Penelitian / Laporan Penelitian

Advokasi Penguatan Model Intervensi Psikososial untuk Meningkatkan Penggunaan dan Kepatuhan ARV bagi LSL dengan HIV Positif di Indonesia

  • 22 October 2021

Dalam mengambil keputusan untuk memulai dan patuh pengobatan ARV, LSL melakukan kalkulasi risiko. Pertimbangan utama mereka adalah hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Berdasarkan penelitian kami sebelumnya, LSL memandang besarnya faktor penerimaan perilaku seksual maupun isu HIV. Maka itu, penyediaan intervensi psikososial yang melibatkan perjalanan hidup seseorang ketika menghadapi dilema terkait perilaku seksual, status HIV positif, dan tantangan lainnya waktu mulai atau mempertahankan pengobatan sangat penting untuk dilakukan.

Proyek ini menggunakan kerangka untuk menghasilkan standar berbasis bukti dari Institute of Medicine (2015) terhadap intervensi psikososial. Pada pembuatannya, kami mengadaptasi dan menyesuaikan sumber daya yang kami miliki untuk mengembangkan kerangka model intervensi. Pembuatan kerangka pengembangan model yang kami terapkan dalam pembuatan intervensi ini, yaitu (1) mengidentifikasi intervensi yang sudah ada terkait penggunaan dan kepatuhan ART; (2) mengidentifikasi komponen yang bisa digunakan dalam intervensi psikososial bagi LSL terkait penggunaan dan kepatuhan ARV; (3) melakukan tinjauan sistematis (systematic review); (4) mengembangkan kerangka model intervensi psikososial; (5) melakukan uji kelayakan kerangka model menggunakan Delphi method di lokakarya daring; dan (6) mengadvokasi kerangka model sehingga bisa diadopsi dalam intervensi yang sudah ada. Pengembangan model intervensi melibatkan komunitas LSL secara signifikan, khususnya LSL dengan HIV positif di setiap langkah prosesnya karena mereka lah yang paling tahu tentang persoalan dan kebutuhan terkait layanan HIV.

Hasil pemetaan intervensi dan tinjauan sistematis menghasilkan satu kerangka intervensi melalui dua pendekatan, yaitu pertemuan langsung dalam kelompok sebanyak 5 kali bersama konselor dan pemberian informasi tanpa pertemuan. Sesi yang diusung dalam model intervensi yang disebut dengan Kelompok Diskusi Retensi ini berangkat dengan mengenali diri sendiri menuju rangkaian hubungan dengan orang-orang lain yang dekat dalam berbagai situasi khusus bagi orang berperilaku LSL dengan HIV. Kebutuhan tersebut membentuk 5 materi wajib KD-RETENSI yang akan dilaksanakan, yaitu: 1) penerimaan diri perilaku seks; 2) penerimaan diri orang dengan HIV; 3) hidup bersama dengan pengobatan ARV; 4) hubungan romantis yang sehat; dan 5) dukungan sosial. Pemberian informasi tanpa pertemuan tetap perlu dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan LSL dalam mengkalkulasi risiko untuk akses ARV sekaligus membangun kepercayaan di dalam kelompok.

Rancangan kerangka intervensi Kelompok Dukungan Retensi disusun untuk didiskusikan dalam Lokakarya Multipihak dengan Metode Delphi. Setelah memperbaikinya berdasarkan masukan dari lokakarya itu, hasil kerangka intervensi Kelompok Dukungan Retensi disebarkan kepada OBK yang bekerja dengan LSL untuk melihat Uji Kelayakan Kerangka Model Intervensi dengan pertimbangan pengalaman di lapangan. Hasil revisi akhir selanjutnya diadvokasi kepada TWG HIV AIDS yang terdiri dari sejumlah anggota yang memiliki latar belakang pekerjaan di bidang HIV AIDS, populasi kunci, perwakilan CSO, dan Development Partners. Peserta memberikan tanggapan yang positif melihat kurangnya efektivitas intervensi yang ada. Maka itu, mereka mengusulkan penelitian lebih lanjut sehingga dapat melihat dampak retensi ARV terhadap orang berperilaku LSL dengan HIV yang berbasis bukti.

Selama proses pengembangan kerangka model intervensi, ada setidaknya tujuh catatan yang telah dilakukan bersama dengan komunitas LSL, LSM/Organisasi Komunitas, penyedia layanan (klinik maupun puskesmas), serta dinas kesehatan. Pertama, penerimaan diri perilaku LSL mereka merupakan faktor penting dalam memulai pengobatan dan kepatuhan terapi ARV. Kedua, penting untuk memberikan waktu untuk menerima diri sebagai orang dengan HIV. Ketiga, kesiapan layanan kesehatan bisa menjadi faktor penting untuk mendorong orang berperilaku LSL dengan HIV untuk memulai dan patuh terhadap pengobatannya. Keempat, kesehatan mental LSL dengan HIV perlu diperhatikan karena bisa mempengaruhi kepatuhan dalam melakukan pengobatan ARV. Kelima, dukungan sebaya mempengaruhi kepatuhan dalam melakukan pengobatan ARV. Keenam, penyedia layanan HIV belum berpusat pada klien. Terakhir, kepatuhan terapi ARV dilihat sebagai permasalahan satu dimensi semata.

*Penelitian ini didanai oleh GNP+ yang dikelola oleh GWL-INA tahun anggaran 2020