Millennial dan HIV AIDS

2020

Foto Hanya Ilustrasi.

Kelompok millennial memiliki hubungan erat dengan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia.

Pendapat para ahli dari berbagai negara dan profesi bervariasi dalam menentukan siapakah generasi millennials. Hasil kajian literatur dalam Profil Generasi Milenial Indonesia Tahun 2018 menyimpulkan bahwa millennials Indonesia adalah penduduk yang lahir antara tahun 1980 hingga tahun 2000.

Istilah “millennials” pertama kali dicetuskan oleh Howe & Strauss (1991) dalam bukunya Generation dan menjadi populer melalui bukunya Millennials Rising: The Next Great Generation. Millennials juga disebut sebagai generasi Y. Sebelum millennials lahir, terdapat generasi X (lahir 1960 – 1979), dan generasi Veteran serta Baby Boom (lahir < 1960). Di tahun 2020, millennials berada pada kelompok umur 20 – 40 tahun.

Karakteristik, label, dan karakter digital Millennial

Selain berdasarkan tahun kelahiran, millennials juga memiliki label yang melekat pada mereka.

Pandangan optimis memberikan label mereka sebagai individu yang berpikiran terbuka, berjiwa sosial, inovatif, energik, ambisius, percaya diri, termotivasi dan cerdas.

Selain itu, hal yang paling mencolok dari millennials bahwa mereka terhubung secara global melalui internet dan media sosial.

Potensi Demografi

Jumlah millennial Indonesia telah mencapai sekitar sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia.

Bonus demografi di Indonesia akan menyebabkan jumlah usia produktif (15-64 tahun) mencapai sekitar 70% dari total jumlah penduduk pada rentang waktu tahun 2020 – 2030. Sekitar 50% dari jumlah penduduk usia produktif di Indonesia adalah kaum millennials. Millennials Indonesia cenderung memiliki tingkat pendidikan dan kemampuan adaptasi terhadap teknologi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Tumbuh bersamaan dengan kemajuan teknologi, mereka hidup menjadi individu kreatif, informatif, bersemangat, dan produktif. Generasi ini identik dengan cara berkomunikasi yang terbuka, pengguna aktif media sosial, dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.

Hal ini terlihat pada tingginya persentase penggunaan telepon seluler, komputer, dan internet pada generasi ini.

Millennials dan Isu HIV dan AIDS

Hingga tahun 2019, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa HIV dan AIDS masih menjadi masalah kesehatan global dan tercatat sebagai penyebab kematian 32 juta orang di dunia.

Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Juni 2019, HIV dan AIDS telah dilaporkan oleh 463 (90,07%) kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

Jumlah laporan kasus HIV dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2019 mengalami kenaikan tiap tahunnya.

Prevalensi kasus AIDS tertinggi pada kelompok usia produktif

Kementerian Kesehatan RI mencatat persentase kumulatif AIDS dari tahun 2005 – 2019 tertinggi pada kelompok umur 20-39 tahun yaitu sebesar 63,1%.

Artinya, 6 dari 10 orang dengan AIDS berada pada kelompok umur 20-39 tahun. Maka dari itu, sebagian besar orang dengan AIDS di Indonesia adalah bagian dari millennial.

Masa inkubasi untuk menjadi positif HIV adalah 1-3 bulan dan perkembangannya hingga menjadi AIDS berkisar 1-18 tahun dengan rata-rata 10 tahun.

Hal ini mengindikasikan bahwa infeksi HIV di Indonesia paling banyak terjadi pada usia muda dan generasi millennials menjadi sasaran utama infeksi HIV.

Kerentanan terhadap penggunaan napzasSuntik

Profil Generasi Milenial Indonesia menunjukkan bahwa millennials rentan terhadap penyalahgunaan napza sebagai pekerja dan pelajar.

Salah satu faktor risiko tertinggi penularan HIV adalah pengguna napza suntik (penasun). Data Kemenkes RI dari April hingga Juni 2019 menunjukkan bahwa penasun menempati faktor risiko tertinggi infeksi HIV yaitu sebesar 56% [6]. Dan kelompok penasun memiliki proporsi kedua tertinggi infeksi HIV berdasarkan hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Tahun 2018 – 2019.

Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2017 menunjukkan bahwa hampir semua informan mengatakan bahwa alasan penggunaan narkoba karena “ingin tahu/coba-coba” dan umumnya karena pengaruh bujukan teman.

Hal ini sangat berkaitan dengan kecenderungan millennials yang mementingkan aktualisasi diri dan pengakuan dari orang lain.

Tantangan teknologi informasi

Selain itu, kedekatan millennial dengan teknologi informasi menjadi tantangan tersendiri dalam memilah mana informasi yang benar dan yang salah.

Bagi millennial, kemudahan akses informasi oleh internet dan media sosial ibarat pedang bermata dua.

Di satu sisi bisa menyebabkan adanya paparan negatif yang berpotensi pada terbentuknya berbagai perilaku berisiko terhadap infeksi HIV. Tapi di sisi lain, bisa menjadi sumber informasi yang benar dan komprehensif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS.

Pada dasarnya, millennials Indonesia lahir dan besar bersamaan dengan pergolakan ekonomi, politik, dan sosial yang melanda Indonesia. Lebih jauh lagi, semangat reformasi menyebabkan millennial juga tumbuh menjadi individu yang berpikiran terbuka, demokratis, kritis dan berani.

Karakteristik personal kaum millennials tersebut seharusnya menjadi fondasi yang kuat untuk mencegah infeksi HIV.

Only available in Indonesian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download

Millennial dan HIV AIDS