Artikel

Adakah Sekoci Penyelamat bagi Pekerja Seks di Tengah Hantaman Pandemi?

  • By Made Diah Negara
  • 11 February 2021
Foto Hanya Ilustrasi.

Air mulai merambat naik dari geladak bawah kapal setelah empat puluh lima menit terhantam gunung es. Sekoci-sekoci yang tertaut mengitari geladak atas kapal mulai diturunkan. “Kita tidak punya cukup sekoci untuk seluruh penumpang,” teriakan awak kapal spontan memicu orkestra kekacauan. Seluruh penumpang berlarian, suasana perkelahian mewarnai perebutan ruang di sekoci penyelamat. Penumpang kelas satu terlebih dahulu mengamankan diri di sekoci, diuntungkan dengan lokasi mereka memiliki akses tercepat ke sekoci penyelamat. Sedangkan penumpang kelas tiga terjebak di bagian bawah geladak, berjibaku mencari jalan keluar.

Visualisasi detik-detik tenggelamnya kapal Titanic dalam film besutan James Cameron menjadi alegori dari situasi krisis yang sedang kita hadapi. Setahun berselang dari penemuan pertama  kasus COVID-19, pemerintah masih pontang-panting mengeluarkan Indonesia dari masa krisis. Di tengah melambungnya jumlah kasus positif COVID-19 di atas 1.000.000, pemerintah memperketat kembali pembatasan sosial dengan skema PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) se-Jawa Bali. Sejauh ini, pembatasan sosial dan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker) memang masih menjadi keutamaan pemerintah dalam mencegah transmisi COVID-19. Jika dua kebijakan tersebut diibaratkan sebagai sekoci penyelamat, maka kamu yang masih bekerja; punya pendapatan stabil; dan diperkenankan bekerja dari rumah boleh dikatakan sudah mampu mengamankan diri dalam sekoci. Namun, berbeda cerita bagi mereka yang bergantung pada pendapatan harian dengan menukarkan jasa secara tatap muka. Dari rupa-rupa kerentanan yang dialami oleh kelompok marjinal, pekerja seks termasuk salah satu yang merasakan hantaman kuat saat pandemi COVID-19.

Pekerja Seks: Penumpang Kelas Tiga yang Terjebak dalam Krisis Ekonomi dan Psikis

“Sebelum covid ya lebih mending pendapatannya dari pada sekarang ini kalau sekarang ini 90% lah turunnya,” -PS,Jakarta

Perbincangan terkait kesulitan ekonomi kerap mengemuka ketika saya menanyakan hal terberat apa yang dialami oleh teman-teman pekerja seks selama pandemi COVID-19. Persoalan kesulitan ekonomi memang tidak khas dialami oleh pekerja seks, namun penularan COVID-19 melalui droplets membuat pekerja seks hampir mustahil melakukan pekerjaannya.  Ditambah lagi regulasi pembatasan sosial semakin memukul perekonomian pekerja seks ke titik terendah.  Kendati sudah dibekali pengetahuan mengenai tingginya resiko penularan COVID-19 melalui kontak fisik, nyatanya pekerja seks lebih condong untuk menafkahi kebutuhan harian. Dihadapkan pada kondisi penurunan ekonomi yang drastis, pekerja seks kebanyakan tidak memiliki pilihan selain tetap melanjutkan pekerjaannya sembari memasrahkan kondisi kesehatannya.  Rendahnya permintaan bukan satu-satunya sandungan ekonomi, beberapa pekerja seks acap menemui klien yang hanya bersedia membayar setengah dari harga yang ditentukan. Pada situasi tersebut pun, mereka tidak punya daya untuk menolak tawaran klien.

Seiring dengan merosotnya finansial, kondisi kesehatan mental teman-teman pekerja seks berada di ujung tanduk.  Beberapa pekerja seks didera perasaan sedih karena pendapatan yang menurun, serta dihantui perasaan khawatir akan tertular virus corona yang tidak mampu mereka hindari. Di beberapa kasus, kondisi kesehatan mental dari pekerja seks tergolong sangat mengkhawatirkan. Salah satu pekerja seks terpikir untuk mengakhiri hidup karena dipicu perasaan putus asa akan krisis ekonomi yang tak kunjung reda. Pekerja seks lainnya turut menceritakan adanya gangguan emosi hingga mengalami halusinasi. Di tengah hantaman berlapis yang ditanggung oleh teman-teman pekerja seks, adakah pertolongan dari pihak-pihak tertentu untuk mengendurkan cekikan ekonomi dan psikis? 

Menggapai-gapai Uluran Tangan dari Organisasi dan Pemerintah

Sebagai organisasi yang berfokus pada perlindungan dan pemberdayaan para pekerja seks, Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) cukup sigap merespon kendala yang ditemui pekerja seks selama pandemi. OPSI menyiasati kerentanan pekerja seks terpapar virus corona dengan mengeluarkan protokol kesehatan bagi pekerja seks saat melakukan pekerjaannya. Protokol kesehatan tersebut mengatur tata cara menerima klien, seperti mensyaratkan klien dalam keadaan sehat (tidak demam, flu, dsb), menganjurkan klien untuk membersihkan tubuh, menggunakan masker saat berhubungan seks, dan tidak melakukan aktivitas oral. Hal ini merupakan langkah besar dalam menanggulangi pencegahan transmisi COVID-19 bagi pekerja seks, namun skenario tersebut masih sumbang dalam pelaksanaan. Mayoritas pekerja seks menyatakan sulit untuk mengaplikasikan langkah mitigasi tersebut, karena adanya relasi kuasa yang timpang antara pekerja seks dan kliennya. Apalagi, posisi pekerja seks yang terjepit dari segi pendapatan, cenderung membuat pekerja seks tidak bisa bersikap selektif terhadap kliennya, termasuk mensyaratkan klien untuk menggunakan masker saat berhubungan seks.

Dalam kondisi sepinya klien, bantuan pemerintah sangat dibutuhkan oleh teman-teman pekerja seks. Di antara pelbagai jenis jaring pengaman sosial yang disiapkan pemerintah, hanya segelintir pekerja seks yang menerima bantuan langsung tunai (BLT). Diceritakan salah satu pekerja seks bahwa BLT  yang didapatkan sebesar Rp 600.000,00 tidak cukup untuk menambal kebutuhan harian selama sebulan karena terdapat dua keluarga dalam satu atap sehingga BLT tersebut harus  dibagi dua. Pekerja seks lainnya juga menceritakan BLT tidak diberikan rutin tiap bulannya, mereka hanya menerima sebulan atau dua bulan di masa awal pandemi. Untuk mengatasi kondisi ketatnya ekonomi, pekerja seks kebanyakan mengandalkan keluarga dan teman berupa pinjaman uang dan hidup sangat irit. Sedangkan, upaya membenahi kondisi psikis yang dialami beberapa pekerja seks cenderung mangkrak karena dirasa belum menjadi prioritas untuk diatasi selama masa pandemi. Sejauh ini, dukungan psikologis yang diterima teman-teman pekerja seks  sebatas  bercerita ataupun berkeluh kesah dengan teman dan keluarga.

Mengamankan Pekerja Seks dalam Sekoci Penyelamat

Perlindungan yang tersedia untuk bertahan di masa pandemi COVID-19 belum mampu menganulir hambatan yang dijumpai pekerja seks baik dalam aspek ekonomi maupun kesehatan. Layaknya strategi mitigasi yang efektif dipengaruhi oleh dua hal yakni kemampuan individual dan iklim interpersonal seperti lingkungan kerja, ketersediaan dukungan masyarakat, serta akses kesehatan dan layanan sosial. Maka, penjaringan pengalaman dari kelompok rentan khususnya pekerja seks perlu menjadi pertimbangan organisasi, komunitas dan pemerintah dalam menyusun suatu intervensi maupun regulasi, sehingga memampukan pekerja seks untuk bertahan di situasi krisis.

Terdapat tawaran intervensi pada pekerja seks di masa pandemi sebagaimana yang dikemukakan oleh Lucy Platt,et al. (2020)[1] sebagai bahan rujukan dalam pengembangan intervensi. Pertama, terkait dengan intervensi sosial dan struktural diperlukan perlindungan ekonomi dan finansial yang menjamin kelangsungan hidup pekerja seks, seperti bantuan pembayaran sewa tempat tinggal maupun subsidi listrik. Program BLT yang dicanangkan pemerintah juga perlu terus didorong dan dipantau implementasinya secara rutin sehingga kelompok rentan dapat dijangkau dan terjamin kehidupannya. Kedua dari aspek kesehatan, organisasi ataupun komunitas yang memayungi pekerja seks perlu memiliki skema pendistribusian masker, kondom, hand sanitizer dan disinfektan secara merata. Selain itu, perlunya penguatan promosi kesehatan terkait COVID-19 dan kesehatan mental yang dibarengi dengan ketersediaan layanan kesehatan mental untuk mengakomodir kebutuhan para pekerja seks. Pemerintah, organisasi dan komunitas juga perlu mempertimbangkan fasilitas rapid test gratis bagi pekerja seks. Hal ini mempermudah proses pelacakan dari mereka yang terjangkit COVID-19 sehingga lekas mendapatkan penanganan. Kiranya dengan beberapa alternatif tersebut, kita mampu untuk memberikan ruang bagi pekerja seks di sekoci penyelamat. Memetik refleksi dari film Titanic, kita disadarkan bagaimana bertahan bukan semata perkara ikhtiar melainkan peluang dan kesempatan.

 

***

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.

 

[1] Platt,Lucy, Jocelyn Elmes, Luca Stevenson, Victoria Holt,Stephen Rolles, Rachel Stuart. 2020. Sex Workers Must Not Be Forgotten In The COVID-19 Response. The Lancet. May, 15 2020. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)31033-3 (diakses tanggal 1 Februari 2020)