Publikasi / Research Report

[PEN] Dampak Penutupan Lokalisasi / Lokasi Transaksi Seks di Empat Kota

  • by PPH UAJ
  • 01 June 2016

Penutupan lokalisasi diindikasikan oleh beberapa observasi sebelumnya telah berdampak pada keberadaan dari pekerja seks di mana mereka menjadi semakin tersembunyi, semakin sulit untuk mengakses layanan dan yang utama mereka menjadi semakin berisiko dalam melaksanakan pekerjaannya. Pada sisi yang lain, pelayanan kesehatan pun juga terdampak dengan kebijakan itu karena klien-klien yang selama ini mengakses layanan tidak mengakses kembali sehingga pengendalian penyakit menular menjadi sulit dilakukan. Bagi masyarakat, meski secara umum dipersepsikan memperoleh keuntungan karena daerahnya menjadi bersih dan aman tetapi sejatinya masyarakat akan terdampak karena tingkat kesehatan masyarakat akan terpengaruh dengan tidak terkendalinya penyakit menular tersebut.

Secara khusus, pengetahuan dan pemahaman tentang dampak penutupan lokalisasi dan lokasi transaksi seks terhadap penanggulangan HIV masih cukup terbatas dan bukti yang tersedia lebih banyak dalam bentuk reportase di media massa sehingga menjadi cukup sulit untuk menilai apakah kebijakan penutupan lokalisasi ini telah berjalan secara efektif dan apa
saja dampak kebijakan tersebut bagi masyarakat, pekerja seks, orang yang tinggal di lokasi/lokalisasi dan sektor kesehatan. Pemahaman ini menjadi penting untuk diperoleh sebagai dasar untuk memperkuat, meninjau atau mengembangkan kebijakan diperlukan dengan adanya penutupan lokalisasi/lokasi transaksi seks. Dalam rangka mengumpulkan bukti atas dampak penutupan lokalisasi/lokasi terhadap penanggulangan HIV, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bekerja sama dengan Pusat Penelitian HIV AIDS Atma Jaya akan melakukan studi kualitatif terkait dengan dampak pembubaran lokalisasi/lokasi transaksi seks di Kabupaten Jayapura, Kota Jakarta, Kota Surabaya dan Kota Bandung.

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjawab tujuan penelitian yang diajukan. Metode kualitatif dipilih mengingat informasi yang dikumpulkan untuk mengetahui efektivitas kebijakan yang diambil serta dampak yang timbul akibat pembubaran lokalisasi. Sebanyak 86 orang informan yang terdiri dari aparat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, penyedia layanan IMS dan HIV, mucikari, dan pekerja seks di empat kota telah diwawancarai terkait dengan persepsi dan perannya dalam proses penutupan dan pasca penutupan lokasi/transaksi seks. Analisis data kualitatif yang standar dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Nvivo versi 11 untuk menentukan tema-tema yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Baca tulisan selengkapnya dengan klik tombol unduh di bawah ini.