Artikel

HIV Epidemiology In Southern Africa: Critical Questions and New Methods

  • By Gaby Gabriela Langi
  • 16 July 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Ini adalah sesi satelit yang diorganisasikan oleh Measurement & Surveilannce of HIV Epidemics (MeSH Consortium), London School of Hygiene & Tropical Medicine. Sesi ini ditargetkan kepada delegasi yang tertarik untuk memahami bagaimana konsep dari epidemiologi HIV dapat berkontribusi dalam penyusunan program. Sesi ini memberikan contoh bahwa dengan memperkuat pengumpulan, analisis dan penggunaan data HIV, maka akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik terkait insiden HIV pada lokasi tertentu seperti Afrika Selatan.

Terdapat dua topik menarik yang dipresentasikan dalam sesi ini. Presentasi pertama berbicara tentang sumber data baru dalam permodelan insidens HIV dalam setting Afrika yang disampaikan oleh Leigh Jhonson (peneliti senior dari Centre for Infectious Disease Epidemiology and Research, University of Cape Town). Presentasi kedua disampaikan oleh Frances Cowan (Centre for Sexual Health and HIV/AIDS Research Zimbabwe) dan Dr Owen Mugurungi (Ministry of Health and Child Care of Zimbabwe)  yang membicarakan tentang pelacakan HIV diantara pekerja seks di Afrika Selatan untuk mendapatkan “actionable insight” terkait apa diketahui dan apa yang masih dibutuhkan.

Pada presentasi pertama, Leigh menjelaskan pentingnya permodelan insidens HIV untuk melacak apakah program pencegahan HIV memberikan dampak sesuai dengan apa yang diharapkan, untuk memonitor perkembangan target, untuk memprediksi kebutuhan di masa mendatang, untuk mengidentifikasi sub-populasi yang berisiko tinggi dan yang paling membutuhkan intervensi, dan untuk mengidentifikasi di wilayah mana upaya pencegahan HIV perlu dioptimalkan. Dengan mengkombinasikan berbagai sumber data yang kedalam suatu permodelan dapat memperluas setting untuk mengestimasi insidens dengan lebih tepat. Leigh memaparkan beberapa contoh permodelan dengan menggunakan data survey (regency testing & antenatal survey data) dan data laporan (case reporting/new diagnosis) di Afrika Selatan dan menekankan bahwa kita membutuhkan berbagai pendekatan permodelan yang dapat mengharmonisasikan jenis-jenis data yang berbeda,  perlu memasukkan data migrasi untuk mengestimasi perbedaan geospasial terhadap insiden dengan lebih akurat, dan membutuhkan data durasi masuk dalam populasi kunci untuk mengestimasi data prevalensi HIV bagi populasi kunci.

Presentasi kedua memaparkan bagaimana pemahaman epidemiologi HIV dalam suatu program pemberdayaan yang disebut “Sister with a voice” untuk perempuan pekerja seks di Afrika Selatan memberikan pengetahuan baru dan mengarahkan pada upaya intervensi yang dibutuhkan. Frances menjelaskan bahwa program berkembang dari projek kecil menjadi program berskala nasional, intensitas dan cakupan program meningkat sejalan dengan temuan-temuan ditingkat lokal, menjangkau sekitar 2/3 pekerja seks mengakses layanan kesehatan setiap tahun, dan sebagai bukti dari peningkatan rapid testing dan pengobatan. Selanjutnya, Dr Owen menekankan bahwa yang masih dibutuhkan adalah keterlibatan perempuan pekerja seks dalam meningkatkan, mengintesifkan, dan melakukan inovasi program, dan triangulasi data real time dari data program dan data survei, dan permoodelan dibutuhkan sebagai sumber informasi dalam merespons epidemi HIV.