Artikel

Kalkulasi Risiko dalam Penularan dan Pengobatan HIV

  • By Ignatius Praptoraharjo
  • 03 April 2020
Foto Hanya Ilustrasi.

Penanggulangan AIDS sebagai upaya kesehatan masyarakat menempatkan risiko sebagai konsep pokok yang selalu hadir dalam upaya pencegahan, pengobatan bahkan dalam mitigasi dampak. Penyediaan kondom, jarum suntik, PrEP, atau ide tentang microbicide atau vaksin  telah dilakukan untuk memastikan agar risiko tertular HIV bisa dikurangi. Demikian pula pemberian profilaksis dan obat anti-retroviral juga dimaksudkan untuk mengurangi dampak buruk perkembangan virus terhadap status kesehatan mereka yang hidup dengan virus tersebut. Persoalan utamanya, siapakah yang menentukan bahwa perilaku tertentu itu merupakan perilaku yang berisiko? Siapa pula yang menentukan bahwa tindakan tertentu ini bisa mengurangi risiko?Jika orang mengetahui bahwa sebuah perilaku itu berisiko mengapa mereka tetap melakukan risiko itu? Apa pertimbangan melakukan tindakan yang berisiko? Pemahaman tentang bagaimana berbagai pihak (penyedia layanan dan praktisi, masyarakat, akademisi, atau pembuat kebijakan) tentang risiko tentu akan memberikan arahan yang lebih baik  dalam mengembangan kebijakan untuk pencegahan, pengobatan, perawatan dan mitigasi dampak dalam penanggulangan AIDS. Tulisan singkat ini akan mengurai tentang konsep risiko dan bagaimana implikasinya terhadap upaya kesehatan yang dilakukan.

Konsep risiko, persepsi risiko, faktor risiko dan perilaku bersiko merupakan konsep utama dalam penelitian-penelitian tentang penularan HIV selama ini. Konsep risiko sebenarnya telah menjadi suatu topik penelitian dari ilmu-ilmu sosial sejak empat puluh tahun yang lampau. Risiko secara umum didefinisikan sebagai suatu kemungkinan terjadinya dampak buruk atas tindakan tertentu[1]. Definisi ini mengandaikan suatu akibat buruk atau bahaya dari suatu tindakan. Oleh karenanya ketika berbicara tentang risiko akan selalu dalam kaitan dengan akibat buruk atau bahaya. Konsep risiko pada satu sisi bisa menunjukkan kemungkinan memperoleh dampak buruk (risk taking) atau sesuatu yang dilakukan pihak lain (something done to you). Risiko dan akibat buruk merupakan suatu hal yang dikonstruksi secara sosial artinya risiko bisa diberi makna, dibesar-besarkan atau didramatisasikan akan sangat tergantung dari diskursus yang terjadi pada masyarakat tentang itu.

Dalam dunia HIV dan AIDS bahaya (penularan) merupakan sesuatu yang objektif dan netral, semantara risiko adalah sebuah konstruksi sosial karena kriteria-kritera yang yang memungkinkan terjadinya penularan telah ditentukan oleh para ahli tersebut melalui suatu wacana ilmiah. Ini menunjukkan bahwa definisi risiko terhadap penularan HIV sendiri telah ditentukan oleh suatu diskursus yang mengarah pada objektivasi risiko. Implikasinya adalah definisi ini yang kemudian diterjemahkan oleh peneliti atau pelaksana program untuk menentukan prosedur-prosedur baku yang bisa digunakan untuk menilai tindakan mana yang berisiko dan mana yang tidak. Implikasi lebih lanjut adalah adanya kategori perilaku berisiko dimana orang yang berisiko didefinisikan sebagai seseorang yang tidak mampu untuk melakukan manajemen risiko sehingga perlu dibantu oleh pihak lain melalui informasi dan layanan yang disediakan. Konsep risiko dengan demikian harus dlihat dalam kaitan dengan praktek-praktek yang membedakan orang baik-baik (mereka yang mampu mengelola risiko) dan orang yang berisiko (tidak bisa mengelola risiko).

Penelitian tentang risiko yang telah dilakukan menunjukkan bahwa apa yang telah dikonsepsikan berisiko oleh para ahli secara ilmiah ada kemungkinan dipersepsikan lain oleh orang-orang awam. Risiko dan bahaya dilihat berdasarkan penilaian intuituf dari orang awam. Hubungan seks yang “tidak aman”, oleh sebagian orang bukan dikatageorikan sebagai suatu 'perilaku berisiko' karena bagi mereka tindakan tersebut memiliki makna yang berbeda dari yang dimaknai oleh para ahli kesehatan. Demikian pula berbagi jarum dalam menggunakan napza juga dimaknai berbeda antara orang awam dengan para ahli. Akibatnya, definisi risiko yang ‘dipaksakan’ oleh para ahli seringkali mengalami kegagalan dalam mendorong perubahan perilaku yang ‘tidak berisiko’ karena adanya konstruksi yang berbeda antara para ahli dan orang awam tentang makna suatu tindakan. Oleh karena itu dalam melihat situasi seperti ini maka perilaku harus dilihat bukan saja sebagai penilaian yang berbeda terhadap risiko tetapi juga dalam konteks dari pandangan hidup (worldview) yang mungkin berbeda sama sekali. Mencermati pemaknaan atas sebuah perilaku berisiko sekaligus bisa mencermati besarnya kesenjangan antara persepsi pelaku tidakan berisiko dengan persepsi dominan tentang risiko.

Dilihat dari definisi tentang risiko maka mengimplikasikan bahwa konsekuensi buruk bisa diakibatkan karena seseorang melakukan tindakan sosial terntentu atau orang yang bersangkutan memperoleh akibat buruk atas tindakan orang lain. Makna ganda dari risiko ini menunjukkan bahwa risiko pada dasarnya dapat terhadi secara personal maupun sosial. Risiko perilaku seksual atau perilaku penggunaan obat-obatan (drugs) sebagai sebuah kemungkinan memperoleh atau menularkan HIV mengindikasikan terjadi pada konteks relasi sosial. Atau dengan kata lain perilaku berisiko bisa diartikan sebagai hubungan sosial yang berbahaya (Shibthorpe, 1992). Namun yang menjadi persoalan adalah seperti apa yang disebut hubungan sosial yang berisiko ini, dan oleh siapa hubungan sosial ini dianggap berisiko? Menifestiasi dari persepsi terhadap risiko terwujud dalam relasi sosial, maka persepsi risiko akan terikat dengan makna relasi sosial ini. Makna perilaku seksual bisa berarti hubungan ekonomi, hubungan sosial yang berjarak, atau sebaliknya hubungan sosial yang dekat.  Atau dalam konteks penggunaan bersama alat-alat menyuntik dipersepsikan sebagai sebuah kedekatanm kepercayaan, keterikatan emosional dan sebagai manajemen terhadap kebutuhan penggunaan napza. 

Gambaran di atas juga secara tidak langsung menunjukkan bahwa dalam melihat risiko, seseorang akan menghubungkan dengan risiko lain yang mungkin ada dalam relasi sosial yang lain. Sebagai contoh di atas, hubungan seks yang tidak aman pada satu sisi akan menyebabkan tertularnya HIV tetapi pada sisi yang lain jika dia mengurangi risiko dengan menggunakan kondom maka ada risiko lain yang muncul misalnya kehilangan kepercayaan terhadap hubungan personal yang dimilikinya. Misalnya, seorang pekerja seks pada dasarnya memiliki banyak risiko yang harus dihadapi sehari-hari yang berkaiatan dengan gaya hidupnya misalnya kekhawatiran untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, ditangkap polisi karena menjual seks, atau mengalami kekerasan dari pelanggannya. Semuanya ini mendorong yang bersangkutan untuk memilih risiko mana yang bisa diterima dan risiko mana yang tidak bisa diterima sehingga memunculkan semacam hirarki risiko. Risiko yang paling tidak bisa diterima adalah risiko yang memperoleh prioritas untuk dikurangi. Mengurangi risiko agar memiliki dan dicintai oleh pasangan seksualnya misalnya merupakan tampaknya menjadi prioritas bagi pekerja seks[2]

Pemaknaan risiko dalam konteks hubungan sosial, meski relasi sosial tidak selalu bersifat resiprokal, tetapi mengandaikan suatu negosiasi antara perspesi satu aktor dengan aktor yang lain. Menggunakan kondom merupakan hasil persepsi risiko atau kalkulasi dari satu orang yang dikomunikasikan dengan pasangan seksualnya. Demikian juga tidak menggunakan kondom juga merupakan hasil negosiasi dan kalkuasi dari aktor yang terlibat dalam hubungan itu. Pada tataran kognitif, tindakan berisiko juga merupakan hasil persepsi terhadap risiko dengan realitas sosial yang ada dihadapannya[3]. Oleh karena rasionalisasi risiko pada dasarnya terletak pada konteks relasi sosial maka hal ini akan mengimplikasikan adanya hubungan kekuasaan (power relationship)[4]. Pilihan dan tindakan seseorang bisa menjadi hambatan (constraint)  bagi orang lain dalam melakukan tindakan yang dimaksud. Catatan ini juga sekaligus menggarisbawahi bahwa tindakan sosial merupakan tindakan yang dinegosiasikan. Oleh karena dinegosiasi maka ada kemungkinan bahwa tindakan tersebut sebagai sebuah dominasi atas persepsi orang lain, merupakan kompromi atau merupakan tindakan penyerahan diri. Kelebihan relatif dari seseorang baik secara material maupun emosional akan menentukan bagaiamana bentuk relasi sosial yang terjadi diantara dua aktor. Ketika perbedaan sumber daya ini muncul maka hubungan yang bersifat asimetri tampaknya akan terjadi dimana orang yang memiliki kelebihan relatif akan mendominasi diskursus yang terjadi pada relasi sosial ini. Pada tingkat empiris, Melendez dan Pinto (2007) menunujukkan bagaimana perilaku seks berisiko antara waria dan pasangan seksualnya bisa digambarkan sebagai konsekuensi hubungan yang menunjukkan ketidakseimbangan dalam power relationship[5]. Demi untuk mempertahankan hubungan emosionalnya, maka waria cenderung akan mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan dari pasangan seksualnya baik secara seksual maupun sosial bahkan kemungkinan risiko tertular HIV. 

Gambaran tentang konteks risiko pada relasi sosial mengimplikasikan bahwa pemahaman tentang faktor-faktor yang berisiko terhadap penularan HIV pada dasarnya harus mampu mengidentifikasi berbagai relasi sosial yang dimiliki oleh seseorang serta bagaimana mekanisme relasi sosial yang terpolakan ini mempengaruhi perilaku berisiko secara seksual. Isu ini yang kurang bisa dilihat pada pendekatan keperilakuan yang selama ini mendominasi penanggulangan AIDS dimana persepsi individu merupakan sebuah kehendak bebas, sukarela dan dikalkulasi secara ekonomis[6].  Dalam konteks yang demikian maka diperlukan perspektif lain yang bisa digunakan untuk memberikan dasar yang kuat untuk mengembangkan intervensi penanggulangan AIDS yang mampu menyikapi relasi-relasi sosial diantara aktor sosial agar bisa mengurangi terjadinya penularan HIV[7]. Pendekatan ini harus mampu melihat bagaimana relasi sosial yang mengorganisasikan orang yang rentan dan yang telah terinfeksi ini bisa berelasi satu dengan yang lain, pola pemaparan dan penularan HIV melalui pengaruh sosial, perilaku berisiko atau protektif dimana mereka terlibat satu sama lain.

 

Disclaimer: Tulisan ini mewakili opini penulis dan tidak menggambarkan opini dan sikap Pusat Penelitian HIV Atma Jaya

 

 

[1] Fox N J (1998). 'Risks', 'Hazards' and life choices: reflections on health at work  Sociology 32 (4): 665-687.
[2] Ivan Wolffers, Rika Subarniati Triyoga, Endang Basuki, Didikyudhi, Walter Devilleí And Rachmat Hargono Pacar and Tamu: Indonesian women sex workers’ relationships with men, CULTURE, HEALTH & SEXUALITY, 1999, VOL. 1, NO. 1, 39- 53
[3] Rhodes, T. (1997). Risk Theory in Epidemic Times: Sex, Drugs, and The Social Organization of 'Risk Behaviour'. Sociology of Health & Illness, 19(2), 208-227
[4] Van Campenhoudt, L., Cohen, M., Guizzardi, G., & Hausser, D. (Eds.). (1997). Sexual Interaction and HIV Risk. New Conceptual Perspectives in European Research London: Taylor & Francis.
[5] Melendez, R. M., & Pinto, R. (2007). 'It's really a hard life': love, gender and HIV risk among male-to-female transgender persons. Cult Health Sex, 9(3), 233-245
[6] Bajos, N., & Marquet, J. (2000). Research on HIV sexual risk: Social relations-based approach in a cross-cultural perspective. Social Science & Medicine, 50(11), 1533-1546
[7] Neaigus, A. (1998). The Network Approach and Interventions To Prevent HIV among Injection Drug Users. Public Health Reports, 113(Supplement 1), 140-149.