Pelayanan Komunitas

Cerita Dari Lentera Anak Pelangi: Strategi Pendampingan Anak dengan HIV di Tengah Pandemi

  • By Armadina Az Zahra
  • 17 September 2020
Lentera Anak Pelangi

Di tahun 2009 Lentera Anak Pelangi (LAP) lahir di tengah lingkungan civitas akademika Unika Atma Jaya melalui Pusat Penelitian HIV AIDS UNIKA Atma Jaya (PPH UAJ). LAP didirikan sebagai respon terhadap kealpaan program penanggulangan dan pengurangan dampak buruk HIV yang khusus menyasar pada anak. Di tengah situasi pandemi COVID-19 yang menyerang dunia, LAP mengalami sejumlah tantangan besar dalam menjalankan program kerja. Tantangan tersebut antara lain, pertemuan yang sifatnya tatap muka menjadi sangat terbatas hanya untuk hal mendesak; rancangan kegiatan besar tahunan seperti Bazaar Murah LAP, Melukis Pelangi, dan Family Gathering mesti ditiadakan; pendampingan langsung terutama psikososial menjadi sangat terbatas karena penerapan physical distancing; permasalahan pendanaan dari donatur yang terdampak akan situasi pandemi; dan ketika mendapatkan info ada anak yang sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, LAP hanya bisa memantau kondisi anak tersebut dengan komunikasi via telepon.

Dalam kondisi pandemi yang kompleks ini, LAP melakukan beragam penyesuaian dan membentuk serangkaian strategi dalam menjalankan program-program pendampingan. Sejak 16 Maret 2020, LAP tidak hanya menerapkan work from home (WFH) untuk semua staf, tetapi juga meniadakan kegiatan harian seperti kunjungan rumah dan pelbagai aktivitas lainnya yang mengharuskan bertatap muka secara langsung. Terhentinya kegiatan tatap muka, memunculkan inisiatif LAP untuk mencanangkan sebuah program daring bertajuk “Cerita Dari Kami”. Dimulai pada Juni 2020, “Cerita Dari Kami” memanfaatkan fitur siaran langsung media sosial Instagram alias Instagram LIVE. Secara garis besar, program ini berisi obrolan seputar kondisi anak dengan HIV saat pandemi COVID-19. Hingga bulan Agustus 2020, tercatat sudah ada 9 episode yang disiarkan.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, LAP turut menginisiasi memulai pertemuan daring Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) bagi pelaku rawat anak. Kerjasama dan koordinasi dengan donatur pun tak luput digalakan oleh LAP. Melalui koordinasi ini, LAP memberikan bantuan kepada para dampingan berupa sembako yang dianggap sebagai kebutuhan penting.  Pemberian sembako ini sebelumnya tidak pernah disediakan oleh LAP. Ke depannya LAP berharap agar pandemi segera berlalu dan kegiatan dapat normal seperti sediakala. Namun, jika ternyata masih harus sangat terbatas, LAP berkeinginan untuk dapat memaksimalkan pendampingan secara virtual dan meneruskan program-program online yang telah dilaksanakan. Lebih jauh, terkait dengan ketersediaan ARV khusus anak, LAP berharap pemerintah bisa cukup serius menanggapi dan menjamin ketersediaannya dengan tidak menjadikan pandemi maupun isu minimum order sebagai alasan keterbatasan ARV pediatrik.