Perilaku Pencarian Bantuan Kesehatan pada Pengguna Napza Suntik di Bekasi

2010

* Dokumen dalam Bahasa Indonesia

Jumlah pengguna napza suntik yang besar di kota Bekasi menjadi faktor risiko utama penularan HIV, baik sekarang maupun di masa depan.

Ada beberapa alasan mengapa angka penularan HIV di kalangan pengguna napza suntik di Bekasi begitu tinggi:

  • Faktor Geografis: Bekasi berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, wilayah dengan tingkat prevalensi HIV yang tinggi. Selain itu, wilayah Bekasi berada di Jalur Pantura yang mengalami pembangunan ekonomi sangat pesat.
  • Masalah Sosial dan Ekonomi: Tingginya angka pengangguran, kriminalitas, serta mobilitas penduduk yang tinggi untuk berdagang dan berwisata turut memicu masalah ini.
  • Lemahnya Pengendalian Infeksi: Pemerintah dan pihak terkait masih lemah dalam hal keterampilan, anggaran, serta kebijakan pengendalian infeksi.
  • Keterbatasan Pendampingan: Lembaga Kasih Indonesia (LKI) baru bisa melakukan kegiatan penjangkauan dan pendampingan secara terbatas di Kota Bekasi. Sementara itu, Kabupaten Bekasi sama sekali belum memiliki program pendampingan untuk pengguna napza suntik.

Metode

Kesadaran seseorang untuk hidup sehat sangat bergantung pada banyak hal, mulai dari pengetahuan, sikap, keyakinan, pengalaman, hingga informasi yang mereka terima. Di sisi lain, pengguna napza suntik juga memiliki karakteristik psikososial yang sangat khas.

Penelitian ini tidak terpaku pada satu model perilaku pencarian bantuan kesehatan (health-seeking behavior) saja. Peneliti memilih untuk menggali lebih dalam berbagai aspek dan elemen pendukung yang memengaruhi keputusan para pengguna napza suntik dalam mencari bantuan kesehatan.

Hasil Temuan

Penelitian ini berhasil mengungkap beberapa poin penting mengenai bagaimana pengguna napza suntik di Kota Bekasi mencari bantuan kesehatan:

Keyakinan diri menentukan keputusan: Teori kesehatan (Health Belief Model dan AIDS Risk Reduction Model) terbukti masih relevan. Pengguna napza suntik akan mencari bantuan kesehatan, jika mereka yakin tindakan tersebut membawa manfaat nyata bagi hidup mereka. Sebaliknya, mereka akan mengabaikan layanan kesehatan jika merasa tidak ada gunanya.

Kondisi psikologis dan stigma sebagai penghambat: Status adiksi membuat kondisi psikologis pengguna napza menjadi tidak stabil. Mereka sering merasa cemas, tidak aman, terlalu sensitif, dan sulit memecahkan masalah. Akibatnya, cara mereka mencari bantuan kesehatan sering kali kurang tepat. Masalah ini diperparah oleh label negatif (stigma) dari masyarakat yang membuat mereka sulit memercayai orang lain.

Fasilitas layanan kesehatan sudah tersedia: Wilayah Bekasi sebenarnya sudah memiliki layanan kesehatan terkait HIV dan AIDS yang lengkap. Fasilitas ini juga mampu menjalankan program pengurangan dampak buruk dari penggunaan napza (Harm Reduction).

Peran besar organisasi masyarakat sipil: Organisasi masyarakat sipil memegang peran yang sangat penting. Mereka aktif menjangkau, mendampingi, dan mengedukasi para pengguna napza suntik. Pengguna napza yang pernah berinteraksi dengan lembaga-lembaga ini terbukti memiliki kesadaran kesehatan yang jauh lebih tinggi.

Dukungan komunitas dan kebijakan daerah: Kelompok ibu-ibu dan tokoh agama di Bekasi memberikan dukungan positif yang membantu pengguna napza mencari bantuan kesehatan. Selain itu, Pemerintah Kota Bekasi sudah mendukung program ini lewat kebijakan resmi, yaitu Peraturan Daerah dan Rencana Strategi Daerah penanggulangan HIV dan AIDS yang ramah terhadap program Harm Reduction.

Only available in Indonesian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download

Perilaku Pencarian Bantuan Kesehatan pada Pengguna Napza Suntik di Bekasi