Artikel

The Missing Link: Leveraging Faith Communities for Epidemic Control

  • By Sari Lenggogeni
  • 21 July 2020
None

[Seri Reportase AIDS Conference 2020]

Sektor keagamaan mempunyai peranan yang cukup penting dalam penanggulangan HIV di Kenya. National AIDS Control Council (NACC) Kenya telah membentuk Technical Working Group (TWG) sektor keagamaan untuk mengkoordinasikan dan memberikan peranan keterlibatan yang lebih efektif bagi sektor ini. Satelit meeting yang berdurasi 30 menit ini mendiskusikan peranan komunitas keagamaan dalam penanggulanan HIV di Kenya.

Narasumber pertama berasal dari St. Paul University yang memaparkan bagaimana peranan komunitas keagamaan di Kenya dalam pencegahan HIV di negara mereka. Strategi yang digunakan oleh komunitas keagamaan adalah dengan mengintegrasikan informasi mengenai HIV dan AIDS ke dalam kurikulum teologi mereka. Mereka juga sudah menerbitkan sebuah buku yang berisi materi-materi mengenai HIV dan AIDS yang dapat disampaikan oleh pemuka agama kepada pengikutnya pada saat kegiatan-kegiatan pelayanan keagamaan. Mereka juga terlibat dalam aktivitas peningkatan pemahaman masyarakat terhadap HIV dan AIDS, sepeti ikut serta dalam penyusunan materi-materi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) yang disampaikan misalnya melalui booklet ataupun media lainnya, dan juga ikut serta dalam kegiatan-kegiatan peringatan hari ADIS sedunia. Dan yang tak kalah pentingnya adalah, para pemuka agama juga berpartisipasi dalam mendorong jemaat mereka untuk melakukan tes HIV,  menyediakan layanan konseling bagi jemaat yang terinfeksi HIV dan menyarakan mereka untuk membentuk support grup serta menyediakan tempat bagi mereka untuk berkumpul atau melakukan pertemuan-pertemuan. Komunitas keagamaan juga menyediakan layanan Pastoral Care bagi mereka yang terinfeksi dan terdampak HIV, layanan ini meliputi dukungan spiritual, psikososial dan ekonomi, VCT dan layanan doa. Disamping itu, program lain dari komunitas keagamaan ini adalah mengatasi permasalahan kekerasan berbasis seksual dan gender (Sexual and Gender Based Violence-SGBV) dengan menentang praktek-praktek kultural yang berbahaya. Mereka menyuarakan penentangan mereka terhadap praktek-praktek female genital mutilation dan perkawinan anak di bawah umur yang dapat meningkatkan angka SGBV. Untuk program SGBV ini, komunitas keagamaan juga mempunyai agenda yang hampir sama dengan program penanggulangan HIV, yaitu memasukkan pengarusutamaan SGBV ke dalam materi-materi dakwah, buku-buku literatur, dan mengembangkan materi-materi KIE dan advokasi yang berhubungan dengan SGBV. Tidak hanya sebatas itu, mereka juga menyediakan shelter atau rumah aman bagi korban untuk melalukan konsultasi, memberikan penguatan terhadap sistem layanan korban, dan melakukan kampanye penegakan keadilan bagi korban SGBV.    

Rev. Stephen Ndoria: Presbyterian Church of East Africa, yang merupakan narasumber kedua dari sesi ini membahas mengenai bagaimana kelompok agama merangkul remaja dan anak muda dan memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi mereka untuk memperbincangkan  persoalan-persoalan HIV, seksualitas, napza dan penyalahgunaannya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa remaja dan anak muda sangat rentan terhadap penularan HIV berkaitan dengan perubahan-perubahan mental, emosi, sosial dan perubahan fundamental lainnya yang mereka alami pada tahap perkembangan mereka. Orang tua, pemuka agama dan mentor memiliki peranan yang penting dalam masa transisi tersebut. Salah satu yang telah dilakukan oleh gereja Presbiterian adalah mengembangkan informasi-informasi mengenai HIV, seksualitas, napza dan peer pressure yang benar dan sesuai melalui poster dan short clips, mengadakan kegiatan mentoring dan konseling bagi remaja dan anak muda, mendorong sektor keagamaan untuk mengembangkan program intership dan fellowship, dimana remaja dan anak muda dapat menjangkau dan memberikan informasi mengenai HIV kepada teman-teman sebaya mereka serta membantu sektor keagamaan dalam membangun kepasitas orang tua dan pemimpin agama untuk dapat memberikan informasi yang benar mengenai HIV, seksualitas dan napza.

Tidak hanya dalam program pencegahan dan pengobatan, komunitas keagamaan juga mempunyai peranan yang cukup penting dalam program pengurangan stigma pada penanggulangan HIV di Kenya. Hal ini dikemukakan oleh narasumber ketiga, Rev. Jane Ng’ang’s dari INERELA+ Kenya. Dalam sesi ini beliau membahas peranan komunitas agama dalam mengurangi stigma dan memberikan dukungan dalam membuka status HIV. Hampir 90% penduduk Kenya mengikuti kegiatan keagamaan secara reguler, dimana kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik bagi pemuka agama untuk memanfaatkan forum-forum keagamaan tersebut untuk mengurangi stigma dan membantu pengikut/umatnya dalam menghadapi stigma tersebut. Untuk mengurangi stigma, komunitas keagamaan dan pemimpin/pemuka agama perlu menyatukan suara mereka. Pemuka agama memiliki pengaruh yang besar dalam komunitas mereka. Mereka dapat melakukan pendekatan dengan jemaat/umatnya sehingga dapat memberikan informasi-informasi yang benar mengenai HIV. Tidak hanya sebatas memberikan informasi, peranan pemimpin agama dituntut lebih dengan menjadi pemimpin agama yang memimpin umatnya dengan memberikan contoh atau sebagai panutan bagi umat/jemaatnya. Dengan demikian diharapkan dapat membantu meningkatkan akses tes dan pengobatan HIV dan mendobrak stigma. Pemimpin agama juga diharapkan dapat menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk mengungkapkan status HIV para jemaatnya.

Program lain yang juga dilakukan oleh komunitas keagamaan adalah mendorong laki-laki untuk mengakses layanan HIV. Sangat sedikit Laki-laki yang mengakses layanan HIV di Kenya, beberapa alasannya adalah laki-laki punya persepsi bahwa fasilitas kesehatan itu adalah untuk perempuan dan juga adanya sterotipe bahwa laki-laki merasa bahwa mereka tidak pernah sakit sehingga mereka tidak perlu berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan layanan kesehatan. Kondisi ini membuat komunitas keagamaan bergerak untuk menemukan populasi laki-laki yang tersembunyi ini dan memberikan pengertian kepada mereka bahwa mereka memiliki peranan yang signifikan dalam mencegah penyebaran HIV.  Dr. John Okello dari Seven Day Adventist Church, memberikan sedikit gambaran apa saja yang telah dilakukan oleh komunitas keagamaan dalam menarik laki-laki dalam program penanggulangan HIV. Salah satunya adalah dengan membentuk Male Champion, yang sebagian besar mereka merupakan pemuka agama. Mereka melakukan pendekatan dan berbicara kepada komunitas terutama kepada laki-laki dalam rangka mengurangi stigma terhadap HIV dan AIDS. Program lain yang dilakukan adalah memberikan pelatihan bagi pemuka agama dalam menyampaikan pesan-pesan terkait HIV dan AIDS yang tidak menimbulkan rasa takut ataupun menimbulkan stigma sehingga dapat membuat laki-laki mau mengakses layanan kesehatan , dan program ini harus terus dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus.

Hal yang penting dilakukan untuk mendukung keberhasilan program-program dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh sektor keagamaan adalah pendokumentasian dan pelaporan. Narasumber terakhir, Ms. Zilpha Samoie dari Christian Health Association of Kenya menyampaikan bahwa selain melaporkan kegiatan secara daring melalui sistem pelaporan mitra pelaksana program HIV, program-program layanan kesehatan yang berbasiskan keagamaan juga perlu melaporkan kegiatan secara langsung ke dalam sistem informasi kesehatan nasional. Untuk memperkuat sistem pendokumentasian dan pelaporan ini, beliau merekomendasikan perlu adanya peningkatan kapasitas bagi pemimpin agama ataupun masing-masing komunitas keagamaan untuk dapat menangkap informasi, melakukan pencatatan dan menyusun pelaporan yang benar dari kegiatan-kegiatan yang telah mereka lakukan,  baik melalui pelatihan, pembimbingan (mentorship) dan menyediakan asistensi teknis.