Peningkatan Kapasitas

Lecture Series: Risiko Penularan HIV pada Pasangat Populasi Kunci

  • Waktu: March 26, 2019, noon - March 26, 2019, 4 p.m.
  • Ruang Y1408, Gedung Yustinus lt. 14, Kampus Semanggi UAJ

Jumlah kasus penularan HIV di Indonesia mulai bergeser dari pengguna napza suntik (penasun) ke penularan melalui hubungan seksual yang tidak aman. Data Kementerian Kesehatan (2016) menyatakan penularan HIV melalui hubungan seksual secara heteroseksual mendominasi sekitar 61% dari seluruh kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan akibat dari perilaku seks yang tidak aman terutama ditemukan pada pasangan intim. Risiko penularan HIV pada pasangan intim dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi. Perilaku penggunaan kondom, relasi gender, perilaku penggunaan alkohol, merupakan beberapa faktor yang termasuk faktor sosial yang berkontribusi pada risiko penularan HIV pada pasangan. Penggunaan napza suntik (penasun) disebutkan sebagai salah satu perilaku yang berkontribusi pada penularan HIV pada pasangan (Sylversten et al, 2013; Nadol et al, 2015; Murthy, 2012; Gilbert 2010). Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi pada tingginya penularan HIV pada pasangan intim di kelompok penasun, seperti penggunaan kondom yang rendah (El Bassel et al, 2014; Chakrapani, 2012) dan pasangan penasun yang tidak mengetahui status HIV pasangannya (Manaf et al, 2013).

Disamping faktor sosial di atas, kerentanan ekonomi juga dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya penularan HIV pada pasangan (Benoit, 2013; Syversten et al, 2013; Montgomery, 2012; Li et al, 2014). Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap penularan HIV pada pasangan adalah ketidaktahuan pasangan akan status HIV pasangannya. Menurut Mucheke (2016), orang yang tidak memperdulikan status HIV pribadi dan pasangannya juga berpotensi untuk tertular HIV. Tidak mengungkapkan status HIV dapat terjadi Karena merasa takut mengetahui hasil kesehatan dan merasa bersalah terhadap pasangan (Cameron, 2012; Mucheke, 2016). Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa faktor risiko seperti perilaku penggunaan napza suntik, penggunaan kondom yang rendah, kekerasan dan ketidakpedulian terhadap status HIV turut berkontribusi terhadap prevalensi penularan HIV pada pasangan intim.

Beberapa upaya dapat dilakukan untuk melindungi pasangan dari HIV. Menurut Makwe dan Giwa-Osagie (2013) tes HIV berpasangan, sunat pada lelaki dan penggunaan kondom dinilai dapat melindungi pasangan dari penularan HIV. Selain itu, pasangan yang memiliki tingkat hubungan yang kuat dan komunikasi yang baik cenderung untuk melakukan seks dengan aman (Palinkas, 2014; Pettifor, 2014). Berbagai intervensi pun sudah dirancang untuk mengurangi risiko penularan HIV pada pasangan. Program tes HIV bersama pasangan (couple-based testing) juga dapat dilakukan sebagai bagian dari intervensi HIV pada pasangan (Spino et al, 2010). Menurut El-Bassel dan rekan (2012), program tes HIV berpasangan yang mempertimbangkan faktor kontekstual budaya dan sekaligus dilakukan bersama dengan materi pengurangan risiko dampak buruk napza dapat berkontribusi pada menurunnya penularan HIV, meningkatkan penggunaan kondom secara aman dan mengurangi kekerasan berbasis gender pada kelompok penasun dan pasangannya. Becker dan rekan (2014) menambahkan konseling HIV yang ditambahkan dengan konseling kontrasepsi berhasil meningkatkan penggunaan kondom sebanyak 61%. Walaupun demikian, terdapat beberapa pertimbangan yang harus dicermati dalam melaksanakan tes HIV berbasis pasangan.

Untuk melihat pemanfaatan berbagai intervensi pada pasangan tetap populasi kunci yang telah dilakukan di Indonesia dan bagaimana program-program intervensi tersebut dapat mendukung pengurangan risiko penularan HIV pada pasangan populasi kunci, maka Pusat Penelitian HIV-AIDS (PPH) UNIKA Atma Jaya akan mengadakan lecture series yang akan mengupas permasalahan seputar intervensi pada pasangan tetap tersebut.

Related News


Workshop: Pelatihan Konseling Dasar Untuk Mendampingi ODHA
waktu : Dec. 2, 2019, 10 a.m.-Dec. 2, 2019, 4 p.m.

Workshop: Pengantar Analisis dan Visualisasi Data menggunakan Excel
waktu : March 27, 2019, 9 a.m.-March 27, 2019, 9 a.m.

Workshop: Melakukan Survei Menggunakan KoboToolbox
waktu : June 25, 2019, 10 a.m.-June 25, 2019, 3 p.m.

Workshop: Pembekalan Harm Reduction untuk Calon Psikolog
waktu : July 15, 2019, 9 a.m.-July 19, 2019, 4 p.m.

Workshop: HIV365 Media yang berpihak pada anak HIV?
waktu : Aug. 26, 2019, noon-Aug. 26, 2019, 4 p.m.