Advokasi

Membangun Jejaring Advokasi Dengan Komunitas Disabilitas

  • By Caroline Thomas , Armadina , Az
  • 11 November 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Memperluas bentangan sayap jejaring advokasi, pada pertengahan minggu ketiga Oktober 2020, Caroline Thomas (staf advokasi PPH) mengadakan pertemuan virtual bersama ASEAN Disability Forum (ADF). Pertemuan ini bertujuan untuk lebih mengenal rekan-rekan dari organisasi disabilitas dan guna menggali lebih dalam terkait kebutuhan isu kesehatan jiwa yang mungkin dialami oleh penyandang disabilitas. ADF sendiri merupakan jaringan yang dibentuk oleh Organization of Persons with Disabilities di kawasan ASEAN. ADF bekerja di semua bidang disabilitas dan bertujuan untuk mengarusutamakan kebutuhan para penyandang disabilitas untuk menyertakan perspektif orang dengan disabilitas dalam kerangka kebijakan ASEAN.

Pada pertemuan yang dilaksanakan secara daring tersebut, ADF diwakili oleh Kartika Anggita. Saat ini Katika Anggita bekerja di ADF untuk melakukan sosialisasi ASEAN Enabling Master Plan 2025. ASEAN Enabling Master Plan 2025 sendiri adalah dokumen tingkat ASEAN untuk memajukan atau lebih inklusif disabilitas, terutama dalam perencanaan pembangunan smart city. Di Jakarta, sosialisasi Enabling Master Plan dimulai sejak Februari 2020 lewat car free day, pidato, stan pada acara, serta kerja sama dengan café kopi sunyi dan kopi tuli untuk beberapa kegiatan.

“Tujuan utama dari ADF adalah untuk mewakili gerakan disabilitas dari kawasan ASEAN, memberikan kesempatan kepada Organisasi Penyandang Disabilitas untuk membangun kapasitas advokasi dan organisasinya, serta memfasilitasi saling berbagi informasi dan dukungan. Di Indonesia sendiri, disabilitas dibagi menjadi 6 yakni tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, dan tuna ganda, tetapi sebenarnya tidak hanya terbatas di 6 kategori ini saja”, jelas Kartika.

Lebih jauh, menurut Kartika, setiap orang dengan disabilitas memiliki tantangan yang berbeda, termasuk dalam hal kesehatan jiwa. Hal ini dikarenakan dalam keseharian pun, penyandang disabilitas menjumpai ragam tantangan. Misalnya saja saat akan ke tempat ibadah menggunakan kursi roda, belum tentu rumah-rumah ibadah ramah akses terhadap pengguna kursi roda.  Di ruang lingkup dunia pendidikan, fasilitas untuk penyandang disabilitas dan pengetahuan mengenai kebutuhan-kebutuhan khusus mereka yang masih sangat minim menjadi penghalang akses pendidikan yang inklusif. Pertukaran cerita, informasi, dan gagasan di antara perwakilan PPH dan ADF menghasilkan harapan bagi bidang advokasi PPH, yakni ke depannya dapat turut menjadi bagian dari kerja-kerja advokasi kesetaraan hak teman-teman disabilitas, terutama hak kesehatan dan kesehatan jiwa.