Penelitian

Millennials dan HIV AIDS

  • By Gaby Gabriela Langi
  • 05 February 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Pendapat para ahli dari berbagai negara dan profesi bervariasi dalam menentukan siapa yang disebut generasi millennials. Hasil kajian literatur dalam “Profil Generasi Milenial Indonesia Tahun 2018” menyimpulkan bahwa millennials Indonesia adalah penduduk yang dilahirkan antara tahun 1980 hingga tahun 2000 [1]. Istilah “millennials” pertama kali dicetuskan oleh Howe & Strauss (1991) dalam bukunya Generation dan menjadi populer melalui bukunya Millennials Rising: The Next Great Generation [2]. Millennials juga disebut sebagai generasi Y. Sebelum millennials lahir, terdapat generasi X (lahir 1960 – 1979), dan generasi Veteran serta Baby Boom (lahir < 1960) [3]. Di tahun 2020, millennials berada pada kelompok umur 20 – 40 tahun.  

Selain didefinisikan berdasarkan tahun kelahiran, millennials juga dibedakan berdasarkan label yang melekat pada mereka. Pandangan optimis memberikan label mereka sebagai individu yang berpikiran terbuka, berjiwa sosial, inovatif, energik, ambisius, percaya diri, termotivasi dan cerdas. Selain itu, hal yang paling mencolok dari millennials bahwa mereka terhubung secara global melalui internet dan media sosial [4].

Jumlah millennials Indonesia telah mencapai sekitar sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia. Bonus demografi di Indonesia akan menyebabkan jumlah usia produktif  (15-64 tahun) mencapai sekitar 70% dari total jumlah penduduk pada rentang waktu tahun 2020 – 2030. Sekitar 50% dari jumlah penduduk usia produktif di Indonesia adalah kaum millennials. Millennials Indonesia diketahui memiliki tingkat pendidikan dan kemampuan adaptasi terhadap teknologi yang lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dibesarkan bersamaan dengan kemajuan teknologi membuat mereka tumbuh menjadi individu kreatif, informatif, bersemangat, dan produktif. Generasi ini identik dengan cara berkomunikasi yang terbuka, pengguna aktif media sosial, dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Hal ini terlihat pada tingginya persentase penggunaan telepon seluler, komputer, dan internet pada generasi ini [1].

Mengapa millennials dikaitkan dengan isu HIV AIDS?

Hingga tahun 2019, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa HIV AIDS masih menjadi masalah kesehatan global dan tercatat sebagai penyebab kematian 32 juta orang di dunia [5]. Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Juni 2019, HIV AIDS telah dilaporkan oleh 463 (90,07%) kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah kasus HIV yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2019 mengalami kenaikan tiap tahunnya [6].

Kemenkes RI mencatat persentase kumulatif AIDS dari tahun 2005 – 2019 tertinggi pada kelompok umur 20-39 tahun yaitu sebesar 63,1% [6]. Artinya enam dari sepuluh penderita AIDS berada pada kelompok umur 20 – 39 tahun sehingga bisa disimpulkan bahwa sebagian besar penderita AIDS di Indonesia adalah kaum millennials. Masa inkubasi untuk menjadi positif HIV adalah 1-3 bulan dan perkembangannya hingga menjadi AIDS berkisar 1-18 tahun dengan rata-rata 10 tahun [7] . Hal ini mengindikasikan bahwa infeksi HIV di Indonesia paling banyak terjadi pada usia muda dan generasi millennials menjadi sasaran utama infeksi HIV.

Profil Generasi Milenial Indonesia menunjukkan bahwa millennials rentan terhadap penyalahgunaan narkoba yang didominasi oleh kelompok pekerja dan pelajar. Salah satu faktor risiko tertinggi penularan HIV adalah pengguna napza suntik (penasun). Data Kemenkes RI dari April hingga Juni 2019 menunjukkan bahwa penasun menempati faktor risiko tertinggi infeksi HIV yaitu sebesar 56% [6]. Dan kelompok penasun memiliki proporsi kedua tertinggi infeksi HIV berdasarkan hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Tahun 2018 – 2019 [8]. Survei Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2017 menunjukkan bahwa hampir semua informan mengatakan bahwa alasan penggunaan narkoba karena “ingin tahu/coba-coba” dan umumnya karena pengaruh bujukan teman [9]. Hal ini sangat berkaitan dengan kecenderungan millennials yang mementingkan aktualisasi diri dan pengakuan dari orang lain.

Selain itu, kedekatan millennials dengan teknologi informasi menjadi tantangan tersendiri dalam memilah mana infomasi yang benar dan yang salah. Bagi millennials,  kemudahan akses informasi yang ditopang dengan internet dan media sosial ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi bisa menyebabkan adanya paparan negatif yang berpotensi pada terbentuknya berbagai perilaku berisiko terhadap infeksi HIV. Tapi di sisi lain, bisa menjadi sumber informasi yang benar dan komprehensif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. Pada dasarnya, millennials Indonesia dilahirkan dan dibesarkan bersamaan dengan pergolakan ekonomi, politik, dan sosial yang melanda Indonesia sehingga semangat reformasi menyebabkan kaum millennials juga tumbuh menjadi individu-individu yang berpikiran terbuka, demokratis, kritis dan berani [1]. Karakteristik personal kaum millennials tersebut apabila disertai dengan pemanfaatan teknologi dan informasi yang benar harusnya bisa menjadi fondasi yang kuat untuk bertindak benar dalam rangka mencegah dan menanggulangi infeksi HIV.

 

Referensi:

  1. Badan Pusat Statistik. Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial Indonesia, 2018. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2018 https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/9acde-buku-profil-generasi-milenia.pdf
  2. Strauss W, Howe N. Millennials rising: The next great generation. New York: Vintage Books; 2000.
  3. Zemke R, Raines C, Filipczak B. Generations at work: Managing the clash of Veterans, Boomers, Xers, and Nexters in your workplace. Amacom; 1999 Aug 30.
  4. Ordun G. Millennial (Gen Y) consumer behavior their shopping preferences and perceptual maps associated with brand loyalty. Canadian Social Science. 2015 Apr 26;11(4):40-55.
  5. WHO. HIV/AIDS. World Health Organization; 2019. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids
  6. Kemenkes RI. Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan II Tahun 2019. Jakarta: Kemenkes RI; 2019. https://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_HIV_TW_II_20192.pdf
  7. Weber, R. Communicable Disease Epidemiology and Control Third Edition: A Global Perspective. United Kingdom: Cambridge University Press. 2009
  8. Kemenkes RI. Survei Terpadu Biologis dan Perilaku 2018 – 2019. Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia. 2019
  9. Badan Narkotika Nasional. Survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba di 34 Provinsi tahun 2017. Pusat Penelitian Data dan Informasi Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. 2017.