Tim Peduli AIDS Atma Jaya atau TPA, merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang isu HIV dan AIDS. TPA melakukan banyak program dan kegiatan setiap tahunnya. Salah satu kegiatan TPA adalah diskusi dan kampanye dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Kampanye berlangsung secara langsung di Kampus Atma Jaya Semanggi dan BSD, dan secara digital di media sosial instagram.
Melawan stigma melalui media sosial
Di Kampus Atma Jaya, kami membagikan pamflet kepada warga Atma Jaya yang berisi tentang tindakan diskriminasi dan stigma kepada populasi kunci.
Tidak hanya itu, kami juga membagikan penjelasan singkat kepada mereka tentang isi pamflet tersebut. Selain itu, kami melakukan kampanye media sosial tentang Nol Diskriminasi.
Pada kampanye ini, kami menjelaskan tentang stigma dan diskriminasi kepada orang dengan HIV. Kami juga menyampaikan tindakan non diskriminasi apa yang dapat kita lakukan bersama.
Edukasi dasar HIV dan AIDS untuk remaja
Bentuk kegiatan yang kedua yakni diskusi dan penyuluhan di salah satu SMA Negeri di Jakarta Pusat. Kami memberikan penyuluhan pada murid kelas 11 dan kelas 10, dengan durasi 45 menit pada masing-masing kelas.
Informasi yang diberikan dalam penyuluhan yaitu informasi dasar HIV-AIDS, seperti perbedaan HIV & AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan terapi ARV. Selain itu kami juga menjelaskan stigma dan diskriminasi serta dampaknya terhadap orang dengan HIV.
Kami merasa penting untuk membagikan informasi ini kepada siswa SMA untuk melindungi mereka dari infeksi menular seksual, infeksi HIV, dan kekerasan seksual. Diskusi seperti ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran atas kesehatan seksual dan reproduksi.
Pandangan tabu dalam pendidikan reproduksi dan seksual
Respons para siswa SMA cukup positif terhadap penyuluhan tentang HIV-AIDS ini, terlihat dari sikap mereka yang cukup aktif, di mana di setiap kelas minimal ada 5 orang yang bertanya.
Banyak pertanyaan yang kami terima seperti “Bagaimana caranya agar bayi tidak tertular virus HIV dari ibunya?”, “Apakah darah yang ada di PMI juga ada yang terdapat virus HIV?”, dan “Berapa lama seseorang yang positif HIV bisa hidup apabila melakukan terapi ARV?”.
Dan dari seluruh pertanyaan, ada satu pertanyaan yang cukup membuat kami terkejut.
Ada satu murid perempuan yang bertanya, “Kak, kondom itu untuk apa ya?”. Seorang anak SMA yang bersekolah di Jakarta Pusat belum tahu guna kondom merupakan hal yang mengagetkan bagi kami.
Dari kejadian itu membuat kami berpikir bahwa masih ada remaja yang tinggal di Jakarta Pusat yang belum tahu kegunaan kondom, menunjukkan bahwa perlu ada edukasi seks yang menyeluruh. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh budaya kita yang masih menganggap pembicaraan tentang seks adalah hal yang tabu. Tabu ini menjadi salah satu tantangan yang menghambat anak dan remaja mendapatkan informasi yang benar. Pendidikan seks yang benar untuk dapat menjaga diri dari kekerasan seksual.
Sex Education sejak dini
Pendidikan seks dapat menekan laju angka infeksi penyakit kelamin, AIDS dan aborsi pada remaja. Materi seks tidak perlu ditutup-tutupi, karena akan menjadikan siswa bertambah penasaran dan ingin mencobanya. Pendidikan seks perlu menjelaskan tentang fungsi biologis, batasan fisik, dan risiko dari hubungan seks tidak aman.
Berkaca dari pengalaman ini, kami merasa bahwa remaja perlu mendapatkan pendidikan seks. Dan semua orang memiliki andil untuk menyebarkan informasi tersebut seluas-luasnya, maka kami berkomitmen untuk terus memberikan edukasi melalui berbagai program kerja kami kepada warga Atma Jaya dan masyarakat luas.
