Peningkatan Kapasitas

Pentingnya Penyusunan Laporan Keuangan Entitas NonLaba dalam Workshop Laporan Keuangan “ISAK35: Acuan Penyusunan Laporan Keuangan”

  • By Armadina Az Zahra
  • 02 October 2020
None

Laporan keuangan bukan perkara sederhana yang bisa diperlakukan sebagai angin lewat. Institusi, lembaga, organisasi, perkumpulan, dan lain sebagainya yang kemudian dapat diringkas saja menggunakan kata ‘entitas’, -baik entitas bisnis maupun entitas nonlaba- memerlukan penyusunan laporan keuangan yang baik untuk keberlangsungannya. Entitas nonlaba yang merupakan entitas yang tidak berorientasi pada laba pun tetap memiliki kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pemanfaatan sumber daya dibawah pengelolaannya kepada penyandang dana dan masyarakat. Tentu saja, salah satu media pertanggungjawaban tersebut adalah laporan keuangan.

Posisi penting laporan keuangan bagi entitas nonlaba menjadi dasar dari gagasan awal Pusat Penelitian HIV AIDS UNIKA Atma Jaya – Pusat Unggulan Kebijakan Kesehatan dan Inovasi Sosial (PPH) menyelenggarakan lokakarya (workshop) laporan keuangan bertajuk “ISAK35: Acuan Penyusunan Laporan Keuangan”. Diampu oleh Nada Ayuanda, okakarya ini berlangsung pada Selasa pagi (29/09) selama lebih kurang dua jam. Nada Ayuanda sendiri merupakan Manajer Keuangan PPH yang telah menjabat sejak tahun 2019. Ia merupakan lulusan University of Melbourne, program Master of Accounting.

Secara keseluruhan terdapat lima poin pokok pembahasan yang disajikan dalam lokakarya, yakni 1). Akuntabilitas bagi entitas nonlaba; 2). Update SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang berlaku efektif di tahun 2020; 3). Standar akuntansi entitas nonlaba; 4). PSAK 45 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) dengan ISAK 35 (Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan) penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba; dan 5). Contoh ilustrasi laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba.

Untuk entitas nonlaba, standar laporan keuangannya diatur dalam PSAK 45 tentang Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba. Peraturan ini disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) pada tanggal 8 April 2011. Akan tetapi, pada September 2018 lalu, DSAK mengganti PSAK 45 dengan ISAK 35 tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi NonLaba yang mulai diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2020. Perubahan yang terjadi kemudian tidak hanya sebatas pada perubahan istilah non-profit dari nirlaba menjadi nonlaba, tetapi juga terdapat perubahan pada ruang lingkup objek ISAK 35 yaitu entitas beriorientasi nonlaba terlepas apapun bentuk hukumnya. Tentunya dengan adanya perubahan ini, perlu adanya pengenalan terhadap ISAK 35 itu sendiri dan penyesuaian dengan kondisi entitas lembaga.

“Dengan adanya perubahan dari PSAK 45 menjadi ISAK 35 maka kita perlu mengetahui apa-apa saja yang berubah pada saat harus membuat laporan keuangan untuk organisasi, lembaga, institusi non-laba kita. Akuntabilitas sangat penting bagi entitas nonlaba karena, pertama ia meningkatkan kredibilitas kepada publik dan pengguna laporan keuangan. Kedua, menunjukkan kepada publik bahwa entitas memiliki integritas dan tata kelola yang baik. Ketiga, meningkatkan bargaining power, misalnya kepada lembaga donor”, jelas Nada Ayuanda.

Dalam satu bagian pemaparannya materi terkait laporan posisi keuangan, Nada Ayuanda turut menjelaskan, “Tujuan membuat laporan posisi keuangan itu untuk informasi mengenai aset, liabilitas dan aset neto. Sementara itu, informasi dalam laporan keuangan tersebut meliputi kemampuan entitas memberik memberikan jasanya secara berkelanjutan. Lalu terkait dengan likuiditas, flesibilitas keuangan, kemampuan memenuhi kewajiban dan kebutuhan dana eksternal.”

Menutup rangkaian kegiatan, diinformasikan bahwa lokakarya atau workshop laporan keuangan kali ini merupakan bagian pertama dari tiga seri workshop keuangan yang akan diselenggarakan PPH. Dua seri workshop lainnya yang akan datang ialah “Penyusunan Laporan Keuangan (Manual dan Software)” dan “Pengendalian Internal Organisasi Nonlaba dalam Pencegahan Kecurangan dalam Laporan Keuangan”.