Artikel

Transgender Laki-laki dan Kerentanan Terhadap HIV yang Kerap Terabaikan

  • By Armadina Az Zahra
  • 20 July 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

[Seri Reportase AIDS Conference 2020]

Kamis 9 Juli 2020 pukul 06.00 – 06.45 AM waktu San Francisco USA sebuah panel menarik dalam AIDS Conference 2020 berlangsung. Panel tersebut diselenggarakan oleh Global Action for Trans Equality; International Trans Men & HIV Working Group dan mengambil judul “Transgender Men & HIV: Experiences and Vulnerabilities, Why We Should Care, and Where To Go From Here”. Bertempat secara virtual di Satellite Channel 4 AIDS Conference Virtual, panel diskusi ini membawa para peserta pada wawasan pengalaman para Transgender Laki-laki ketika bersinggungan dengan isu HIV.

Pengangkatan tema besar panel ini berangkat dari kegelisahan yang tak bisa dielakkan dari teman-teman Transgender Laki-laki yang seakan teresklusi dalam narasi persebaran virus HIV. Bila selama ini pemangku kebijakan, akademisi, aktivis penanggulangan HIV, hingga masyarakat umum telah akrab dengan Transgender Perempuan (Transpuan) sebagai sasaran program preventif pencegahan HIV maupun penelitian, cerita berbeda datang dari Transgender Laki-laki. Mereka tidak hanya masih jauh dari sasaran program preventif pencegahan HIV, namun pada dunia penelitian, data atau penelitian yang terfokus pada kaitan permasalahan Transgender Laki-laki dan HIV masih sangat minim.  Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan para pemateri dalam panel yang dihadiri oleh perwakilan teman-teman Transgender Laki-laki dari berbagai belahan dunia ini.

Minimnya penelitian mengenai korelasi Transgender Laki-laki dan HIV turut memberi dampak pada masih kurangnya persebaran pengetahuan mengenai risiko infeksi virus HIV pada Transgender Laki-laki. Maka tidak heran bila akhirnya timbul asumsi menyesatkan bila mereka jauh dari kerentanan penularan HIV. Tentu saja anggapan ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa Transgender Laki-laki pun memiliki kerentanan terhadap HIV. Virus HIV yang dapat bersarang di tubuh mereka dari proses operasi yang dijalankan, perilaku seksual, penggunaan NAPZA suntik dan lain sebagainya, sama seperti populasi kunci lainnya.

Kerentanan lain yang juga dihadapi oleh Transgender Laki-laki adalah masalah stigma dan diskriminasi. Seorang pembicara asal Uganda mengungkapkan realita pahit bahwa kasus stigma dan diskriminasi bukan hal yang asing terjadi pada fasilitas kesehatan yang dikunjungi oleh mereka. Belum lagi bayang-bayang mengenai kekerasan seksual semisal rudapaksa kolektif yang menghantui mereka karena identitas seksualnya.

Mata rantai permasalahan yang dihadapi oleh Transgender Laki-laki tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka berhak atas pelayanan kesehatan tanpa ketakutan dan salah satu solusinya adalah meningkatkan kesadaran berbagai lapisan masyarakat, terutama pekerja sosial dan petugas layanan kesehatan tentang kebutuhan-kebutuhan khas dari Transgender Laki-laki. Untuk itu, penanaman pengetahuan pertama yang perlu dibangun adalah menyadari bahwa Transgender Laki-laki itu ada dan pengetahuan mengenai mereka masih perlu digali dan disebarkan lebih luas. Seperti yang dikatakan dalam pernyataan penutup dalam panel, “Acknowledge that Trans Men is exist and the knowledge is there.”