Artikel

Telehealth Layanan HIV: Angin Segar Selama Pandemi, Bukan untuk Semua Orang

  • By Amalia Puri Handayani
  • 21 July 2020
None

[Seri Reportase AIDS Conference 2020]

Pandemi COVID-19 bukan hanya singgah di berbagai belahan dunia, ia sempat menginap cukup lama, bahkan masih saja ada yang tinggal—entah sampai kapan. Kehadirannya mempengaruhi berbagai lini kehidupan, termasuk layanan HIV. Orang-orang sempat tak lagi bisa keluar rumah, sebab transportasi umum untuk pergi ke layanan kesehatan menjadi begitu mengkhawatirkan. Layanan virtual menjadi salah satu cara yang banyak diadopsi pada masa ini. Layanan kesehatan secara virtual disebut dengan telehealth. Isu ini dibahas dalam sesi berjudul “Disruptive Innovations to Help End the HIV Epidemic and the Rise of Telehealth” di AIDS Conference 2020, tepatnya pada 8 Juli 2020.

“Layanan telehealth ini bukan untuk menggantikan layanan tatap muka. Ini hanya salah satu alat untuk memberikan layanan,” Jeffrey S. Crowley memberi penegasan sebagai moderator.

Salah satu panelis sudah memulai layanan virtual ini jauh sebelum pandemi COVID-19 datang. Sebagian lagi bilang mereka mulai melihat telehealth sebagai alternatif yang layak diadopsi dalam masa pandemi COVID-19. Sesi ini menjadi sesi pertukaran pengalaman di antara mereka.

Telehealth ini mengadakan layanan kesehatan HIV melalui telepon atau telepon dengan video. Orang-orang yang hidup dengan HIV-AIDS bisa duduk di rumah, tanpa merisikokan kesehatan mereka jika berada di luar dengan paparan COVID-19, sambil menerima telepon mendiskusikan kesehatannya. Mereka tidak lagi perlu menempuh jarak dan menghabiskan waktu untuk perjalanan ke klinik. Mereka tidak khawatir untuk berada di transportasi publik sekaligus biayanya. Mereka tidak lagi perlu berjibaku dengan pengaturan waktu kerja di kantor atau tempat penitipan anak. Mereka juga bisa menghindari stigma yang mungkin terjadi di klinik. Dokter atau pharmacist di ujung telepon akan menjawab pertanyaan dan kekhawatiran terkait kesehatan mereka. Bahkan, panelis menyebutkan bahwa tingkat kehadiran pasien menunjukkan peningkatan sejak layanan diberikan secara virtual. Terdengar indah, tetapi bukan berarti telehealth ini tanpa tantangan.

Orang-orang yang hidup dengan HIV-AIDS mempunyai situasi yang berbeda-beda. Tidak semua orang punya gawai. Banyak di antara mereka bahkan berbagi gawai dengan anggota keluarganya di rumah. Pun gawai di tangan, bagaimana dengan koneksi internetnya? Tidak semua orang diuntungkan oleh sistem dengan mendapatkan koneksi wifi, misalnya. Tempat tinggal mereka juga dipenuhi dengan anggota keluarga atau teman rumah yang mesti tak keluar. Privasi menjadi barang langka di rumah selama COVID-19. Situasi itu membuat pasien menjadi tidak bisa berbicara secara leluasa tentang kondisi kesehatannya yang juga merupakan bagian dari privasinya. Mereka yang punya privilese akan lebih mudah mengakses telehealth ini.

Pertanyaan-pertanyaan tetap berdatangan. Seberapa bisa pertemuan awal yang perlu penilaian dilakukan melalui video call?  Seberapa mungkin ini dilakukan di negara-negara global selatan dengan tingkat literasi yang diasumsikan lebih rendah? Laura Waters, salah satu panelis, menjelaskan bahwa banyak pertanyaan memang bisa diatasi melalui layanan telehealth ini, meskipun ada pertanyaan yang juga masih perlu sama-sama dicari jawabannya dengan mengembangkan inovasi ini. Telehealth bisa jadi bentuk ketahanan (resilient) bagi sebagian orang, terlepas COVID-19 masih menumpang atau nantinya sudah beranjak dari rumah mereka.