Artikel

Penjangkauan LSL dalam Program HIV selama Pandemi COVID-19: Kerja Esensial

  • By Amalia Puri Handayani , IgnatiusPraptoraharjo , SandeepNanwani , BenjaminHegarty
  • 01 September 2021
Foto Hanya Ilustrasi.

Setahun lalu (2020), kami melakukan studi dengan melihat pengalaman salah satu organisasi penjangkauan HIV berbasis komunitas selama awal pandemi COVID-19. Kami menemukan, ketika pandemi, penjangkau diposisikan secara ambigu antara sebagai “pekerja kesehataan” dan “pekerja berbasis komunitas”. Donor internasional lebih menekankan solusi teknis dan farmasi (seperti tes mandiri (self-testing), pengantaran obat, platform daring, dukungan kesehatan mental). Inovasi ditujukan bagi dampingan alih-alih mempertimbangkan kenyataan kerja penjangkau sebagai bagian dari pekerja kesehatan. Peran mereka menjadi lebih luas dalam kesehatan masyarakat selama pandemic. Pada saat yang sama, lembaga donor harus mengikuti kebijakan pemerintah untuk mengurangi kunjungan ke layanan kesehatan ketika pandemi, terlihat dari kebijakan mengurangi biaya transportasi bagi petugas penjangkau. Dengan keterbatasan dukungan finansial dan tanpa perubahan praktik kerja yang substansial, penjangkau sebagai petugas lapangan tidak tinggal diam, apalagi ketika melihat komunitas membutuhkan pertolongan dalam mengakses layanan HIV. Alhasil, penjangkau masuk dalam garda depan yang menghadapi risiko tinggi terpapar COVID-19.

Kebijakan dalam merespons pandemi COVID-19 berdampak pada layanan HIV. Respons pemerintah daerah dan lembaga donor internasional membuat kerja penjangkauan perlu menyesuaikan diri selama pandemi. Kapasitas di layanan kesehatan dibatasi selagi layanan diprioritaskan pada kasus COVID-19 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2020). “Hanya untuk kasus yang urgent saja,” begitu kata petugas kesehatan yang diamini penjangkau dan petugas LSM. Lembaga internasional mengusung penjangkauan secara virtual (UNAIDS 2020). Penjangkau yang tadinya lebih sering bertemu langsung dengan komunitas di beberapa lokasi jadi “gigit jari” pada awal pandemi. Tempat-tempat komunitas biasa berkumpul juga tutup seiring kebijakan PSBB pada Juni 2020. Penjangkau diminta untuk bekerja dari rumah.

Lalu, apa lagi dampak pandemi COVID-19 terhadap peran dan kerja penjangkau?

Pandemi belum mereda; kerja penjangkauan terus berlanjut. Pandemi COVID-19 masih berlangsung dalam jangka waktu lama. Jumlah kasus COVID-19 meningkat tajam pada Juni 2021. Kebijakan turut berubah dalam menanggapi situasi ini. Studi ini melihat proses perubahan pada awal pandemi (2020) dan melacak lebih lanjut tentang konsekuensi jangka panjang pandemi COVID-19 terhadap pekerja utama dalam pemberian layanan HIV. Dengan demikian, studi ini bisa menjadi bahan pembelajaran bersama dalam merespons COVID-19 terkait penjangkauan LSL dalam program HIV.

Pada awal pandemi 2020, kami melakukan wawancara dengan 10 penjangkau LSL di Jakarta; 4 staf LSM yang berfokus pada isu LSL; dan 6 tenaga kesehatan di Jakarta. Sepuluh penjangkau itu bekerja dengan dukungan dua donor yang berbeda. Selain mengisi survei singkat, penjangkau juga turut serta dalam diskusi kelompok terarah, sekaligus mengirimkan video setiap minggu selama 4 minggu berturut-turut untuk menceritakan pengalaman mereka. Sehubungan dengan kebijakan awal dalam merespons pandemi COVID-19 yang kerap berubah selama Juli sampai September 2020, mereka menceritakan dampaknya terhadap penjangkauan kepada kami secara virtual. Beragam pendekatan ini kami lakukan untuk melihat berbagai perspektif, sekaligus menjadikannya sebagai kesempatan bagi penjangkau saling berefleksi sekaligus memberikan komentar terhadap temuan awal studi.

Setelah membaca kembali dan mengelompokkan cerita mereka, kami melihat kemiripan sekaligus variasi pengalaman sebelum dan selama pandemi COVID-19. Organisasi donor meminta mereka mengubah haluan menjadi penjangkauan virtual. Ini memang bukan barang baru. Penjangkauan virtual sudah dikenal di Indonesia sebelum pandemi muncul, misalnya menggunakan WhatsApp untuk berkoordinasi dengan tenaga kesehatan (Wilcher and Akolo 2020). Pengetahuan ini bermanfaat bagi penjangkau ketika merespons kebijakan pandemi COVID-19.

Perubahan lainnya terlihat pada target yang mesti dicapai. Sebelum maupun selama pandemi, target terlihat dari kaskade HIV, mulai dari jumlah ODHIV yang tahu status mereka, jumlah ODHIV yang mulai pengobatan, dan jumlah orang yang sudah mulai perawatan tanpa putus akan mencapai penekanan virus. Target ini pun berubah mengikuti kebijakan respons pemerintah terhadap pandemi COVID-19 dan pertimbangan asumtif bahwa seakan-akan penjangkauan virtual tidak makan waktu sebanyak pertemuan langsung.

“Targetan itu yang berubah virtualnya… Awalnya, sebulan itu cuma 5 [orang] dulu sebelum pendemi. Nah, sekarang, satu bulan harus 60 orang.” (Wawancara penjangkau, 9 Juli 2020)

Kerja penjangkauan virtual juga berpengaruh terhadap hubungan dengan dampingan. Kepercayan lebih mudah didapat ketika tatap muka. Alhasil, penjangkau bukan hanya melakukan kerja secara virtual, mereka tetap harus bertemu langsung dengan para pendamping pada kenyataannya, termasuk menemani pendamping pergi ke klinik atau rumah sakit. 

Salah satu temuan dalam analisis kami adalah tugas dan peran penjangkau, baik secara virtual maupun pertemuan langsung, tidak dipahami sebagai kerja fundamental dalam kesehatan masyarakat. Apapun cara penyampaiannya, kerja penjangkau punya pengaruh besar dalam kesuksesan program HIV. Kami menyajikan kembali pengalaman mereka dalam bentuk “lima langkah kerja penjangkau”, yang sudah dilakukan sejak sebelum pandemi sampai ketika pandemi masih berlangsung. 

Langkah pertama: menarik perhatian

“Kalau kita pakai foto profil yang menarik, pasti banyak banget yang nge-chat. Jadi, kita tinggal balas-balasin aja.” (Diskusi Kelompok Terarah, 21 Agustus 2020)

Langkah pertama untuk menarik perhatian calon dampingan (klien) penting untuk memancing komunikasi awal. Ini merupakan modal untuk mengajak berpartisipasi dalam program HIV. Sebelum pandemi, penjangkau lebih sering melakukan langkah ini dengan mendatangi lokasi komunitas atau menyelenggarakan layanan kesehatan keliling. Pandemi menuntun penjangkau untuk berstrategi secara virtual. Meskipun penjangkauan virtual bukan barang baru, penjangkau perlu menyesuaikan diri.

Ada tiga platform yang biasa mereka gunakan, yaitu aplikasi kencan, media sosial (Instagram, Facebook), dan WhatsApp. WhatsApp punya peran penting untuk berkomunikasi lebih lanjut, selain sebagai bukti pencapaian target yang perlu diserahkan kepada lembaga tempat mereka bekerja. Namun, sebelum itu, penjangkau perlu menarik perhatian di aplikasi kencan yang biasa digunakan LSL karena potensi targetnya lebih mengerucut. Foto terbaik—pun kadang perlu diedit—yang dijadikan foto profil disebut-sebut sebagai cara jitu oleh banyak penjangkau.

Editnya nggak yang mati-matian juga kali. Kalau nanti ketemuan, kan nggak enak. Maksudnya, foto yang menurut kita paling bagus buat dijadiin profil.” (Diskusi Kelompok Terarah, 21 Agustus 2020)

Penjangkauan virtual membuat para penjangkau menghabiskan jauh lebih banyak waktu secara daring (online), mulai dari melihat-lihat profil, sembari menunggu kecocokan dan menjawab percakapan. Bukan hanya perkara waktu, lokasi juga menentukan hasil. Sehubungan aplikasi kencan berbasis lokasi, orang-orang yang muncul tidak jauh berbeda setelah beberapa minggu membuka aplikasi dari tempat yang sama. Berakal panjang, penjangkau menggunakan aplikasi lain untuk mengelabui lokasinya supaya bisa menjangkau orang-orang baru di luar wilayahnya.

“Itu aplikasinya free… Jadi, sebenarnya agak-agak riskan juga, handphone-nya bisa lebih cepat kena hack… Kalau misalkan kita cuma ngandelin buka aplikasi tapi di rumah, orangnya tetap itu-itu saja, jadi mau-nggak-mau, saya bikin fake GPS, terus aku taruh titik-tituknya di tempat-tempat yang biasa kita ketemu atau di tempat yang banyak kost-kostan komunitas seperti kita,” cerita penjangkau dalam wawancara pada 13 Juli 2020.

Langkah kedua: membangun dan merawat hubungan

“Kalau lanjut ke WhatsApp, udah jadi kayak temen… Nah, kalau di sini, petugas penjangkau ibarat kayak sales(Wawancara penjangkau, 9 Juli 2020)

Setelah berhasil menarik perhatian, langkah selanjutnya adalah membangun dan merawat hubungan dengan calon klien. WhatsApp memang punya peranan penting bagi penjangkau untuk memudahkan komunikasi dengan dampingan dan memverifikasi target. Untuk bisa terus berhubungan, (calon) dampingan bisa diajak gabung dalam grup WhatsApp. Di beberapa grup, tingkat seleksinya cukup berlapis dan peraturannya cukup ketat demi menjaga keamanan identitas sebagai LSL. Di balik upaya menjaga hubungan, tak jarang, mereka diblok atau didiamkan saja ketika bertanya tentang informasi yang lebih personal.

“Jadi, kalau seandainya si kelompok dampingan beralasan terus, aku biasanya pepet. Tapi, ada juga yang akhirnya ngerasa keganggu, mungkin aku diblok.” (Wawancara penjangkau, 9 Juli 2020)

Selama pandemi, tantangan bagi penjangkau adalah menjaga keseimbangan antara menjaga hubungan dan menghargai jarak. Penjangkauan virtual ternyata lebih sulit membangun kepercayaan dari calon dampingan dibandingkan tatap muka. Jadi, sebagian penjangkau masih bertemu langsung dengan calon dampingan di tempat tinggalnya, berhubung tempat-tempat publik masih ditutup.

“Banyak dari mereka takut untuk keluar gitu, tapi anehnya kalau untuk ketemuan di kostan, mereka mau… Sebelum PSBB, [penjangkau] masih bisa punya pilihan untuk ketemuan di luar dulu sebelum ngajak ke kostan. Setelah [selama] PSBB, jadi banyak [calon dampingan] langsung ketemu di kostan.” (Wawancara penjangkau, 13 Juli 2020)

Beberapa di antara mereka mengungkapkan strateginya. Dalam diskusi kelompok terarah pada 28 Agustus 2020, mereka cerita bahwa salah satu strateginya adalah mengatakan tertarik berhubungan seksual kepada calon dampingan kalau calon dampingan melakukan tes HIV. Setelah tes, mereka membuat alasan lain untuk keluar dari situasi itu.  

Langkah ketiga: menyediakan informasi HIV dan aktivitas seksual yang aman

“Minimal, aku memberikan impact, walaupun sedikit, tapi bermanfaat gitu… Minimal, kita menyampaikan informasi terkait HIV AIDS, TB, IMS, dan lain-lain. Itu juga termasuk salah satu penjangkauan.” (Wawancara penjangkau, 13 Juli 2020)

Setelah berhasil membangun rapor, penjangkau memberikan informasi tentang HIV, termasuk cara akses tesnya, beserta cara berhubungan seksual yang aman. Dua donor utama dalam penjangkauan mengubah metode penjangkauan menjadi virtual.[1] Contohnya, sebelum pandemi, target penjangkauan virtual adalah 5 orang, sedangkan pada awal pandemi, mereka diminta untuk setidaknya menghubungi 60 orang secara virtual. Sebagian penjangkau memandang pentingnya informasi tersebut dipahami, sedangkan komunikasi daring menyulitkan untuk memastikan hal yang satu ini. Sebagian lain memaknainya sebatas pemberian informasi.  

Faktanya, penjangkau tidak hanya melakukan penjangkauan virtual, juga masih perlu melakukan pertemuan dengan klien. Untuk memenuhi targetnya, penjangkau perlu memfasilitasi klien dengan penyedia layanan kesehatan yang kerap sulit dilakukan hanya melalui daring. Maka itu, penjangkau mengkombinasikan antara virtual dan pertemuan langsung. Ditambah, penjangkauan virtual menghalangi pemberian kondom dan lubrikan. 

Sejak pandemi COVID-19, penjangkau sering mendapat pertanyaan tentang COVID-19, meskipun tidak ada pelatihannya. Mereka perlu mencari tahu informasi dasar COVID-19, perkembangannya, termasuk memastikan kebenaran sumber sebelum memberitahukannya kepada dampingan. Peran penjangkau pun melebar menjadi sumber yang dipercaya terkait COVID-19, bukan hanya tentang HIV. Pada saat yang sama, program HIV seakan memisah-misahkan isu kesehatan secara struktural; mereka masih menekankan pentingnya target program HIV yang terpenuhi.  

“Contoh, ajakan sempat beberapa ditolak. Padahal, aku udah kasih penjelasan, “Iya, aku tahu ini lagi PSBB dan ini lagi pandemi, tapi kesehatan kamu kan juga penting... Kamu tahu gejala Covid seperti apa? Kamu ada gejala tersebut gak? … Kalau nggak, di puskesmas kamu pasti nggak bakal dipertanyakan mau ke mana.” Responnya masih takut karena pemberitaan di media [tentang COVID-19] pada awal Maret. Jadi, [calon klien] yang harusnya mau tes harus mengurungkan diri dulu. Itu banyak banget.”(Wawancara penjangkau, 9 Juli 2020)

Selain itu, penjangkau menjadi penghubung antara dampingan dan penyedia layanan kesehatan. Penjangkau menunjukkan kemampuan untuk memberikan informasi dan layanan di luar isu HIV. Penjangkau tetap berupaya memenuhi target. Untuk mendukungnya, ada upaya mengubah metode laporan kerja. Namun, beberapa penjangkau merasa perubahan itu malah menambah kerja administrasi.

Langkah keempat: menghubungi dampingan kembali

“Jadi, aku strategi, sih. Bukan karena si A sudah dibawa tes, [penjangkau] kayak nggak mau berteman ama mereka. Selagi dia responsnya baik, aku juga bakal manis… Biasanya, ngajakin [bertemu langsung] untuk ngejaga hubungan dulu. Tetep kita intens ada chat. Misalnya, dia nulis status, entah dia galau atau apa. Biasanya, [penjangkau] komen.” (Wawancara penjangkau, 9 Juli 2020)

Langkah keempat ini sebenarnya mirip dengan langkah kedua, yaitu membangun dan merawat hubungan. Keduanya sama-sama membutuhkan komunikasi terus-menerus. Penjangkau yang berada dalam program Global Fund, misalnya, menceritakan pengalamannya ketika September 2020, prioritas target mereka berubah, yaitu meminta dampingan-dampingan terdahulu untuk VCT lagi. Ada target dari donor untuk meminta dampingan melakukan tes setiap 3 sampai 6 bulan secara berulang (bersamaan dengan langkah kelima: merujuk kepada penyedia layanan kesehatan).

Penjangkau bertugas untuk memfasilitasi komunitas untuk mengakses tes HIV dan infeksi menular seksual (IMS). Selama pandemi COVID-19, penjangkau lebih sering menanyakan (calon) dampingan tentang gejala IMS karena fasilitas kesehatan hanya menerima pasien dengan kasus urgen. Meskipun sebagian penjangkau tidak diperbolehkan datang ke klinik atau puskesmas, mereka tetap mencari cara untuk menemani sekaligus memastikan dampingan mengakses layanan kesehatan. Artinya, selain komunikasi virtual, penjangkau tetap melakukan pertemuan langsung dengan dampingan.

“Pas bulan April, ada kebijakan kita nggak boleh ke layanan gitu… Semenjak ada pandemi ini, malah bayak dampingan yang urgent gitu, yang harus diantar ke puskesmas karena terkena IMS itu. Aku juga nggak tahu kasus IMS di pandemi kok nambah banyak gitu… Apa karena sering di rumah, sering main ya kan?” (Wawancara penjangkau, 10 Juli 2020)

Pertanyaan terkait COVID-19 dianggap beberapa penjangkau membantu menginisiasi kembali percakapan dengan dampingan. Tantangannya, COVID-19 juga menjadi alasan bagi dampingan untuk tidak melakukan tes HIV, bahkan mereka yang mengalami gejala IMS sekalipun. Belum lagi, beberapa dampingan sudah tidak berada di Jakarta karena pandemi membuat mereka kehilangan pekerjaan di ibukota. Beberapa dampingan bahkan tidak membalas pesan-pesan penjangkau lagi. Penjangkau diharapkan mempunyai kemampuan bernegosiasi dengan dampingan selama pandemi. Meskipun hal ini sudah terjadi sebelum pandemi, penjangkau harus terus-menerus menyesuaikan metodenya, baik dalam perubahan kondisi pandemi maupun perubahan permintaan target dari donor.

Langkah kelima: merujuk pada penyedia layanan untuk tes dan/atau perawatan

“Kita juga pinter-pinter cari jalan tikus supaya nggak ketemu sama check-point. Kalau mereka [dampingan], harus benar-benar protokol kesehatannya dijaga. Pakai masker, pakai handsinitizer…  Paling nanti janjian ketemunya di klinik.” (Wawancara penjangkau, 9 Juli 2020)

Langkah terakhir dalam penjangkauan adalah merujuk klien kepada penyedia layanan kesehatan untuk tes atau perawatan. Secara umum, langkah merujuk kepada penyedia layanan kesehatan ini merupakan langkah yang paling terkena dampak dari pandemi. Perubahan kebijakan-kebijakan dalam merespons COVID-19 diterapkan secara tidak seragam oleh klinik maupun puskesmas. Satu klinik sudah membuka peluang untuk VCT dan memperbolehkan adanya perawatan keliling, tetapi klinik lainnya masih memperketat kegiatan selain respons COVID-19 pada kurun waktu tertentu. Layanan yang masih terbatas membuat dampingan dan penjangkau terpaksa menempuh jarak yang lebih jauh dari rumahnya untuk mengakses layanan kesehatan yang lain. Belum lagi, pembatasan mobilitas di Jakarta membuat mereka mencari jalan panjang dan memutar. 

Selama pandemi, ini langkah yang penuh tantangan karena keterbatasan jam buka klinik atau puskesmas, termasuk hanya pesakitan dengan tingkat keparahan tertentu yang bisa ditangani. Sebagian besar penjangkau juga tidak diperbolehkan untuk datang atau masuk ke klinik jika tidak ada kepentingan. Maka itu, jika ada kasus urgen, alih-alih membawa klien langsung, penjangkau perlu menghubungi puskesmas atau klinik terlebih dahulu untuk memastikan apakah dampingan bisa melakukan tes atau mendapatkan perawatan. Penjangkau melihat kombinasi antara virtual dan pertemuan langsung masih dibutuhkan untuk mendukung klien.

Secara resmi, donor memang meminta penjangkauan dilakukan secara virtual sembari menyesuaikan target pada awal pandemi. Penyesuaian ini juga terlihat dalam beberapa program yang dibiayai donor internasional selama pandemi, termasuk pengiriman obat (JakAntar) dan penyediaan dana untuk akses layanan kesehatan dan perawatan (JakSupport). Penjangkau menilai kedua program ini sebagai inovasi positif.

“Ada penambahan yang namanya JakSupport. Jadi, kita harus menanyakan pada dampingan juga, ke teman-teman yang terkena dampak dari covid ini. Kita meng-screening teman-teman yang terkena dampak covid. Jadi, suatu saat dia membutuhkan biaya atau terkena pemutusan hubungan kerja atau dia dirumahkan dan membutuhkan biaya untuk pengobatan, nanti kita juga yang melaporkan.” (Diskusi Kelompok Terarah, 14 Agustus 2020)

Program tambahan tersebut menuntut peningkatan kapasitas penjangkau dalam menjalankan peran yang bukan hanya mendukung program HIV, tetapi juga kesehatan masyarakat lebih luas. Sementara itu, skema respons yang ada hanya memprioritaskan dampingan.

Penjangkau di Garda Depan Program HIV

Cerita-cerita penjangkau menunjukkan bahwa langkah-langkah yang dilakukan selama pandemi COVID-19 tidak berubah banyak. Sebelum pandemi, pekerjaan mereka lebih berbasis lokasi. Namun, selam pandemi, mereka lebih banyak menghabiskan waktu secara online dibandingkan sebelum pandemi; tanpa menutup kemungkinan untuk bertemu langsung. Memang, beberapa penjangkau menemui dampingan di tempat tinggalnya, baik tempat tinggal penjangkau maupun dampingan, untuk memberikan informasi. Itu pun dilakukan karena merasa lebih efisien sembari memupuk kepercayaan.

Melihat kejadian di lapangan, sejak awal pandemi COVID-19, organisasi berbasis komunitas tempat mereka bekerja memberikan dukungan dengan menyediakan perlengkapan untuk melindungi diri, mulai dari masker, hand sanitizer, maupun alat penutup muka (face shield). Inisiatif ini didukung lembaga donor setelahnya. Namun, penjangkau perlu dukungan lain, bukan hanya untuk melakukan tugasnya, melainkan juga untuk menghadapi pandemi COVID-19.

“Bagaimana caranya aku tuh ngomong, “Ma, aku mau berangkat kerja.” … Sudah jelas-jelas [nama rumah sakit] buat teman-teman yang [terpapar] Covid[-19… Kayak mau berangkat perang gitu jatuhnya.”

“Benar… Risikonya itu tentang keluarga, ya. Jadi, sebisa mungkin, kalau kita habis dari layanan, kita jangan sampai bertemu dengan keluarga. Pokoknya aku langsung mandi, ganti baju,… langsung ke kamar… nggak mau bertemu keluarga gitu.” (Diskusi Kelompok Terarah, 31 Agustus 2020)

Salah satu penjangkau tidak terhindar dari virus korona. Setelah selesai menjalani perawatan di rumah sakit dan dinyatakan negatif COVID-19, ia masih berjibaku dengan stigma negatif. Ia bahkan merasa harus pindah kos akibat stigma terhadap COVID-19.

“Walaupun aku udah stabil dan negatif, tapi stigma COVID-nya itu masih ada gitu, lho… Dampak besarnya itu, makanya aku depresi kemarin sebenarnya. Aku masih trauma dalam situasi seperti ini karena stigmanya itu tidak bisa hilang di masyarakat.” (Wawancara penjangkau, 13 Juli 2020) (Catatan: partisipan ini meninggal dunia pada Agustus 2020)

Beberapa bulan setelah proses pengumpulan data studi ini, banyak penjangkau dikabarkan terpapar virus korona. Akses untuk tes dan kebutuhan untuk isolasi mandiri menjadi tantangan sendiri. Maka itu, dukungan berupa tes COVID-19 tanpa harus mengeruk dari kantung penjangkau sendiri menjadi penting. Begitu pun dengan dukungan ketika mereka harus menjalani isolasi mandiri. Meskipun demikian, lebih dari 90% penjangkau sudah mendapatkan akses vaksin COVID-19. Selain itu, penjangkau perlu dibekali dengan pengetahuan terkait COVID-19. Bukan hanya untuk diri sendiri, penjangkau bisa menyampaikan fakta-fakta kepada para dampingan.

Peran dan tugas penjangkau selama pandemi COVID-19 meluas dan semakin penting. Sayangnya, tugas penjangkau—terlepas dari virtual atau pertemuan langsung—tidak dipahami sebagai kerja fundamental. Penelitian ini menegaskan bahwa terlepas dari bagaimana cara melakukannya, kerja penjangkau sangat esensial dalam program HIV. Ini merupakan hasil jangka panjang dari aspek struktural kerja penjangkauan HIV yang dipengaruhi oleh target donor. Tak hanya itu, kerja mereka juga dipengaruhi oleh perubahan kebijakan yang cepat dari pemerintah dalam merespons COVID-19. Itu mempengaruhi bagaimana cara mereka melakukan kerja-kerja ini, tetapi juga memperlihatkan adanya celah antara persyaratan program selama pandemi dan realitasnya. Contohnya, kebijakan pemerintah untuk mengurangi kunjungan ke layanan kesehatan terlihat dari dikuranginya biaya transportasi penjangkau untuk ke klinik. Namun, situasi di lapangan kerap membuat penjangkau tetap harus pergi ke klinik atau menemui dampingan secara langsung.

Selain itu, penekanan dalam pendefinisian “virtual” dan “pertemuan langsung” seperti pemisahan antara “kesehatan” dan “HIV” menunjukkan peran penting penjangkau dalam menepis hambatan-hambatan tersebut terasa tidak dihargai. Kebutuhan untuk memberikan dukungan dana bagi klien (mulai dari biaya transportasi dan biaya pengiriman) sebaiknya disertai dengan peningkatan dukungan bagi penjangkau. Mengakui kerja penjangkau yang esensial dalam berbagai program HIV dapat memfasilitasi kemungkinan program itu semakin besar dan dapat merespons kedaruratan kesehatan masyarakat, termasuk pandemi COVID-19.

Penjangkau cenderung berfokus pada dampingan dan mereka perlu menyesuaikan metode komunikasinya sesuai dengan situasi dampingan. Alhasil, program HIV perlu ada tawaran dukungan lebih untuk menunjukkan peran penjangkau yang begitu esensial.

 

***Artikel ditulis berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh: Amalia Puri Handayani (Peneliti PUI-PT PPH PUK2IS UAJ), Benjamin Hegarty, Ph.D (University of Melbourne and Research Fellow PUI-PT PPH PUK2IS UAJ), Ignatius Praptoraharjo, Ph.D (PUI-PT PPH PUK2IS UAJ), dan Sandeep Nanwani (Yayasan Kebaya)
**Proyek ini didukung oleh skema The Indonesian Democracy and Human Rights Hallmark Initiative dari Melbourne Law School.

 

 

Rujukan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. ‘Pencegahan Covid-19 Di Tempat Kerja Era New Normal’. Pencegahan Covid-19 Di Tempat Kerja Era New Normal. 23 May 2020. https://www.kemkes.go.id/article/view/20052400003/pencegahan-covid-19-di-tempat-kerja-era-new-normal.html.

UNAIDS. 2020. ‘Rights in the Time of COVID-19 — Lessons from HIV for an Effective, Community-Led Response’. Geneva: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS).

Wilcher, Rose, and Chris Akolo. 2020. ‘Five Strategies for Preserving Key Population-Focused HIV Programmes in the Era of COVID-19’. International AIDS Society. Five Strategies for Preserving Key Population-Focused HIV Programmes in the Era of COVID-19. 2020. https://www.iasociety.org/HIV-Programmes/Cross-cutting-issues/COVID-19-and-HIV/Five-strategies-for-preserving-key-population-focused-HIV-

 

 

 

[1] Walaupun penjangkauan sudah dilakukan secara virtual selama beberapa tahun, lembaga donor menginstruksikan penjangkau untuk menggunakan platform daring selama pandemi COVID-19. (Wilcher and Akolo 2020).