Isu pencegahan dan deteksi dini HIV adalah agenda kunci dalam kerja sama kesehatan internasional. Dalam kesempatan ini, PPH UAJ menerima kunjungan Profesor Tsutomu Kitajima dari Kyorin University, Jepang, untuk mempelajari penanganan HIV di Indonesia. Prof. Kitajima tertarik dengan invoasi untuk meningkatkan yield tes HIV dan strategi pencegahan di Jepang kepada pekerja dan pelajar migran.
Implementasi Tes HIV di Indonesia
Diskusi dibuka dengan tinjauan umum mengenai situasi HIV di Indonesia. Saat ini, Indonesia terus berupaya meningkatkan cakupan tes (testing) melalui berbagai fasilitas kesehatan masyarakat. Meski akses semakin luas, tantangan Indonesia kini adalah menjangkau lebih banyak hidden population. Selain itu, tantangan lain adalah memastikan keberlanjutan pengobatan untuk mencapai TDTM (U=U).
Pembelajaran pencegahan HIV di Indonesia
Dalam kunjungannya, Profesor Kitajima memberikan perhatian khusus pada beberapa aspek strategis di Indonesia untuk melihat kemungkinan adopsi kebijakan di Jepang:
Strategi Inklusif: Beliau mendalami bagaimana Indonesia menjalankan strategi pencegahan, perluasan akses tes, serta implementasi Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP).
Melawan Stigma: Prof. Kitajima mempertanyakan cara Indonesia menangani tantangan stigma dan diskriminasi yang menjadi penghalang bagi individu untuk melakukan tes.
Adaptasi Kebijakan: Fokus utama diskusi adalah apakah model strategi yang berhasil di Indonesia dapat dimodifikasi dan diterapkan untuk komunitas imigran di Jepang.
Startegi Pencegahan HIV di Jepang: Informasi Multibahasa dan Door-to-Door Test Kit
Sebagai bagian dari pusat penelitian yang fokus pada pengembangan tes HIV, Prof. Kitajima menjelaskan beberapa program yang sedang berjalan di Jepang untuk melindungi pekerja migran dan pelajar internasional:
Akses Informasi Tanpa Batas Bahasa: Menyadari kendala bahasa, ia mengembangkan informasi prosedur testing dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, guna memudahkan pekerja, pelajar, mahasiswa Indonesia di Jepang.
Door-to-Door & Reward Enforcement: Jepang sedang menguji coba distribusi tes HIV yang dikirim langsung ke tempat tinggal. Menariknya, mereka menerapkan sistem reward: individu yang mengembalikan kit tes (menyelesaikan prosedur) akan mendapatkan insentif berupa uang. Saat ini, response rate berada di angka 30%.
Skrining Pra-Keberangkatan: Terdapat aspirasi kuat dari pihak peneliti Jepang agar para pendatang sudah melakukan tes HIV di negara asal sebelum menginjakkan kaki di Jepang sebagai langkah preventif awal.
Kunjungan ini menegaskan bahwa perlindungan kesehatan bagi imigran adalah tanggung jawab dua arah. Dengan adanya rencana penyediaan informasi dalam Bahasa Indonesia dan sistem insentif tes, diharapkan angka deteksi dini kepada warga negara Indonesia di Jepang dapat meningkat secara signifikan.




