AIDS Week 2025 menjadi ruang untuk membahas tentang penelitian dan program tentang penanganan HIV di Indonesia.
Upaya penanganan HIV di Indonesia tidak terlepas dari peran berbagai pihak, baik dari pemerintah, akademisi, peneliti, dan komunitas. Beragam riset dan inovasi sosial telah dikembangkan, namun belum seluruhnya terdiseminasi secara luas. Padahal, pengetahuan berbasis bukti menjadi pondasi penting bagi kebijakan dan layanan yang efektif serta berpihak pada kemanusiaan.
PPH UAJ menyelenggarakan AIDS Week 2025 sebagai ruang berbagai pengetahuan dan kolaboratif bagi pemerintah, akademisi, peneliti, dan komunitas untuk mendiseminasikan hasil riset dan program telah selesai dilakukan di tahun 2025.
Dengan tema besar “Semua Berarti, Semua Punya Tempat”, kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi dan pengakuan terhadap kontribusi seluruh elemen dalam memperkuat respon HIV di Indonesia.
Kami membuka panggilan submisi untuk menemukan dan memilah tulisan menarik terkait dengan pencegahan dan penanganan HIV di Indonesia. Dalam waktu kurang dari 30 hari, kami telah menerima 35 tulisan penelitian dan program yang telah dijalankan dan selesai di tahun 2025. Dari 35 tulisan, kami mengundang 15 penulis untuk mempresentasikan tulisan mereka dalam sesi diskusi dan diseminasi AIDS Week 2025. Dari 15 tulisan tersebut, kami menentukan 4 topik utama, yaitu inovasi terkini pencegahan HIV, respons dan adaptasi komunitas terhadap PrEP, sistem perawatan HIV, dan pendekatan sosial budaya dalam respons HIV.
AIDS Week 2025 dibuka dengan Pidato Utama dari Kementerian Kesehatan RI. Perwakilan Kementerian Kesehatan, dr. Tiersa Vera Junita, M.Epid menyampaikan situasi terkini epidemi HIV. Sebagai Ketua Tim Kerja HIV dan PIMS, beliau juga menyampaikan arah kebijakan nasional dalam mencegah laju infeksi dan penanganan HIV di Indonesia ke depannya.
Membentangkan Akses, Menghadirkan Rasa Aman: Inovasi Terkini dalam Pencegahan HIV
Pencegahan HIV menuntut keberanian untuk berinovasi, membongkar stigma, dan membangun ruang aman. Strategi pencegahan harus mampu menjangkau remaja yang hidup dengan dunia digital, perempuan pekerja seks yang menghadapi ketidaksetaraan struktural, warga dan komunitas yang ingin terlibat aktif sebagai garda depan, serta populasi kunci yang rentan terhadap risiko penggunaan napza untuk berhubungan seksual.
Sesi ini menghadirkan empat program terkini yang menguatkan jalan dalam pencegahan HIV di Indonesia
Menembus Sunyi: Model EKSTRIM sebagai Gerakan Baru Edukasi dan Skrining HIV Mandiri Berbasis Digital untuk Remaja oleh Dr. Rizka Ayu Setyani, SST, MPH.
Program Pencegahan HIV pada Pekerja Seks Perempuan dan Program Penguatan Sistem Komunitas dan Hak Asasi Manusia oleh Fitriani Azizah.
Peduli, Melindungi, Menguatkan: Membangun Warga Peduli AIDS sebagai Garda Depan Anti-Stigma HIV oleh Dr. Angga Wilandika, S.Kep., Ners., M.Kep.
Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan Napza Stimulan dalam Hubungan Seksual pada Populasi Kunci oleh Yohanes Gentar, M.I.Kom.
Ketika PrEP Diadopsi: Bagaimana Komunitas Merespon dan Beradaptasi?
PrEP menandai era baru pencegahan HIV. Sebuah intervensi yang mendorong orang untuk memahami risiko, hubungan, dan rasa aman. Namun, efektivitas PrEP tidak dapat diukur dari ketersediaannya saja.
Sesi ini menelusuri dinamika diskusi tentang PrEP melalui bukti ilmiah dan pembelajaran dari komunitas. Kita akan melihat bagaimana penggunaan PrEP memengaruhi perilaku dan keputusan terkait pencegahan HIV, bagaimana persepsi dan pola adopsi berubah seiring waktu, serta bagaimana minat dan rasa ingin tahu terhadap PrEP.
Sexual Risk Behaviors among Men-who-have-sex-with-Men (MSM) using Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP): A Systematic Review oleh Mahraniy.
Online Interest in Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) for HIV Prevention in Indonesia: A Google Trends Analysis oleh I Ketut Lanang Dwi Bunda Putra.
Kesiapan Perubahan Perilaku dalam Penggunaan PrEP pada LSL dan Transpuan di Jakarta oleh Eric Sindunata, M. Psi, Psikolog.
Menguatkan Sistem Perawatan HIV: Strategi, Hambatan, dan Ketahanan Sistem
Pengobatan HIV telah mengalami kemajuan luar biasa dalam dua dekade terakhir. Namun keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) tetap sangat bergantung pada ketangguhan sistem perawatan. Sistem ini meliputi kemampuan negara memastikan pembiayaan yang berkelanjutan, kesiapan layanan menangani stadium lanjut, sensitivitas budaya dan spiritual dalam pendampingan, serta kekuatan mekanisme retensi untuk pengobatan jangka panjang. Pengalaman klinis dan sosial menunjukkan bahwa pengobatan HIV juga meliputi ruang batin, ruang keluarga, dan ruang komunitas.
Sesi hari ini menghadirkan empat perspektif kunci yang saling melengkapi untuk memahami apa yang menentukan keberhasilan terapi HIV.
Menuju Eliminasi AIDS: Tantangan Pembiayaan dan Pilihan Strategis oleh Yeny Ristaning Belawati.
Agama, Keimanan, dan Spiritualitas sebagai Hambatan dan Pendukung dalam Inisiasi Terapi Antiretroviral pada Orang dengan HIV di Indonesia oleh Bona Sardo.
Prevalensi, Faktor Risiko, dan Hasil Klinis Penyakit HIV Stadium Lanjut di Jakarta, Indonesia oleh Siti Sulami, M.Epid.
Analisis Faktor yang Berperan terhadap Retensi Pasien HIV pada Program Terapi ARV di Puskesmas Kebon Jeruk oleh Siti Zuhroh.
Membentuk Makna, Mengubah Cara Pandang: Pendekatan Sosial Budaya dalam Respons HIV
Pengalaman hidup dengan HIV selalu lebih besar daripada diagnosis. Ia ditentukan oleh bagaimana masyarakat berbicara tentang HIV, media membingkai isu, penggunaan bahasa, dan masyarakat memaknai perjalanan ini secara emosional.
Ketika narasi publik penuh stigma, ketika diksi yang keliru mengasingkan, atau ketika sumber literasi hanya tersedia untuk sebagian, HIV menjadi beban sosial dan psikologis bukan hanya persoalan kesehatan. Namun ketika cerita, bahasa, dan ruang dialog berubah, kita membuka kemungkinan baru untuk rasa aman, penerimaan, dan keberanian.
Sesi ini mengajak kita melihat HIV melalui lensa sosial budaya yang humanis:
SELARAS: Setarakan Literasi bagi Semua (Praktik Baik Pemerataan Akses Literasi bagi Anak yang Hidup dengan HIV menggunakan Boneka Tangan “Abhi” dan “Naya” dan Buku Cerita Tiga Dimensi) oleh Afrizal Adi Prayoga.
Menyemai Empati melalui Diksi: Buklet Istilah Ramah HIV dan Populasi Kunci oleh Made Diah Pitaloka Negara Puteri, MA.
Narasi Media dan Strategi Pengurangan Stigma di Indonesia: Analisis Framing Media terhadap Isu HIV oleh Kiki Zakiah.
“Untuk Siapa Penelitian Dilakukan?”: Dinamika Pelibatan dan Dampak Psikologis terhadap Peneliti Komunitas HIV oleh Wawa A. Reswana.




