Artikel

Ketika Energi Rasanya Tiada Lagi: Burnout di Masa Pandemi

  • By Evi Sukmaningrum
  • 23 July 2021
Foto Hanya Ilustrasi.

“Dulu gue rasanya happy banget WFH karena nggak perlu macet-macetan ke kantor. Tapi sekarang rasanya gue lelah sekali. Pekerjaan mengalir tidak ada hentinya bahkan di luar jam kerja sekalipun. Belum lagi ‘tegangan tinggi’ karena miskom antar temen, ada yang kerja dan ada enak-enakan WFH rasa liburan. Gue sekarang merasa jadi mudah sekali marah, cepet tersinggung, tiba-tiba sedih nggak jelas, dan rasanya pengin teriak. Otak juga kayak susah mikir dan nggak pengen lihat layar laptop lagi. Gue udah nggak tahan liat setiap email atau WA yang masuk soal kerjaan. Drained banget rasanya dan gak ada semangat apapun.” (sebut saja Vita, bukan nama asli, 30 tahun, karyawan swasta)

 

Ilustrasi tersebut adalah satu dari sekian banyak keluhan yang terjadi di masa pandemi Covid-19, dan keluhan-keluhan kala pandemi bisa datang dari siapa saja, mulai dari anak-anak, dewasa muda hingga lansia. Sudah lebih dari setahun sejak pertama kali Covid-19 melanda dunia. Ada banyak sekali perubahan yang menuntut semua orang melakukan penyesuaian diri karena situasi pandemi yang tiba-tiba terjadi. Tekanan yang intens dan kelelahan luar biasa pada awalnya banyak dialami oleh para tenaga kesehatan sebagai upaya mengatasi dampak pandemi. Namun, ketika penyakit menular ini terjadi dalam durasi yang lama, dengan kompleksitas yang ekstra, dan memicu terjadinya situasi ambiguitas, pada akhirnya turut memberikan tuntutan berlebih pada sumber daya koping yang dimiliki setiap individu. Walhasil, menjadi sangat wajar ketika tekanan tersebut mengakibatkan konsekuensi psikopatologis yang persisten seperti stres yang akut, kecemasan, dan kelelahan emosional.

Selain profesional medis, masyarakat juga terkena dampak stres yang lazim akibat wabah penyakit menular. Berbagai studi menunjukkan bahwa upaya dalam mengatasi dampak pandemi ini bisa jadi terasa luar biasa melelahkan. Individu sangat mungkin merasa bila enegerinya seperti terkuras, lalu muncul cemas atau perasaan-perasaan (mood) yang negatif.  Kondisi fatigue lalu berangsur menjadi buruk dan akhirnya memicu pada kondisi yang disebut sebagai burnout atau saat ini dikenal dengan istilah burnout pandemicBurnout adalah apa yang terjadi ketika individu telah melewati batas toleransi secara mental, emosional, dan fisik akibat stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Burnout pertama kali dijelaskan oleh seorang Psikolog, Herbert Freudenberger  pada tahun 1974. Tiga elemen utama yang mencirikan burnout antara lain: kelelahan emosional (overextension, drained, exhausted) yang menyebabkan turunnya motivasi, depersonalisasi (ditandai dengan sikap negatif, sinis, merasa sulit terhubung dengan orang lain maupun lingkungan sosialnya) dan perasaan negatif akan pencapaian pribadinya (misal: perasaan tidak kompeten, merasa bersalah dan putus asa, merasa tidak berdaya untuk melakukan pekerjaan, dll).

Kondisi tersebut dapat diekspresikan dalam bentuk yang berbeda satu sama lain. Pada anak-anak, umumnya terdapat keluhan seperti aktif yang berlebihan, sulit tidur, tantrum hingga keluhan yang mirip atau tumpang tindih dengan simtom cemas dan depresi. Orang tua banyak mengeluhkan kelelahan fisik dan emosional dalam mendampingi anak sekolah daring, di samping tugas-tugas lain, baik tugas domestik maupun pekerjaan kantor. Akan tetapi, di sisi lain para guru-guru di sekolah usia dini hingga tenaga pendidik di level pendidikan tinggi tengah membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk membuat materi ajar di kelas daring menjadi menarik dan bisa dipahami, belum lagi pekerjaan administratif yang juga membutuhkan penyesuaian.

Tidak dapat disangkal bahwa pandemi telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan hampir semua orang. Dengan semua penyesuaian yang diperlukan, maka kelelahan fisik, mental, dan emosional menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Namun demikian, penting untuk mengenali gejala awal dari burnout, seperti perasaan overwhelmed atau kewalahan, suasana hati yang cenderung negatif, kehilangan energi dan semangat, dan merasa tidak berdaya dalam situasi, kehilangan percaya diri, dan serta merasa kesulitan untuk memenuhi tuntutan rutin maupun pekerjaan. Beberapa orang merasa lebih lekas marah, mudah berkonflik dan merasa putus asa. Kadangkala gejala ini juga disertai dengan gejala fisik, seperti sakit punggung, sakit kepala, gangguan tidur, dan kehilangan nafsu makan.  

Kehidupan sehari-hari yang ‘normal’ seperti sudah digantikan dengan situasi yang dilematis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika dulu pelukan satu sama lain adalah menguatkan, sekarang pelukan itu hanya bisa melalui tatapan mata. Ketika dulu mendapatkan kiriman makanan atau paket disambut dengan suka cita, saat ini kiriman makanan atau barang tersebut harus kita sterilkan dan pastikan kebersihannya. Belum lagi mereka yang harus kehilangan pekerjaan, mendengar berita terkait informasi Covid-19, keluarga yang sakit namun tidak bisa ditemani, kehilangan orang yang dicintai, dan duka cita telah menambah buruknya kondisi psikologis yang dialami.

Pandemi ini adalah momen penting untuk seluruh sistem lingkungan, mulai dari diri sendiri, sistem mikro seperti keluarga dan kerabat hingga sistem yang paling besar, yaitu negara untuk memberikan penguatan satu sama lain. Merangkum bacaan dari beberapa artikel yang telah terpublikasi, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah maupun mengurangi burnout baik bagi diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Pertama, melakukan perawatan diri. Merawat diri artinya memberikan sedikit waktu untuk melakukan kegiatan atau apapun, bahkan hal yang sederhana, yang dirasakan membuat diri kita senang. Kedua, melakukan hobi yang disukai, olahraga ringan di rumah, relaksasi, dan mengatur makanan yang sehat. Dengan melakukan salah satu atau kombinasi dari hal-hal tersebut bisa meningkatkan energi dan perasaan-perasaan (mood) yang positif bagi diri kita. Ketiga, menguatkan jaringan sosial atau support system. Mempunyai orang-orang yang bisa diajak berbicara ketika kita mengalami masa-masa sulit sangatlah penting, namun sebaliknya, kita juga perlu dan mampu memberikan penguatan bagi teman maupun orang lain yang membutuhkan dukungan kita. Keempat, mencari nilai atau makna dari setiap hal yang dilakukan. Hal ini akan membantu kita untuk mendapatkan lebih banyak tujuan, nilai, dan harapan. Selanjutnya, yang terpenting adalah lakukan pencarian bantuan professional ketika kondisi yang dialami telah berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih buruk.

 

Sumber bacaan

Dimitriu, M., Pantea-Stoian, A., Smaranda, A. C., Nica, A. A., Carap, A. C., Constantin, V. D., Davitoiu, A. M., Cirstoveanu, C., Bacalbasa, N., Bratu, O. G., Jacota-Alexe, F., Badiu, C. D., Smarandache, C. G., & Socea, B. (2020). Burnout syndrome in Romanian medical residents in time of the COVID-19 pandemic. Medical hypotheses, 144, 109972. https://doi.org/10.1016/j.mehy.2020.109972

Griffith, A.K. Parental Burnout and Child Maltreatment During the COVID-19 Pandemic. J Fam Viol (2020). https://doi.org/10.1007/s10896-020-00172-2

Queen, D., & Harding, K. (2020). Societal pandemic burnout: A COVID legacy. International wound journal, 17(4), 873–874. https://doi.org/10.1111/iwj.13441

Shao, R., Shi, Z., Zhang, D., Social Media and Emotional Burnout Regulation During the COVID-19 Pandemic: Multilevel Approach.J Med Internet Res 2021;23(3):e27015. URL: https://www.jmir.org/2021/3/e27015. DOI: 10.2196/27015

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.