Gambaran Dukungan Keluarga, Keterhubungan dengan Komunitas dan Resiliensi pada Transpuan Dewasa Awal
Transpuan hidup dalam kemiskinan dan kesenjangan. Mereka mengalami diskriminasi dan tindak kekerasan. Resiliensi yang bersumber dari dukungan keluarga dan keterhubungan dengan komunitas sangat dibutuhkan.
Penelitian deskriptif ini melihat variabel dukungan keluarga, keterhubungan dengan komunitas, dan resiliensi pada transpuan dewasa awal.
Sebanyak 205 transpuan berusia 26-35 tahun yang tergabung dalam tiga komunitas transpuan di Jabodetabek sebagai partisipan. Pengambilan sampel melalui teknik convenience sampling. Penelitian ini menggunakan self-report kuesioner. CD-RISC-25 untuk melihat resiliensi, sub-skala perceived family support dari skala MSPSS untuk melihat persepsi dukungan keluarga, dan sub-skala community connectedness dari skala GMSR untuk mengukur keterhubungan dengan komunitas..
Hasil analisis data menunjukkan bahwa mayoritas transpuan berpendidikan terakhir SMA, berdomisili di Jakarta, berprofesi sebagai pekerja salon, pekerja seks, dan pengamen. Rata-rata transpuan bergabung di dalam satu komunitas, namun terdapat 34% bergabung di dalam lebih dari satu komunitas.
Sebagian besar transpuan memiliki resiliensi tinggi, memiliki dukungan keluarga tinggi, dan tingkat keterhubungan dengan komunitas tinggi.
