Publikasi

Penguatan Layanan Deteksi Dini HIV pada Bayi

  • by PPH UNIKA Atma Jaya
  • 01 November 2017

Walaupun layanan PPIA melalui Prong 3 (8) sendiri sudah diimplementasikan di Indonesia, namun masih sangat sedikit data dan penelitian yang melihat sejauh mana ketersediaan layanan EID ini terakses oleh ibu dengan HIV positif untuk memeriksakan status HIV bayinya. Sejauh ini, dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, ditemukan adanya tantangan dalam implementasi EID, antara lain tantangan dari tingkat komunitas komunitas seperti orang yang merawat (perawat/pengasuh) yang kurang pengetahuan tentang Early Infant Diagnosis (EID), sikap dan persepsi dari seorang perawat/pengasuh dan fasilitator pada proses pengujian PCR1 (sepanjang cascade EID). Temuan kualitatif mengungkapkan bahwa peran konselor komunitas, lamanya waktu yang tak terduga, dan ketakutan menjadi hambatan yang paling penting pada fasilitator dan kegiatan EID. Lamanya waktu tak terduga langsung dikaitkan sebagai penghalang utama bagi kegiatan EID karena kekhawatiran tersebut diungkapkan oleh penyedia layanan, konselor, dan perawat/pengasuh.

Perawat/pengasuh juga mengungkapkan takut jika bayi mereka dites HIV karena mereka takut untuk mengetahui bahwa anak-anak mereka terkena terinfeksi dan juga takut ditolak oleh anggota keluarganya. Mereka pun melaporkan ketakutan pada pengungkapan status atau status anaknya kepada pasangan mereka sendiri. Jika status HIV bayi mereka diketahui, secara tidak langsung bisa mengungkapkan status mereka dan akibatnya bisa menciptakan risiko masalah dalam rumah tangga dan keluarga (Muluh, 2014). Penelitian dari Cherutich, et al., 2008 menunjukkan bahwa sebagian besar perawat/pengasuh tidak memiliki pemahaman secara jelas tentang pedoman tes HIV pada anak. Namun, memang banyak diakui terdapat kekurangan pada konseling dan tes sukarela dalam menangani tes HIV pada anak. (Cherutich, et al., 2008).

Tantangan lainnya adalah banyaknya bayi yang terlahir dari ibu dengan HIV positif yang ternyata tidak mengakses atau mengalami keterbatasan dalam mengakses program pencegahan penularan transmisi dari ibu ke anak. Dengan demikian, anak-anak ini berada diinfeksi risiko tinggi, dan saat ini kesempatannya terbatas untuk didiagnosis atau mendapat perawatan. Karena itu anak-anak ini menjadi tidak terlihat, mereka akan menjadi terlihat setelah memasuki fase penyakit AIDS. Ketika mereka akhirnya didiagnosis dan memulai ART, tingkat kematian dan komplikasi akan tetap tinggi. Penelitian Ahmed, et.al., 2013 menunjukkan bahwa beberapa alasan yang menyebabkan ibu atau pengasuh tidak melakukan tes HIV pada bayi mereka adalah disebabkan karena masalah kurangnya pengetahuan, merasa tidak adanya kebutuhan untuk melakukan tes HIV pada anak, takut mendapatkan stigma, dan merasa tidak siap serta merasa bersalah atas kemungkinan menularkan virus kepada anaknya.

Hasil dari penelitian opearasional ini adalah sebuah rekomendasi model penguatan layanan tes HIV atau deteksi pada anak dini HIV pada bayi dalam program PPIA yang telah diujicobakan pelaksanaannya di fasilitas kesehatan yang terpilih.