Artikel

Kesehatan Reproduksi Remaja dan HIV

  • By Lydia Verina Wongso
  • 21 March 2016
None

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. WHO mengkategorikan remaja pada rentang usia 10-19 tahun, sedangkan menurut Permenkes 25/2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun. Adapula yang menggabungkan pembahasan remaja (10-19 tahun) dengan pemuda/youth (15-24 tahun) kemudian disebut dengan orang muda/Young People (10-24 tahun). Berbagai sumber mendefinisikan usia remaja dengan cukup bervariatif, pada pembahasan ini akan berfokus pada remaja dengan rentang usia 10-19 tahun, mengacu pada kategori yang juga digunakan pada berbagai hasil survei. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus 2015, jumlah penduduk di Indonesia usia 10-14 tahun sebanyak 23,4 juta orang dan usia 15-19 tahun sebanyak 21,1 juta. Sekitar 17,5% dari jumlah penduduk Indonesia adalah remaja. Para remaja inilah yang nantinya menjadi penentu kemajuan Bangsa Indonesia. Potensi yang besar dapat diperoleh dengan memberikan investasi pendidikan yang tepat pada masa ini. Namun, beriringan dengan potensi, resiko pun melingkupi para remaja, salah satu adalah terkait isu kesehatan, termasuk penularan HIV.

Mengapa Remaja Rentan terhadap HIV?

Anak rentan pada HIV pada 2 tahap kehidupan mereka. Pertama adalah ketika dekade pertama dimana HIV dapat ditularkan dari ibu ke anak, dan selanjutnya adalah ketika dekade kedua pada hidup anak yaitu ketika memasuki masa remaja. Pada masa remaja terjadi perubahan baik fisik, psikis, kognitif, maupun sosio-emosional. Masa ini menjadi periode ‘coba-coba’, remaja bereksperimen terhadap berbagai hal baru sebagai bentuk pencarian jati diri. Dengan berbagai perubahan yang terjadi dan karakteristik remaja menempatkan mereka pada kerentanan terhadap perilaku beresiko, seperti melakukan hubungan seks, penggunaan napza suntik, bereksperiman dengan orientasi seksualnya (laki-laki melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan laki-laki).

Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) 2012, sebanyak 1,6% remaja perempuan (110 orang) usia 15-19 tahun telah melakukan hubungan seks sebelum berusia 15 tahun. Hanya 40,5% (2.805 orang) remaja perempuan usia 15-19 tahun yang menggunakan kondom ketika berhubungan seksual dan hanya 61% (4.225 orang) yang membatasi hubungan dengan satu pasangan. Hubungan seksual yang dilakukan pada usia yang sangat muda meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi HIV, terutama jika melibatkan pasangan seksual yang beresiko atau pasangan yang berganti-ganti dan penggunaan kondom yang rendah. Selain resiko HIV, melakukan hubungan seksual yang terlalu dini pada remaja juga berdampak pada aborsi yang tidak aman, pernikahan dini, dan melahirkan di usia yang masih sangat muda.

Remaja laki-laki usia 15-19 tahun memiliki prosentase lebih tinggi dalam seks pra-nikah dibandingkan remaja perempuan. Sekitar 4,5% remaja laki-laki dan 0,7% remaja perempuan pernah melakukan seks pra-nikah. Alasan melakukan hubungan seksual yang paling banyak diungkapkan adalah, 57,7% remaja laki-laki karena penasaran/rasa ingin tahu, 38% remaja perempuan menyatakan terjadi begitu saja, dan 12,6% remaja perempuan menyatakan melakukan hubungan seksual karena dipaksa oleh pasangan mereka. Kesadaran yang rendah terkait isu kesehatan dan seksualitas, tekanan sosial dari lingkungan pertemanan, dan pola hubungan yang tidak seimbang menjadi sumber permasalahan kesehatan remaja.

Menurut United Nations Development Economic and Social Affairs (UNDESA) 2010 dalam situasi kesehatan reproduksi remaja menyebutkan Indonesia merupakan Negara ke-37 dengan persentase yang tinggi pernikahan usia muda dan tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Pada tahun 2010, terdapat 158 negara dengan usia legal minimum perempuan menikah adalah 18 tahun, namun sangat disayangkan di Indonesia usia minimal perempuan menikah masih 16 tahun. Berdasarkan SKDI 2012, 12,6% remaja usia 15-19 tahun sudah berstatus menikah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan proporsi kehamilan remaja usia 15-19 tahun di perkotaan sebesar 1,28% di perkotaan dan 2,71% di pedesaan. Kehamilan pada remaja usia di bawah 15 tahun juga masih terjadi meskipun dalam persentase yang kecil sebesar 0,02%.

Seiring tekanan sosial dan ekonomi dalam perubahan menuju dewasa, remaja mulai aktif secara seksual, menikah dan hamil di usia dini yang meningkatkan permasalahan kesehatan di kalangan remaja yang diperparah dengan terbatasnya layanan kesehatan untuk remaja. Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus tidak hanya bagi pemerintah namun juga bagi masyarakat dan terutama orang tua, terutama karena masih kurangnya informasi dan pengetahuan bagi remaja mengenai resiko yang mungkin akan mereka hadapi sebagai dampak dari perilaku tersebut. Masa remaja merupakan masa eksplorasi seksual, oleh karena itu akses informasi dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi menjadi bagian penting di masa ini. Penguasaan hak-hak reproduksi, kematangan dan tanggung jawab individu, memberikan hak-hak individu untuk memperoleh pengetahuan dari layanan kesehatan menjadi aspek mendasar yang perlu dipahami oleh remaja.

Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui sekolah sebenarnya dinilai sebagai salah satu strategi pencegahan yang baik dalam meningkatkan pemahaman remaja dan menurunkan perilaku beresiko di kalangan remaja. Pemerintah sudah mendorong upaya dan gerakan untuk memfasilitasi pendidikan kesehatan reproduksi remaja hanya saja hal ini belum dilakukan secara komprehensif dan meluas. Masih terdapat penolakan baik dari pihak sekolah ataupun masyarakat terkait pemberian pendidikan kesehatan reproduksi ataupun informasi yang membahas isu seksualitas karena dirasa sebagai suatu hal yang tabu. Pemikiran bahwa pemberian pendidikan seks dan pemahaman mengenai kondom mendorong para remaja menjadi aktif secara seksual dan meningkatkan angka kehamilan masih dijadikan alasan penolakan tersebut. Mitos-mitos ini haruslah mulai dan segera direduksi. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan kesehatan seksual harus mulai ditingkatkan sebagai langkah awal memberikan akses informasi yang akurat bagi remaja. Model pendidikan kesehatan reproduksi yang dibawakan dengan kesan “menakut-nakuti” remaja untuk menghindari seks juga harus mulai bergeser dan diarahkan ke pendidikan kesehatan reproduksi yang positif (dengan tetap memaparkan resiko dan konsekuensi secara objektif) sehingga semua informasi dapat disampaikan secara komprehensif dan tidak dibatasi karena dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Perlu diperhatikan bahwa pembahasan mengenai kesehatan reproduksi remaja bukanlah sekedar isu kesehatan semata, namun juga sangat terkait dengan isu sosial dan budaya yang mana masih sangat membatasi remaja untuk dapat memperoleh informasi dan pelayanan yang komprehensif.

Referensi

Avert. 2015. Young People, Adolsecent, and HIV/AIDS. Diakses pada 20 Februari 2016 dari http://www.avert.org/professionals/hiv-social-issues/key-affected-populations/young-people

Badan Pusat Statistik. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS). Diakses pada 20 Februari 2016 dari http://www.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Penduduk-Indonesia-hasil-SUPAS-2015_rev.pdf

Idele, P., dkk. 2014. Epidemiology of HIV and AIDS Among Adolescents: Current Status, Inequities, and Data Gaps.

Kementerian Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar.

Kemeterian Kesehatan. 2015. Infodatin: Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja.

Survei Demografi & Kesehatan Indonesia. 2012. Diakses pada 6 Maret 2016 dari https://dhsprogram.com/pubs/pdf/FR275/FR275.pdf

UNICEF. 2013. Towards an AIDS-free Generation. Diakses pada 6 Maret 2016 dari http://www.unaids.org/sites/default/files/media_asset/20131129_stocktaking_report_children_aids_en_0.pdf

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya