HIV dan Usia Lanjut: Cerita dari Komunitas

Foto. Dok Kegiatan

Berdasarkan data laporan Kementerian Kesehatan, jumlah orang dengan HIV yang berusia lanjut terus meningkat. Jika pada tahun 2016, 6,5% dari populasi orang dengan HIV di Indonesia berusia di atas 50 tahun, di tahun 2020 persentase tersebut meningkat menjadi 9,2%. 

Peningkatan jumlah orang dengan HIV berusia lanjut di Indonesia perlu mendapat perhatian lebih. Dari segi pengobatan, lansia dengan HIV memerlukan pendekatan khusus terkait dengan kondisi sistem kekebalan tubuh yang semakin menurun. Tidak hanya itu, orang dengan HIV berusia lanjut juga mengalami penurunan fungsi organ, terutama ginjal dan hati.

Oleh karena itu, interaksi antar obat perlu menjadi pertimbangan dalam pengobatan. Lebih jauh, lansia dengan HIV mempunyai risiko morbiditas yang lebih tinggi dibanding lansia tanpa HIV. Penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit hati, ginjal dan tulang, resistensi insulin dan sindroma metabolik merupakan penyakit-penyakit penyerta bagi lansia dengan HIV.

Tidak hanya terkait dengan kesehatan fisik, lansia dengan HIV juga rentan dengan gangguan kognitif. Walaupun dengan menjalani terapi ARV, gangguan kognisi masih sering terjadi pada lansia dengan HIV. Gangguan neurokognisi terkait HIV atau HIV-Associated Neurocognitive Disorders (HAND) meliputi gangguan neurokognitif asimptomatik, ringan dan demensia.

Forum Diskusi HIV dan Usia Lanjut

Untuk memahami dan mendapat gambaran lebih lengkap mengenai persoalan lansia dengan HIV, PPH UIAJ menyelenggarakan sebuah Forum Diskusi dengan tajuk “HIV dan Usia Lanjut: Cerita dari Komunitas” pada Kamis siang (19/08).

Forum Diskusi ini merupakan rangkaian kegiatan Simposium Internasional “The Aging of People Living with HIV” pada November.  Memanfaatkan ruang pertemuan daring, lebih dari 70 peserta hadir untuk mendengarkan cerita dari tiga orang narasumber yang memiliki tiga perspektif berbeda terkait isu “HIV dan Usia Lanjut”.

Ketiganya ialah dr. Zinnita Mutalib (PKM Kecamatan Senen) yang membagi pengalamannya merawat orang dengan HIV usia lanjut; Lenny Sugiharto (Yayasan Srikandi Sejati) dengan ceritanya dalam mendampingi orang dengan HIV usia lanjut; dan Sam Hasmana Putra (KIOS Informasi Kesehatan Atma Jaya) dengan kisahnya sebagai orang dengan HIV menjelang usia lanjut (pra-lansia) yang tetap sehat dan aktif.

Kondisi medis dan psikis lansia

“Menjadi lansia sendiri, walau tanpa HIV sudah menjadi suatu tantangan tersendiri dengan isu medis maupun psikis yang rentan. Lansia memiliki dengan kondisi-kondisi kesehatan yang menurun, gangguan neurokognitif asimptomatik, demensia dan lain sebagainya. Posisi lansia di Indonesia ini juga unik. Lansia di Indonesia menjadi kelompok masyarakat yang dihormati di lingkungan. Tetapi, status HIV-nya juga bisa membawa stigma bagi mereka. Itu sebabnya penting untuk membicarakan dan berbagi cerita mengenai keadaan lansia dengan HIV di Indonesia”

Pengantar dari Prof. Irwanto sebagai pembuka forum diskusi.

Cerita tentang penuaan dengan HIV

Mendapat giliran pertama untuk berbagi kisah, Sam Putra yang telah bertahun-tahun membuka status HIV positifnya menuturkan, 

“Saya sudah 20 tahun hidup dengan HIV. Saya aktif juga di Komunitas Dukungan Sebaya (KDS) dan itu sangat membantu, saya bisa mendapatkan dukungan dan pengetahuan lebih terutama di usia saya sekarang ini yang sudah di lebih 50 tahun. Meski saya masih termasuk pra-lansia, karena kan lansia itu 60 tahun, tetapi sudah mulai terasa beberapa kesulitannya karena kondisi tubuh yang semakin menurun. Saat ini melakukan pengobatan dengan BPJS dan harus mengikuti prosedur itu semakin melelahkan, karena harus berurutan dari faskes pertama, kef askes-faskes selanjutnya. Itu cukup berat dengan pertambahan usia karena menurunnya kualitas kesehatan, pendengaran juga misalnya berkurang. Oleh karena itu, sering butuh teman ngobrol juga. Kami juga berharap untuk pelayanan kesehatan dengan BPJS prosedurnya itu bisa lebih ringkas.”

Kondisi termarjinalkan transpuan lansia yang hidup dengan HIV

Mewakili komunitas transpuan, Lenny Sugiharto berharap agar teman-teman transpuan, terutama yang hidup dengan HIV di usia lanjut bisa mempunyai tempat singgah atau rumah singgah sendiri. Ia ingin mereka bisa merasa lebih nyaman dari stigma dan diskriminasi. Lenny, mengatakan bahwa sebenarnya memang sudah ada rumah singgah dari Kementerian Sosial, tetapi ada ketentuan untuk teman-teman transpuan mengubah penampilan sesuai dengan ekspresi gender jenis kelamin lahirnya. Atas dasar tersebut, ia berharap agar ada tempat seperti rumah singgah, terutama untuk transpuan berusia lanjut tetapi yang mengelola juga sesama transpuan.

Kondisi lansia dengan HIV dari perspektif layanan kesehatan

Sebagai dokter umum di Puskesmas Kecamatan Senen, dr. Zinnita berbagi pengalamannya dalam menangani pasien HIV Positif usia lanjut. Ia mengungkapkan, 

Di Puskesmas Senen hanya 4% orang dengan HIV yang kami temukan, sekitar 30 orang kurang lebih tetapi rata-rata mereka baru ketahuan saat sudah tua. Sebagian dari teman-teman LSL, transpuan, penasun, dan sisanya heteroseks. Rata-rata mereka tidak mau terbuka akan statusnya, bahkan ke keluarga sendiri mereka tidak ingin terbuka, bahkan sudah ada yang bersumpah untuk tidak membuka statusnya sampai ia meninggal. Sangat berbeda orang dengan HIV yang saya temui dan sudah atau baru tahu statusnya sejak tua, mereka cenderung lebih tertutup. Berbeda sekali dengan cerita-cerita yang dari Bang Sam dan Ibu Lenny. Karena itu juga saya sangat senang sekali bisa mendengarkan Bang Sam dan Bu Lenny berbagi cerita di sini, karena yang saya temui di lapangan berbeda“.

2 Responses

  1. Hallo, saya juliandes,
    Sapa penderita ODHIV dan TB kelenjar, saya hidup sendiri dan sangat membutuhkan bantuan seperti rumah singgah. Jika berkenan membantu mohon hubungi saya 🙏🙏 saya sangat membutuhkan bantuan teman² semua, terima kasih 🙏🙏

  2. Jika ada informasi mengenai rumah singgah atau tempat rehabilitas mohon hubungi saya (081273260522) terima kasih 🙏🙏