Peningkatan Kapasitas

Hidup di Masa Pandemi: Ketika Semua Serba Daring, Termasuk Konseling

  • By Nidia Muryani
  • 11 January 2021
Foto Hanya Ilustrasi.

Sebagai Sarjana Psikologi, saya pernah mendapatkan materi seputar konseling. Salah satu mata kuliah pernah membahas tentang adanya dua jenis pilihan untuk konseling, yakni konseling secara tatap muka (konvensional) dan konseling daring. Sebagai produk pembahasan dalam kelas, singkatnya saya dan teman-teman kelas ditugaskan untuk mengadakan diskusi -boleh juga dikatakan debat- mengenai keunggulan dan kekurangan kedua jenis konseling. Dari hasil diskusi tersebut saya ingat bahwa keduanya memang tergambarkan dengan ciri khas yang berkebalikan satu sama lain. Berikut beberapa keunggulan dan kekurangan umum dari konseling daring (Madanikia, n.d.; Stringer, 2020)

Keunggulan konseling daring :

  • Fleksibilitas dalam menentukan jadwal sesi
  • Praktis, sehingga mengurangi potensi hambatan yang dapat membuat konseling dibatalkan
  • Tidak menghabiskan waktu untuk perjalanan
  • Secara umum lebih murah ketimbang konseling tatap muka
  • Terhindar dari potensi rasa takut bertemu dengan kerabat/kenalan saat di lokasi konseling
  • Klien dapat lebih merasa nyaman karena berada di tempat yang sudah familiar (tempat tinggalnya)

Kekurangan konseling daring :

  • Potensi ketidastabilan koneksi internet
  • Potensi gangguan teknis pada perangkat yang digunakan (seperti laptop atau gawai)
  • Potensi peretasan (hack) sehingga mengurangi konfidensialitas data klien
  • Berkurangnya isyarat non verbal (seperti gestur tubuh klien yang dapat diobservasi konselor)
  • Kurang cocok untuk klien yang membutuhkan pertolongan segera (seperti keinginan untuk bunuh diri, dan gaduh gelisah).

Pada proses diskusi saat itu -di tahun 2016- saya masih skeptis terhadap penggunaan konseling daring. Alasan utamanya karena mengetahui minimnya isyarat non verbal klien yang dapat diobservasi oleh konselor jika konseling daring. Dampaknya tentu akan menyulitkan konselor untuk lebih memahami konteks permasalahan yang ada dan saya mengganggap kondisi ini akan mengurangi efektivitas konseling. Akan tetapi, dengan keberadaan pandemi COVID-19 yang mengharuskan jaga jarak, membuat konseling daring menjadi satu-satunya opsi paling aman bagi konselor dan klien.

Perkembangan konseling daring pun semakin pesat baik dari segi jumlah penyedia layanan, platform media sosial (seperti website, Instagram, LINE, WhatsApp), jalur komunikasi (video call, chat, telepon), dan biaya yang bervariasi (bertarif puluhan ribu hingga jutaan, namun tidak sedikit pula yang tidak memungut biaya). Keharusan untuk berkomunikasi secara daring juga secara tidak langsung mempercepat peningkatan jumlah tenaga konselor terlatih (non profesional) karena pelatihan yang juga terpaksa dilakukan secara daring, yang di satu sisi juga memudahkan penentuan jadwalnya. 

Sebuah studi di Belanda telah mengkaji implikasi perubahan drastis yang terjadi pada layanan kesehatan mental setempat dari perspektif praktisi kesehatan jiwa profesional. Hasil temuan menunjukkan ada peningkatan sekitar 70% penggunaan platform daring hampir setiap harinya untuk layanan psikologis di masa pandemi COVID-19 per-Mei 2020, ketimbang sebelum masa pandemi (Feijt, de Kort, Bongers, Bierbooms, Westerink, & Ijsselsteijn, 2020). Namun, tentu dengan adanya perubahan yang mendadak ini, penyedia layanan konseling perlu membuat mekanisme dan mengasah kompetensi konselor agar dapat memberikan layanan yang optimal (Feijt et al., 2020; Situmorang, 2020). Terlepas dari situasi yang mendesak, hasil temuan menunjukkan beberapa temuan positif yang dirasakan oleh konselor/praktisi, beberapa diantaranya: durasi sesi yang lebih singkat dan efisien, klien yang cenderung dapat lebih ekspresif, berkurangnya peluang ketergantungan klien terhadap konselor, dan menambah peluang bagi konselor untuk dapat mengamati lingkungan tempat tinggal dan perilaku klien pada konteks kehidupan hariannya (Feijt et al., 2020).

Pandemi ini jelas membawa banyak dampak negatif pada mayoritas dari kita. Namun, di satu sisi telah menguatkan maupun mendiversifikasi beragam terobosan teknologi yang sebelumnya sudah ada, dan salah satunya adalah konseling daring. Harapannya kemudahan dari konseling daring dapat semakin mendorong individu untuk lebih membuka mata akan kondisi kesehatan mentalnya serta lebih dioptimalkan kualitasnya oleh penyedia layanan maupun berbagai instansi terkait.

 

Referensi:

Feijt, M., de Kort, Y., Bongers, I., Bierbooms, J., Westerink, J., & IJsselsteijn, W. (2020). Mental health care goes online: Practitioners' experiences of providing mental health care during the COVID-19 pandemic. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking23(12), 860-864.

Madanikia, Y. (n.d). Pros and cons of online counseling. Expressions Counselling. https://expressionscounselling.com/pros-and-cons-of-online-counselling/

Situmorang, D. D. B. (2020). Online/Cyber Counseling Services in the COVID-19 Outbreak: Are They Really New? Journal of Pastoral Care & Counseling, 74(3), 166–174. https://doi.org/10.1177/1542305020948170

Striger, M. (2020, 26 Maret). Confensions of a virtual therapist: Pros and cons of online therapy. GoodTherapy. https://www.goodtherapy.org/for-professionals/software-technology/telehealth/article/confessions-of-a-virtual-therapist-pros-and-cons-of-online-therapy

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya.