun COVID-19.