Peningkatan Kapasitas

Hidup itu Seperti Mengerjakan Sebuah Puzzle

  • By Christiany Suwartono
  • 08 December 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Saat pandemi ini terjadi, saya sedang menempuh post-doctoral saya di University of Illinois at Chicago, Amerika. Pengalaman ini saya dapat ketika masa “di rumah saja” memasuki bulan kedua. Saya mendapatkan hadiah dari Profesor saya berupa sebuah cupcakes puzzle dengan jumlah kepingan sebanyak 1000. Pada awalnya saya terharu sekaligus terpana, “Serius, 1000 keping? Wow!” Terakhir saya menyelesaikan sebuah puzzle itu berpuluh tahun yang lalu. Sekalinya saya mendapat lagi, saya mendapatkan 1000 keping. Saya meletakkan di sudut meja di kamar saya. Namun setelah seminggu kemudian, rupanya saya sudah bosan mencoba satu per satu peralatan masak di dapur. Ditambah lagi, Profesor tersebut mengirimkan email mengenai tips cara menyelesaikan puzzle tersebut: “Carilah kepingan yang membentuk tepi puzzle, cocokkan warna yang sama, mengurutkan kepingan berdasarkan warna atau tema, dan seterusnya.” Uraiannya membuat saya pun tergelitik untuk mencoba. Saya pun berpikir, tidak ada salahnya juga untuk memulai. Saat inilah, pengalaman menarik dalam hidup saya dimulai!

Saya membuka segel plastik kotak puzzle tersebut. Ketika melihat isinya, “Wow, kecil-kecil juga ya kepingannya?” Puzzle itu berukuran 48.89 cm x 67.63 cm, 1000 keping. Puzzle tersebut bergambar cupcakes sejumlah 42 buah. Ya, saya tahu dari awal menerima kotak puzzle berisi 1000 keping, namun tetap saja mengalami tidak sama dengan mengetahui; juga tentunya tidak sama juga dengan mengerjakan.

Awalnya pun saya hanya memisahkan kepingan-kepingan itu berdasarkan warna. Ketika memisahkan, saya pun menemukan kepingan-kepingan bertema yang bisa disatukan. Saya pun menjadi terpicu semangatnya. Apalagi ketika melihat sudah mulai berbentuk.

Saya mulai paham sebab puzzle itu menarik.

Bagi saya: ketika saya mengerjakan puzzle, saya berpikir tentang kehidupan. “Mungkin hidup itu seperti puzzle” gumam saya. Pikiran saya pun mengembara dan berceloteh – mungkin bahasa kerennya, saya melakukan refleksi selama saya mengatur kepingan-kepingan puzzle itu.

Ketika saya mau pergi meninggalkan puzzle karena merasa sudah mentok, tak sengaja tangan saya menemukan potongan yang kebetulan pas. “Ah!” Semangat untuk melanjutkan menemukan kepingan-kepingan lain pun tumbuh kembali. “Wah, ternyata mengerjakan puzzle ini menyenangkan!” pikir saya. Saya menjadi lebih bersemangat dan membulatkan tekad untuk menyelesaikan puzzle ini.

Hari ketiga saya mengerjakan puzzle, saya pun menjadi terlarut mengerjakan terus-menerus selama 6 jam sambil melakukan kilas balik beberapa pengalaman hidup saya. Saya “mengobrol” dengan diri saya, berdialog, berdebat, dan akhirnya melakukan refleksi. Dalam keheningan suasana, karena praktis di rumah ini hanya ada tiga orang teman, masing-masing sedang berada di lantai yang berbeda, sehingga saya hanya sendirian di ruang tamu rumah ini. Suasana yang tenang membuat saya benar-benar memberi perhatian penuh pada hal yang saya kerjakan saat itu. Saya benar-benar ada dan sadar akan perilaku saya. Mungkin kalau ada yang pernah membaca istilah “here-and-now”, mungkin saat itu, bisa dikatakan saya merasakan momen tersebut.

Pada awalnya, saya memisahkan kepingan-kepingan berdasarkan warna latar belakang. Kemudian, saya memperhatikan bahwa beberapa cupcake dapat dikenali karena fitur-fiturnya yang menonjol, terutama karena warna dan bentuknya.

  

Mereka lebih mudah dikumpulkan dan membentuk cupcake utuh. Deretan kata-kata yang memisahkan setiap bagian latar belakang adalah bagian kedua yang dapat dikenali. Saya berpikir dalam hidup, beberapa orang secara alamiah, terlihat menonjol dari kerumunan orang-orang di sekitarnya, mungkin karena karakteristik alamiah mereka sehingga mau tidak mau mereka tidak bisa menyembunyikan karakteristik mereka: “Kamu adalah kamu, belajarlah menerima dirimu apa adanya!”

Semua peristiwa yang kita alami sekarang mungkin tidak bisa dimengerti. Namun, pada titik dan waktu tertentu, kita dapat menyatukan beberapa kepingan peristiwa-peristiwa tersebut, atau jika kita cukup beruntung, kita pun dapat mengetahui gambar utuhnya. Hal yang paling menantang, hidup ini tidak datang dengan pengetahuan gambaran hidup kita yang menyeluruh. Kita tidak tahu gambaran hidup kita secara menyeluruh. Kita mau tidak mau harus tetap menjalani hidup terus-menerus sambil berusaha menyatukan teka-teki kumpulin kepingan puzzle hidup kita, kita dihadapkan dengan ketidakpastian: seperti apakah bentuk gambaran hidup kita? Kita berharap bahwa pada suatu waktu dalam perjalanan hidup kita, kita dapat menyingkap misteri gambar hidup kita dari berbagai pengalaman yang tampaknya acak. Mungkinkah proses penyingkapan itu merupakan bagian yang terpenting dari perjalanan spiritual kita? Di saat kita paling membutuhkan hal yang disebut IMAN? Tuhan pasti membantu membukakan jalan?

Saya menyusun kepingan-kepingan puzzle itu sambil terus berpikir tentang pengalaman hidup saya. Biasanya, pada awalnya berbagai pengalaman hidup saya seperti hal-hal acak. Orang-orang bertanya sesuatu kepada saya, saya melakukan analisis data, orang-orang bercerita kepada saya, saya mendengar pemuka agama memberikan ceramah, mengobrol dengan teman atau keluarga, dan saya mendapat sesuatu dari orang lain (salah satunya seperti hadiah dari Profesor saya); bahkan mungkin hadiah yang terbesar bagi saya adalah masa pandemi ini di mana saya diam di rumah sehingga bisa mengerjakan puzzle ini sebagai pengisi waktu sekaligus membuat saya fokus kembali. Pada saat saya menyatukan berbagai kepingan puzzle, kadang-kadang saya secara sadar maupun tidak sengaja bisa menemukan hubungan di antara mereka — beberapa masih misteri. Kadang-kadang juga melelahkan karena saya tidak dapat menemukan kepingan yang tepat atau mengetahui hasil akhirnya. Anehnya, ketika saya ingin menyerah, rupanya kepingan yang tepat ditemukan! Hidup seakan memberikan kepingan penting untuk mendorong kita sekali lagi melanjutkan perjalan, mencoba sekali lagi. Saya pun mencoba sekali lagi dan menemukan kepingan lain yang tepat, sehingga saya pun semangat lagi untuk melanjutkan mencari kepingan-kepingan puzzle lainnya... (sehingga hari itu, sepanjang sore sampai malam saya tenggelam mengerjakan puzzle saya).

Terkadang saya juga membuat keputusan yang salah dalam menempatkan kepingan puzzle, yang awalnya saya pikir tepat, potongan itu muat untuk sementara tetapi tidak dalam jangka panjang. Ada yang janggal ketika seharusnya permukaan puzzle itu rata, tapi di dua tempat ini terasa tidak rata. Saat itulah saya tersadar bahwa kepingan itu tidak ada pada tempatnya. Di sisi lain, terkadang, saya hanya perlu memutar dan melihat dari sudut yang berbeda dan kepingan itu bisa muat. Kemungkinan lain, kepingan tersebut bisa muat saat di sekelilingnya harus sudah ada kepingan-kepingan lainnya, ada kebutuhan untuk kepingan lain untuk mengisi ruang kosong terlebih dahulu (membangun atmosfir lingkungan yang pas terlebih dahulu), barulah kepingan tersebut bisa masuk dengan pas.

Waktu dan kesempatan pun memainkan peran penting dalam menyediakan jalan agar kepingan bisa “klik” di tempat yang tepat. Pengalaman yang tepat di waktu yang tepat akan mengantar kita ke tempat yang tepat. Saya menemukan pepatah ini di Pinterest: "Hidup itu seperti puzzle, semuanya tampak berantakan di awal tetapi hal-hal tersebut dirangkai dengan tepat, hidup pun menjadi luar biasa." Ya itu benar! Ketika berbagai kepingan puzzle telah terangkai semua, rasanya sangat puas seperti pekerjaan besar yang dapat diselesaikan dengan baik.

Sekali lagi, saya pun paham sebab puzzle itu menarik! Cobalah dan temukan siapa tahu, puzzle akan memberikan beberapa kepingan yang diperlukan dalam hidup Anda!

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.