Peningkatan Kapasitas

Pelatihan Konseling Dasar Untuk Mendampingi ODHA

  • By Armadina Az Zahra
  • 05 December 2019
None

Stigma masih jadi mimpi buruk yang terus menghantui ODHA dan menimbulkan pelbagai polemik serta gejolak dalam diri mereka. Kekhawatiran, ketakutan, hingga kegelisahan menjadi hal yang jamak dirasakan ketika mengetahui status positif HIV. Tidak jarang, sebagian ODHA yang akhirnya terbuka mengenai status kesehatannya dan tak lagi segan membagi kisahnya menuturkan perjuangan melawan momen stress berkepanjangan atau bahkan depresi yang sempat mampir. Pada titik inilah, sosok konselor atau pendamping menjadi begitu penting bagi ODHA.

Bila didefinisikan, konselor adalah orang yang memberikan konseling. Sementara itu, konseling sendiri adalah suatu proses helping relationship yang diselenggarakan untuk menolong orang lain dalam mendapatkan insight (wawasan/pengetahuan yang dalam) atas masalah, mengembangkan potensi dan membantu klien (orang yang menerima manfaat konseling) merasa lebih baik. Pentingnya peran konselor dan kegiatan konseling bagi ODHA menjadi dasar pemikiran Pusat Penelitian HIV AIDS UNIKA Atma Jaya (PPH UAJ) untuk menyelenggarakan “Pelatihan Konseling Dasar Untuk Mendampingi ODHA”. Diampu langsung oleh Evi Sukmaningrium, Ph.D., Psikolog, Akademisi sekaligus Kepala PPH UAJ yang telah lama malang melintang pada isu HIV AIDS.

Dilaksanakan pada Senin, 2 Desember 2019 di Gedung K2 Kampus Semanggi UNIKA Atma Jaya, Evi Sukmaningrum memperkenalkan teknik dasar melakukan konseling untuk mendampingi ODHA berbasis Continuum of Care. Ia lantas membuka sesi pelatihan konseling ini dengan menyamakan perspektif para peserta terkait siapakah ODHA itu?

“Kita perlu menyamakan persepsi, siapakah ODHA? Pada dasarnya, ODHA adalah semua orang yang terinfeksi HIV, bukan hanya pengguna jarum suntik, LGBT, pekerja seks, tetapi juga semua orang yang memiliki perilaku berisiko tertular HIV. Ini juga yang harus kita hindari, framing yang selalu membayangi ODHA, seolah ODHA itu hanya sebagian orang dengan label-label tertentu”, tutur Evi Sukmaningrum membuka pelatihan konseling.

“Ketika ada di ruang konseling kita harus melepaskan value (nilai) yang kita miliki, klien adalah orang yang harus kita (konselor) terima apapun latar belakangnya”, imbuhnya lagi.

Usai menyamakan perspektif tentang ODHA dan menerangkan pemahaman dasar konseling pendampingan untuk ODHA, materi dilanjutkan dengan aspek-aspek penting dan tahapan dalam kegiatan konseling. Dalam konseling setidaknya ada tujuh tahapan yang akan dilalui yakni 1). Membina rapor atau membangun rasa nyaman pada klien; 2). Membangun rasa percaya; 3). Menjelaskan keterbatasan konseling; 4). Identifikasi masalah; 5). Mendiskusikan alternatif pilihan jalan keluar; 6). Merencanakan aksi atau tindakan selanjutnya dari masalah yang dihadapi; dan 7). Follow up atau tindak lanjut.

Dalam pelatihan konseling dasar untuk ODHA ini juga dijelaskan bahwa konseling sangat diperlukan bagi ODHA karena beberapa alasan. Pertama, sebab ODHA harus dalam pengobatan seumur hidup. Kedua, guna membantu dalam memberikan makna hidup yang lebih positif (bahkan dengan status HIV-nya). Ketiga, untuk membantu menyesuaikan diri dengan perubahan gaya hidup dll dalam upaya menurunkan risiko penularan HIV.

Menjelang akhir sesi pelatihan konseling dasar untuk mendampingi ODHA, para peserta dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok. Masing-masing orang dalam kelompok lantas bermain peran (role playing) sebagai konselor, klien dan observer dalam reka konseling ODHA.

  • Copy to clipboard