Peningkatan Kapasitas

Menimbang Baik dan Buruk Media Sosial untuk Remaja

  • By Fikri Haidar
  • 01 August 2022
Forum Diskusi Ilmiah Nasional

Media sosial berkembang pesat sejak internet mudah diakses oleh semua orang. Penggunaannya tidak hanya terbatas untuk komunikasi, namun juga sebagai sumber informasi, hiburan, berita, bahkan menjadi pekerjaan. Banyak pengguna media sosial yang dapat menghasilkan uang dari aktivitasnya di media sosial bahkan menjadi orang terkenal. Fakta ini menimbulkan impian pada banyak orang yang juga ingin mendapatkan pekerjaan impian tersebut. Like, Share, and Follow. Apa aja bisa dilakukan demi mendapatkan validasi, afirmasi, dan popularitas. Apa saja yang dilakukan remaja di media sosial. Apa implikasi dari aktivitas tersebut dengan kesehatan jiwa remaja Indonesia?

Bersama dengan Community of Practice (COP): Kesehatan Jiwa, PPH UAJ mengadakan Forum Diskusi Ilmiah Nasional untuk Menimbang Baik dan Buruk Media Sosial untuk Remaja Indonesia. Forum ini diadakan secara virtual pada Kamis, 28 Juli 2022 dengan mengundang Okki Sutanto sebagai pemerhati sosial; Penny Handayani, praktisi dan psikolog remaja; Benny Prawira, advokat kesehatan jiwa dari Into the Light; dan Vincentius Azvian sebagai perwakilan dari komunitas remaja dari Inti Muda Indonesia. 

Diskusi dimulai dari Okki Sutanto menjelaskan fenomena flexing atau adu pamer di media sosial sebagai faktor penimbang dari efek positif dan negatif dari media sosial untuk remaja. Ajang pamer dalam media sosial mendorong para remaja untuk melakukan berbagai tindakan. Likes, share, follow, serta kesempatan untuk viral membuat remaja giat membuat konten untuk dibagikan di media sosial mereka. Tidak semua konten viral adalah buruk, namun konten yang buruk dapat berakibat fatal, tidak hanya mental tapi juga fisik dan finansial.

Penny Handayani sebagai psikolog remaja melihat flexing sebagai poin menarik bagi kesehatan mental remaja dan media sosial. Ia menjelaskan bahwa tambahan kondisi pandemi Covid-19, terutama pada masa pembatasan sosial pada tahun 2020-2021 mendorong berbagai interaksi sosial ke dalam media sosial. Perkembangan pembentukan self-concept remaja terhambat karena media sosial menjadi satu-satunya tempat untuk berinteraksi, aktualisasi diri, dan mencari jati diri. Keterbatasan media sosial untuk mengakomodir momen penting perkembangan mental remaja menghasilkan masalah kejiwaan bagi remaja. 

Masalah kejiwaan ini beragam dari stres, gejala cemas, hingga bunuh diri. Benny Prawira sebagai advokat kesehatan mental yang bergerak dalam pencegahan bunuh diri melihat banyak remaja membagikan keinginannya untuk bunuh diri di media sosial. Perundungan siber (online bullying) adalah dampak terburuk yang dapat terjadi di media sosial. Bagi remaja dengan emosi yang belum stabil, mereka dapat bertindak tak terduga dan merugikan individu. 

Forum Diskusi Ilmiah Nasional adalah ruang dialog yang setara untuk semua orang. Berbicara tentang remaja dan media sosial tentu tidak selalu aspek dan dampak buruk melulu. Vincentius Azvian dari Inti Muda Indonesia menawarkan solusi dengan memanfaatkan keinginan remaja untuk mengaktualisasi diri di media sosial. Gerakan remaja melalui aktivisme sosial dan advokasi isu sosial adalah tawaran solusi. Melalui kampanye sosial dan aktivisme kolektif di Instagram dan Twitter, Azvian melihat remaja Indonesia dapat menggunakan platform media sosial mereka dengan lebih baik. 


Forum Diskusi Ilmiah Nasional mendiskusikan beragam topik yang sedang dibahas oleh publik serta merangkum hasil diskusi menjadi rekomendasi penyusunan kebijakan publik.