Artikel

Working from Home (WFH): Antara Efektivitas dan Pencipta Depresi

  • By Yohanes Gentar
  • 28 April 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Lima abad lalu Isaac Newton menemukan teori besar yang mempengaruhi hukum-hukum fisika. Sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton duduk di bawah pohon apel di rumahnya, peristiwa ini kemudian menjadi awal eksperimennya mengembangkan hukum gravitasi (Fereira & Starkman, 2009). Situasi ini sama ketika Inggris menghadapi wabah penyakit menular yang mematikan dan merenggut nyawa 1000 orang warga Inggris. Ya, penyakit Pes, yang diakibatkan infeksi bakteri Yersinia Pertis sebuah bakteri yang ditularkan melalui kutu. Disaat wabah melanda, Newton yang menjabat sebagai dosen mata kuliah Matematika di Universitas Cambridge -sesuai biografinya yang ditulis Shamey (2015)- harus pulang dan bekerja dari rumah karena epidemi Pes. Hal ini juga berlaku bagi seluruh mahasiswa Cambridge. Di rumah, ia menyelesaikan sebuah jurnal Matematika yang kini di kenal dunia dan digunakan dalam era modern, Kalkulus. Sebuah rumus matematika yang mancakup limit, turunan, integral dan deret tak terhingga (Latore, Kenelly, Reed, & Biggers, 2007). Penemuan besar lainnya yang berkembang juga dikenal dengan teori Optik. yang menggambarkan prilaku dan sifat cahaya dan interaksi cahaya dangan materi (Humez, 1998) sebagai hasil dari eksperimen Newton. 

Konsep dasar kerja dari rumah juga sudah terjadi di abad pertengahan. Sebuah perusahaan -Fast Company- memiliki rumah panjang dihuni para petani dan peternak. Rumah ini didesain sedemikian rupa untuk memproduksi berbagai jenis tekstil dan susu, pejagalan dan penyamakan. Bahkan para pedangang berjualan dari rumah ini (Reynolds, 2017). Perkembangan bekerja dari rumah mulai berubah seiring dengan perkembangan pengetaluan dan teknologi. Orang mulai menggunakan bangunan Uffizi gallery sebagai contoh bangunan adminsitrasi era renaisans, sebuah bangunan milik keluarga Medici asal Italia yang juga mempengaruhi gerakan renaisans saat itu (florence.net, 2019). Uffizi secara harafiah menujuk pada kantor. Revolusi Industri selanjutnya membentuk sistem kerja era modern dimana pekerja di tempatkan sesuai dengan keahliannya dan melakukan pekerjaanya di luar rumah. Namun di era revolusi industri beberapa pekerjaan berbasis rumah juga terus berkembang.

Antara tahun 1981 dan 1998, telah terjadi peningkatan kualitas Working from Home (WFH), terutama di Inggris, yang memungkinkan pemberian keseimbangan antara pekerjaan dan komitmen hidup bagi mereka yang melakukannya (Brysol et al., 2000; DTI 2001a, 2002, Duncan, 2000). Pemerintah Inggris bahkan pernah merevisi Undang-undang ketenagakerjaan tahun 1999 sebagai salah satu cara pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan komitmen dengan kehidupan lain dari seseorang dengan cara bekerja dari rumah (DTI, 2001a). Dalam periode tersebut warga Inggris yang bekerja dari rumah mengalami kenaikan yang signifikan dari 345.920 menjadi 680.612 (Fealsted & Jewson, 2000). Hal ini di dukung oleh hasil survei angkatan kerja Inggris pada tahun 2001 dimana sebagian besar waktu orang Inggris bekerja dari rumah (Survey, 2001). 

Jelas bahwa situasi WFH dalam situasi normal berbeda saat kondisi global dalam keadaan lesu termasuk Indonesia saat ini. Pengaruh pandemi COVID-19 telah memberi pukulan besar bagi dunia di segala aspek kehidupan manusia. Termasuk perekonomian yang mandek. Mengingatkan kembali situasi 1998 pada dua dekade lalu. Namun kondisi ini tentu lebih besar dari pada 1998, sebab seluruh dunia terdampak di segala sektor usaha dan industri. Ketergantungan ekonomi pada barang impor dan ekspor telah terganggu karena semua aktivitas dihentikan, kecuali untuk kebutuhan logistik dan kesehatan serta aspek sentral lainnya. Gelombang PHK terus terjadi dan kekhawatiran yang lebilı buruk bisa terjadi jika ekonomi dunia dan nasional mengalami shutdown. Aspek sosial dan budaya menjadi renggang dimana interaksi antar individu berkurang. Seakan kita berada di ujung jurang dengan badan gemetaran dan siap terjun tanpa parasut. Dunia dalam kepanikan. Semua orang terkurung dalam "penjaranya" (rumah) masing-masing dengan pintu tertutup rapat. Bayang-bayang corona juga terus mengancam setiap orang di setiap saat apalagi ketika menengok angka-angka penyebarannya.

Pada saat artikel ini ditulis jumlah orang terinfeksi COVID-19 di dunia telah menyentuh lebih dari 2,73 juta orang dengan 751.450 orang telah sembuh (www.kompas.com; www.tirto.id) dimana Amerika menjadi satu-satunya negara yang memiliki COVID-19 tertinggi di dunia sebesar 868.395 orang dan Indonesia dalam update terakhir tanggal 24 April 2020 telah mencapai 8.211 yang terkonfirmasi positif dan 1002 orang telah sembuh dengan rasio kematian berada di angka 9% atau 3 persen di atas rasio dunia yakni 6%. Apa yang membuat penyebaran COVID-19 ini meningkat secara signifikan? Meskipun pemerintah sudah menerapkan pembatasan sosial (social distancing) berskala besar. Ini juga berlaku bagi negara-negara adidaya termasuk Amerika dan negara maju lainnya seperti Italia. Barangkali mereka mengabaikan epidemi ini pada tahap awal penyebarannya, atau bisa terjadi kesalahan informasi sejak awal yang sengaja diciptakan untuk menjaga kepentingan ekonomi secara luas. 

Tentu hal ini menarik ketika konflik antara Presiden Trump dengan Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus terjadi. Keduanya bersitegang dan saling menuduh ketika dunia tengah menghadapi pandemi COVID-19 ini, hingga Amerika memutuskan menyetop bantuan dana ke WHO (cnbcindonesia.com, 2020) dan menuntut Sekjen WHO, Ghebreyesus mundur (mnctrijaya.com, 2020). Barangkali kita sebagai masyarakat dunia atau individu melihat kembali bagaimana filsafat hidup Lao Tzu yang berani mengkritik praktik-praktik penguasa di zamannya pada abad 5-6 Sebelum Masehi. "They are difficult to rule because does too many things. Therefore they are diffucult to rule". Pernyataan ini sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang melakukan terlalu banyak hal-hal yang semestinya tidak perlu dilakukan, oleh karenanya masyarakat menjadi sulit diatur (Staunatov, 2017). Tentu saja kekaisaran Dinasti Tang ketika itu menerapkan banyak aturan untuk keuntungan golongannya tanpa memperhatikan kepetingan publik. 

Melihat kondisi pandemi COVID-19 ini yang terus meningkat dan menyebabkan ratusan ribu korban jiwa meninggal, barangkali kata-kata di atas masih relevan. Bagaimana negara-negara maju melanggar aturan lockdown di negaranya masing-masing dengan mengadakan pesta. Atau negara asia lain seperti India, Bangladesh yang melakukan ibadah bersama di rumah ibadah ketika pemerintahnya menerapkan aturan lockdown. Dan mungkin sebagian masyarakat Indonesia mengabaikan larangan pemerintah karena alasan pemenuhan kebutuhan primer. Barangkali kata bijak dari kesunyian yang ditulis Lao Tzu (5-6M) memberi kita pelajaran penting di situasi ini. "Mereka yang memiliki keberanian untuk bertindak tanpa berpikir matang, bisa terbunuh dan mereka yang berani tapi bertindak dengan penuh kesadaran dan kebaikan, akan hidup. Maka diantara kedua hal itu satu hal yang bermanfaat dan lainnya berbahaya" seperti yang dipublikasikan Stamatov (2017) di junal Asian Philosophy. 

Namun keberanian memang dibutuhkan di situasi mendesak, mengingat kebutuhan primer masyarakat tidak terpenuhi apalagi mereka yang bekerja di sektor non formal. Banyak orang harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga namun tidak sedikit kehilangan akal sehat. Belum lagi menghadapi ancaman corona mereka harus berjuang untuk tetap bertahan hidup dengan keluar dari rumah. Jaminan sosial yang digelontorkan pemerintah sebagai dampak epidemi corona hanya menutupi celah kebutuhan primer bagi sebagain masyarakat tidak mampu, terutama mereka yang bekerja di sektor non formal. Namun perlindungan sosial hanya bisa bertahan selama 3-7 hari untuk satu keluarga, apalagi jika keluarga tersebut memiliki anggota lebih dari 3 orang. Bagaimana dengan komunitas yang memiliki risiko lebih tinggi, sebut saja ODHA dan komunitas yang selama ini menjadi sasaran diskriminasi publik karena dianggap berbeda dengan mayoritas? Atau wanita pekerja seks di luar sana yang menggantungkan hidupnya dengan tamu dan tidak memiliki identitas? Atau mungkin kaum transpuan yang memiliki pekerjaan non formal, seperti halnya "ojol" dan "opang".

Lagi-lagi bekerja dari rumah hanyalah diperuntukan bagi mereka yang setiap harinya duduk dibelakang meja. Namun tetap tidak efektif ketika ujung tombak sebuah perusahaan atau organisasi yaitu orang-orang yang bekerja di lapangan membutuhkan interaksi untuk mendapatkan hasil terpaksa harus dihentikan karena semua sektor terganggu karena pandemi ini. Barangkali jika Newton diciptakan kembali dia mampu melakukan banyak hal dan menghasilkan teori baru di tengah kepanikan dan kecemasan global di era COVID-19. Namun, sebagian besar orang bekerja dari rumah tetap menjadi bumerang karena produksi dihentikan, mesin-mesin pabrik beristirahat entah sampai kapan epidemi ini berujung dan mereka yang bekerja berada dibalik meja sulit menerapkan rencana dan strategi meskipun bekerja dari rumah. Inilah anomali ditengah COVID-19 antara efektivitas atau menciptakan depresi baru.

 

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya

 

Refrensi

  • DTI. (2001a). The essential guide to work-life balance. Departement of Trade and Industry, Crown., http.dti.gov.uk.
  • Fealsted, & Jewson. (2000). In Work At home. London: Routledge.
  • Fereira, P., & Starkman, G. (2009). Einstein theory of gravity and Problem of Missing Mass. Researchgate.
  • florence.net. (2019). www.florence.net. Retrieved April 24, 2020, from florence.net: florence.net
  • Humez, N. (1998). Optics: Comentary by Nicholas Humez. Octavo ISBN 1-891788-04-3. Latore, D. R., Kenelly, J. W., Reed, I. B., & Biggers, S. (2007). Calculus Concept: An Applied Approach to the Mathematics of Change. Cengage Learning hlm.2 ISNB 0-618-78981-2, capter 2 P.1.
  • Reynolds, B. W. (2017). The Complete History of Working from Home. Flexjobs.
  • Shamey, R. (2015). Sir Isaac Newton. reseachgate.
  • Stamatov, A. (2017). The Laozi's Critism of Goverment and society and a Daoist Criticism of the Modern State. Asian Philosophy.
  • suara.com. (2020, April 1 http://www.suara.com/healt/2020/04/01//123524/cemas-akibat- pandemi-corona-pengaruhi-banyak-aspek-terutama-keseahtan jiwo. Retrieved April 24, 2020, from www.suara.com: www.suara.com
  • Survey, L. F (2001) Office National Statistic. London
  • Website,D (2002) www.dti.gov.uk. Retrieved April 24, 2020, from http://www.dti.gov.uk/work-lifebalance/what.htl:dti.gov.uk.