Penelitian

Rehabilitasi Pecandu Narkoba antara Tantangan dan Kebutuhan

  • By Yohanes Genthar
  • 28 November 2019
Photo by Adhy Savala on Unsplash

Laporan global yang dirilis UNODC tahun 2019 menunjukkan sebanyak 35 juta orang di seluruh dunia bermasalah dengan kecanduan akibat penggunaan narkoba (UNODC, 2019) Sementara hasil survei dua tahun sebelumnya sebanyak 271 juta populasi dunia pernah menggunakan narkoba dalam 1 tahun terakhir  dengan rentang usia 15-64 tahun. Laporan itu juga mengklaim  hanya 1 dari 7 orang yang menerima terapi pengobatan setiap tahun. Dibeberapa negara di dunia seperti Afrika, Eropa Timur dan negara-negara Asia lainnya pemenjaraan pecandu narkoba masif dilakukan. Di Indonesia dalam rentang waktu 4 tahun terakhir sejak 2015 terjadi lonjakan besar jumlah pengguna narkotika yang dijerat dengan pidana tanpa mendapatkan rehabilitasi. Hasil survei BNN (2017) menunjukkan bahwa terdapat 135 ribu kasus narkotika dengan 70% dari penghuni lapas atas kasus tersebut adalah pengguna.

Upaya melakukan maintenance para pecandu melalui program rehabilitasi juga belum maksimal dilakukan dengan berbagai tantangan pelik baik dari infrastruktur, pembiayaan maupun kualitas program. Benang merah kebijakan terapi dan rehabilitas secara global belum menemui titik terang. Perdebatan dan penolakan pembiayaan perawatan pecandu yang dibiayai asuransi kesehatan di berbagai negara termasuk Indonesia sering terjadi. Belum lagi pendekatan rehabiltiasi sistem rawat inap diterapkan di berbagai pola pengguna jenis narkoba pada hal setiap pecandu memerlukan pola penanganan yang berbeda berdasarkan berbagai pertimbangan baik dari jenis zat, pola penggunaan zat, komplikasi fisik atau psikis yang ditimbulkan, tingkat usia, dukungan keluarga serta tingkat produktivitas. Dari segi pembiayaan terlihat adanya resistensi penerimaan terhadap gangguan penggunaan narkoba sebagai penyakit kronis dapat mempengaruhi pola pembiayaan dan penatalaksanaan pertawatan pecandu narkoba di Indonesia.

Tantangan terbesar dalam proses perawatan dan rehabiltiasi ketergantungan narkoba diibaratkan seperti dua sisi mata uang dalam proses pendekatan, di satu sisi melihat aspek kesejahteraan yang dibangun yaitu bagaimana pecandu menjadi lebih berdaya, produktif dan membangun fungsi sosial yang lebih baik di masyarakat. Di sisi lain ada upaya penegakan hukum dengan tindak pemberantasan dan penangkapan terhadap para pengguna narkoba. Undang-undang juga memaksa bagi pecandu narkoba yang dikategorikan sebagai penyakit kronis harus melakukan upaya wajib lapor kepada institusi wajib lapor (IPWL) baik dengan pengakuan maupun oleh keluarga. Ini membawa konsekuensi pidana bagi keluarga yang tidak melaporkan anaknya ketika mengetahui dia menggunakan narkoba. Kekhawatiran ini membuat keluarga seringkali menyembunyikan status anak sebagai pengguna narkoba karena ketakutan menghadapi proses hukum. Tantangan lain dengan melihat bagaimana kompleksitas pemulihan narkoba sebagai penyakit kronis dan terus mengalami masa kambuh pasca rehabilitasi belum mampu diatasi. Pada titik ini menjadi sentral dalam upaya penanganan masa kambuh. Karena itu upaya dan rencana terapi individual harus dikaji secara berulang dan berkala untuk menemukan titik temu antara kebutuhan dan terapi yang tepat. Meskipun diakui tidak ada satupun terapi yang dirasa paling tepat untuk pecandu narkoba di seluruh dunia.

Fakta bahwa berbagai survei ada ketidakpuasan penerapan rehabilitasi bagi para pecandu kerena satu sistem berlaku untuk semua pecandu (one size for all) padahal kebutuhan setiap individu berbeda. Kebanyakan klien rehabilitasi juga meninggalkan tempat rehabiltasi lebih dini (premature charge) dari program yang seharusnya mereka jalankan dan jika melihat tingkat kekambuhan lebih dari 50% klien kembali menggunakan narkoba setelah 6 bulan keluar dari rehabilitasi (McLellan, 2008). Pembiayaan rawat inap dalam jangka penjang juga menjadi masalah baru ditempat kerja, asuransi dan juga pembiayaan dari program pemerintah.

Karena itu program rehabilitasi perlu dilihat dari beberapa tahapan dimana setiap tahapan memiliki tujuan perilaku yang didefinisikan dengan jelas (Simpson, 2004) sehingga membantu pecandu memahami dan menjalaninya yaitu proses detoksifikasi atau stabilisasi yang bertujuan untuk pemulihan secara fisik dan detox dalam tubuh. Kemudian melakukan proses rehabilitasi sesuai dengan hasil asesmen dan kebutuhan serta menentukan proses perawatan berkelanjutan untuk menjalakan program. Sejumlah bukti yang signifikan bahwa penerapan sistem monitoring secara berkala selepas mengikuti program rawatan justru mampu meningkatkan dan mempertahankan angka abstinensia (Dennis M, 2003). Walaupun secara berulang tidak ada satu jenis terapi atau rehabilitasi yang cocok untuk semua pengguna narkoba. Sebagian dari mereka ada yang cocok dengan rawat inap jangka panjang. Sebagian lagi ada yang pulih hanya dengan perwatan jangka pendek tetapi yang lain bisa juga efektif hanya dengan terapi rawat jalan. Namun hal yang tidak kalah penting bagaimana keterlibatan keluarga  pasca perawatan dan rehabilitasi sangat dibutuhkan untuk mendukung proses pemulihan secara terus-menerus. Lingkungan sosial menjadi perhatian utama bagaimana proses pemulihan itu terjadi. (John Gentar).

REFERENSI

Dennis M, S. C. (2003). An experimental evaluation of recovery management checkups (RMC) for people with chronic substance use disorders. PubMed.

McLellan. (2008). Improving public addiction treatment through performance contracting: The Delaware experiment. Health Policy. New York: PubMed.

Simpson. (2004). A conceptual framework for drug treatment process and outcomes. Journal of Substance abuse treatment, 99-121.

UNODC. (2019). Global Drugs Report.