* Dokumen dalam Bahasa Indonesia

Uji Coba Terbatas Program Harm Reduction bagi Pengguna ATS dan Chemsex

Penulis: Retno,Yohanes Gentar, Eric Sindunata, Fikri Haidar, Bayu Lesmana, Maradona Batubara, Paldi, Husen Basalamah, Very Kamil, Ignatius Praptoraharjo

Prevalensi HIV di antara pengguna sabu mencapai 10,2%, dengan 35,1% di antaranya tidak memiliki riwayat penyuntikan. Sebanyak 64% melaporkan berhubungan seks di bawah pengaruh zat (chemsex) menggunakan:

  • Poppers (90%)
  • Shabu (15%)
  • Inex (8%)
  • Happy 5 (3%)
  • Tramadol (2%).


Praktik Chemsex memiliki risiko infeksi HIV, IMS, kecenderungan bunuh diri, dan depresi yang lebih tinggi. Sayangnya, program HIV saat ini hanya berfokus pada penggunaan napza suntik, tanpa perhatian pada penggunaan amphetamine type-stimulants (ATS) dan perilaku chemsex. Dengan meningkatkan praktik Chemsex, perlu ada integrasi yang baik pada program HIV dan harm reduction.

Metodologi Intervensi Harm Reduction

Tujuan studi ini adalah menguji kelayakan (feasibility) dan penerimaan (acceptability) model intervensi Harm Reduction (HR) berbasis komunitas. Uji coba menggunakan penerapan metode penjangkauan lapangan (outreach) yang terstruktur melalui Lima Langkah (5-Step Outreach).

Sasaran intervensi adalah populasi kunci yang termasuk pengguna napza suntik dan pengguna sabu, Lelaki Seks dengan Laki-laki (LSL), Transpuan, dan Pekerja Seks Perempuan.

Uji coba berjalan selama enam minggu di empat kecamatan di Jakarta Barat dengan kolaborasi bersama empat LSM lokal.

Temuan Kajian

Penerimaan intervensi yang tinggi

Dampingan dari populasi sasaran dapat menerima pemberian informasi tentang ATS dan praktik Chemsex. Umumnya, mereka ingin mendengarkan dan mendiskusikan topik tersebut dalam kondisi tertentu. Kuncinya, petugas lapangan dan dampingan membutuhkan hubungan yang dekat terlebih dahulu.

Selain pemberian informasi, dampinga juga mau untuk melakukan penilaian risiko dengan SRQ, ASSIST dan Chemsex Inventory. Penilaian risiko merupakan langkah selanjutnya dari pemberian informasi dan hubungan yang dekat.

Lalu, petugas lapangan dapat memberikan rujukan untuk meningkatkan jumlah rujukan tes HIV khususnya pada populasi yang belum terjangkau.

Pengembangan untuk petugas lapangan

Intervensi ini bisa diterima dengan baik dengan berapa pertimbangan seperti adanya motivasi untuk menjangkau populasi baru, penggunaan alat penilaian risiko yang beragam dan memiliki waktu yang lebih banyak untuk berbicara dan memahahi kelompok dampingannya.

Kesimpulan

Program HR pada pengguna ATS dan Chemsex dianggap layak dilaksanakan dan diterima oleh kelompok sasaran dan petugas lapangan.

Only available in Indonesian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download

Intervensi Harm Reduction untuk Praktik Chemsex