Advokasi

Covid-19 pada Orang yang Hidup dengan HIV

  • By Caroline Thomas
  • 30 November 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan HIV memiliki peningkatan risiko kematian akibat COVID-19. Di Inggris, dua penelitian berskala besar yang berkaitan dengan pandemi COVID-19 menemukan bahwa orang yang hidup dengan HIV mempunyai risiko kematian akibat COVID-19 antara 63% sampai dengan 130% lebih tinggi dibandingkan orang lain. Dari kedua penelitian ini, fakta lanjutan lainnya terkait COVID-19 pada orang yang hidup dengan HIV pun terkuak.

Penelitian pertama merupakan studi yang didasarkan pada OpenSAFELY. Dimulai sejak 1 Februari 2020 hingga 22 Juni 2020, penelitian ini menemukan bahwa orang dengan HIV memiliki peningkatan risiko sebesar 130% (yaitu 2,3 kali lipat risiko) kematian akibat COVID-19 dibandingkan dengan populasi umum (risiko serupa dengan juga diamati pada studi terbaru yang dilakukan di provinsi Western Cape Afrika Selatan, disajikan di AIDS 2020: Virtual pada Juli 2020 ). Dalam proses pelaksanaannya, studi ini mengamati orang yang status HIV-nya tercatat dalam catatan medis dokter umum dan yang sertifikat kematiannya mencatat sebab kematian akibat COVID-19. Menariknya, meskipun ditemukan bahwa orang dengan HIV setidaknya dua kali lebih mungkin meninggal karena COVID-19 dibandingkan orang lain, namun orang dengan HIV yang tidak memiliki penyakit penyerta –obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, jantung dsb- risiko kematiannya akan lebih rendah. Akan tetapi, walau tidak dijabarkan secara rinci, disebutkan bahwa orang berkulit hitam yang hidup dengan HIV berada pada risiko tertinggi untuk meninggal akibat COVID-19. Risiko mereka berganda menjadi empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang kulit hitam tanpa HIV.

Cerita berbeda datang dari penelitian kedua yang mengamati kematian pada orang yang dirawat di rumah sakit dengan gejala COVID-19 dan yang memiliki tes positif untuk SARS-CoV-2. Penelitian ini tidak menemukan perbedaan dalam risiko kematian menurut kelompok etnis di antara orang yang hidup dengan HIV. Meski demikian, hasil penelitian memperkirakan bahwa risiko kematian akibat COVID-19 adalah 63% lebih tinggi pada orang yang hidup dengan HIV. Basis data dari studi ini terdiri atas data pasien Inggris dari ISARIC, sebuah konsorsium penelitian internasional.

Sayangnya, kedua penelitian terasa memiliki keterbatasan dan menghadapi kendala. Hal ini dikarenakan lokasi kedua penelitian yang mengambil tempat di Inggris, negara dengan jumlah kasus HIV lebih sedikit bila disandingkan dengan Afrika Selatan, tempat berlangsungnya 23rd AIDS Conference International pada Juli 2020 silam. Dampaknya, angka-angka yang muncul pun cenderung sedikit, studi pertama hanya menemukan 25 orang yang status HIV-nya tercatat dalam catatan medis dokter umum dan yang sertifikat kematiannya mencatat kematian akibat COVID-19. Studi kedua menemukan 115 orang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 yang tercatat memiliki HIV, dan jumlah kematian yang hampir sama yaitu 26 orang. Angka-angka yang sedikit ini kemudian mempersulit penekanan narasi bahwa hasil penelitian keduanya signifikan secara statistik dan bukan hanya kebetulan semata, serta dapat memberikan hasil yang berbeda. Misalnya saja apabila kita merujuk pada penelitian pertama yang mengungkapkan peningkatan risiko kematian pada orang dengan HIV tampak lebih besar pada orang yang berkulit hitam dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain, tetapi penelitian kedua tidak menemukan asosiasi antara kematian dari COVID-19 pada orang dengan HIV dan warna kulit/kelompok etnis seseorang.

Lebih jauh, penelitian pertama menemukan bahwa, meskipun tidak signifikan secara statistik karena jumlahnya yang sedikit, risiko kematian yang lebih tinggi terlihat paling jelas selama 60 hari pertama pandemi. Para peneliti berspekulasi bahwa hal ini mungkin mencerminkan jarak sosial yang kurang dan/atau kerentanan yang lebih besar terhadap infeksi selama minggu-minggu awal, sebelum orang dengan HIV disarankan untuk melindungi diri. Setelah hari ke 90 pandemi (dari 2 Mei 2020) peningkatan risiko karena HIV pun tidak lagi terlihat.

Melemparkan kembali perhatian pada dua penelitian yang telah disinggung pada paragraf-paragraf sebelumnya, saat artikel ini ditulis, hasil temuan dari kedua penelitian itu telah dipublikasikan. Namun, keduanya masih dipublikasikan sebagai artikel pra-cetak. Artinya, hasil dari kedua penelitian belum melalui proses tinjauan oleh rekan sejawat. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap penelitian tersebut, British HIV Association (BHIVA) dan organisasi terkait turut mendesak bahwa temuan tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati, terutama karena terbatasnya jumlah kasus dan kurangnya pencatatan. Walaupun demikian, kita tentu saja setuju bila kedua penelitian ini terbilang sangat menarik dan kontekstual sebab berusaha menyoroti risiko kesehatan teman-teman yang hidup dengan HIV di tengah kondisi pandemi global COVID-19 seperti sekarang ini.

 

Refrensi:

Bhaskaran et al., HIV infection and COVID-19 death: population-based cohort analysis of UK primary care data and linked national death registrations within the OpenSAFELY platform, https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.08.07.20169490v1#p-5, retrieved: 23 November 2020

Geretti et al., Outcomes of COVID-19 related hospitalisation among people with HIV in the ISARIC WHO Clinical Characterisation Protocol UK Protocol: prospective observational study, https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.08.07.20170449v1, retrieved: 23 November 2020

Davies MA et al. Western Cape: COVID-19 and HIV / Tuberculosis. 23rd International AIDS Conference, abstract OAXLB0106, 2020.

https://www.aidsmap.com/news/aug-2020/two-uk-studies-find-hiv-infection-may-be-risk-factor-dying-covid-19

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.