Kerja kemanusiaan Prof. Irwanto membuahkan banyak warisan pengetahuan dan pemberdayaan untuk kelompok marjinal dan terpinggirkan. Kerjanya menyentuh banyak topik yang berkelindan dengan tujuan mengamplifikasi suara kelompok marjinal dan termarjinalkan, serta memperjuangkan pemenuhan hak mereka.
Dalam melanjutkan warisan pengetahuan dan semangat perjuangannya terhadap kelompok marjinal dan termarjinalkan, PPH UAJ melaksanakan Irwanto Memorial Lecture bertajuk Semua Berarti, Semua Punya Tempat.
Peduli sebagai Kemanusiaan Bersama
Lecture Utama bertajuk Peduli sebagai Kemanusiaan Bersama: Mengenang Visi Prof. Irwanto tentang Indonesia Tanpa ‘Kita’ dan ‘Mereka’. Peduli sebagai Kemanusiaan Bersama merupakan warisan nilai dan pandangan Prof. Irwanto, terutama mengenai kepedulian dalam konteks sosial. Nilai ini menjadi landasan Prof. Irwanto dalam kerja penelitian dan pengabdiannya untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik yang menempatkan komunitas sebagai setara.
Lecture Utama disampaikan oleh Nani Nurrachman Sutoyo dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.
Prof. Irwanto adalah sosok akademisi yang berpihak kepada sesama manusia, terutama mereka yang termarjinalkan dan paling rentan. Prof. Irwanto melihat mereka sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Warisan beliau menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus memanusiakan manusia. Prinsip ini tercerminkan melalui kerja lapangan yang memandang kerentanan bukan identitas, keberpihakan dalam aksi, pemulihan trauma sebagai proses sosial, keadilan manusiawi, dan data untuk perubahan. Prof. Irwanto memandang penelitian sebagai jembatan antara bukti ilmiah dan tindakan publik yang transformatif, serta menempatkan komunitas sebagai subjek, bukan objek penelitian. Warisan nilai utamanya adalah kepedulian (care) yang berfungsi sebagai kompas moral sekaligus metodologi kerja. Pandangan ini serupa dengan pandangan dari Nel Noddings (ethics of care), Carol Gilligan (care orientation), dan Sara Ruddick (maternal thinking). Dalam konteks Indonesia, pandangan Prof. Irwanto sejalan dengan Fuad Hassan mengenai Manusia Indonesia, yang menekankan pentingnya mengembangkan We-Psychology dan melihat bahwa peduli bukan hanya empati, tetapi juga tanggung jawab relasional.
Prof. Irwanto menekankan bahwa dalam helping profession, pihak yang menolong dan yang ditolong harus berada dalam identitas “kita” yang setara, bukan “kami” dan “mereka”. Peduli merupakan sesuatu yang aktif, bukan pasif, dan merupakan bentuk solidaritas dalam bentuk kebijakan yang inklusif. Prof. Irwanto mengutamakan untuk mendengarkan aktif sebelum pengetahuan teoritik, dan keterampilan berbicara asertif, serta mengadvokasi self-care dan resiliensi bagi penyintas trauma. Menurutnya, peduli bukan sekadar nilai atau sikap yang lembut, tetapi dasar dari nation and character building dan andalan masyarakat dalam menggapai keadilan sosial. Oleh karena itu, peduli seharusnya menjadi inti dari Psikologi Indonesia.
Unduh naskah dan sinopsis Lecture Utama di sini.
Irwanto dalam Karya: Refleksi Bersama atas Kerja Kepedulian
Refleksi Bersama tentang Irwanto dalam Karya menyoroti bagaimana perwujudan visi dan prinsip Prof. Irwanto pada keberpihakan terhadap kelompok rentan.
Refleksi Bersama mengundang tokoh-tokoh sosial yang telah bekerja dengan mendiang Prof. Irwanto dalam memperjuangkan hak kelompok termarjinalkan. Diskusi dipandu oleh Ignatius Praptoraharjo.
- Ni Made Martini Puteri dalam perlindungan & kesejahteraan anak
- Mimi Mariani Lusli tentang inklusi disabilitas
- Endang Supriyati tentang pendampingan komunitas marjinal
- Evi Sukmaningrum tentang hak atas kesehatan yang inklusif
- Livia Istania DF Iskandar tentang Pendampingan kekerasan & trauma
Dalam konteks anak dan disabilitas, Prof. Irwanto membantu PUSKAPA mengidentifikasi kesulitan belajar pada anak-anak. Kerangka kerja ini lalu diadopsi menjadi disiplin ilmu. Kerangka ini juga memberikan ruang dan dukungan agar teman-teman disabilitas memiliki ilmu dan dapat bersuara.
Dalam pendampingan bagi perempuan korban eksploitasi, Prof. Irwanto memberikan dukungan berkelanjutan. Dukungan ini termasuk dalam membesarkan anak, dan membantu Endang untuk belajar menjadi peer atau petugas lapangan.
Pendekatan Prof. Irwanto selalu mengutamakan untuk mendengarkan, mengalami, dan menyertai sebelum pengetahuan teoritis. Pendekatan ini menjadi dasar dalam setiap program PPH UAJ, seperti KIOS Atma Jaya untuk pengguna napza dan Lentera Anak Pelangi untuk anak yang hidup dengan HIV. Beliau memastikan bahwa kebijakan berbasis bukti muncul dari pengalaman dan suara komunitas, bahkan melibatkan mereka sebagai peneliti komunitas.
Nilai kepedulian Prof. Irwanto juga memengaruhi Livia Istania Iskandar dalam membangun Yayasan Pulih untuk korban trauma dan kekerasan. Prof. Irwanto menunjukkan totalitasnya dalam isu sosial dan kesediaannya untuk melakukan secara langsung, bukan hanya berbicara.
Prinsip Prof. Irwanto dalam mendampingi anak dan remaja dengan HIV di Lentera Anak Pelangi sesuai dengan kebutuhan mereka. Ia bersama-sama dengan pendamping menyusun dan menjalankan program yang sesuai setelah bertemu, mendengar, dan mengalami pengalaman anak dan remaja. Lentera Anak Pelangi berkomitmen untuk membangun ruang aman dan melindungi suara anak dari eksploitasi. Komitmen ini menekankan bahwa intervensi dan advokasi kebijakan harus melibatkan komunitas agar tidak melanggengkan kesenjangan sosial.
Refleksi dan diskusi ini menguji apakah ruang-ruang kepedulian yang diteladankan oleh Prof. Irwanto masih dimiliki dan dapat diwujudkan melalui tindakan yang inovatif dan empatik.




