Jika kamu pengguna Twitter, mungkin setiap Juni, Pride Month dan tagar #pride menjadi trending teratas. Bersamaan tagar #pride, ilustrasi, gambar, dan emoji bendera pelangi, serta ucapan “Happy Pride!” memenuhi linimasa Twitter. Sebagian dari kamu mungkin sudah memahami mengapa tagar pride bertebaran di laman utama media sosial.
Akan tetapi, sebagian lainnya mungkin masih bertanya-tanya tentang, apa dan mengapa tagar tersebut muncul memenuhi lini masa?
Sejarah Pride Month
Sejarah panjang perayaan Pride Month setiap bulan Juni berawal dari sebuah peristiwa kerusuhan yang menimpa komunitas LGBTQ 52 tahun lalu. Pada tanggal 28 Juli 1969, polisi New York, Amerika Serikat, tiba-tiba melakukan penggerebekan di sebuah klub gay bernama Stonewall Inn. Polisi New York beralasan Stonewall Inn beroperasi tanpa izin minuman keras. Namun, polisi tidak hanya menggerebek klub, melainkan juga menangkap individu dari komunitas LGBTQ tanpa alasan jelas. Komunitas LGBTQ melawan, dan kali ini mereka enggan untuk menerima intimidasi Terjadilah bentrokan antara komunitas LGBTQ dengan polisi.
Selama 6 hari penuh, komunitas LGBTQ di New York terus melakukan perlawanan. Mereka memperingati perjuangan ini sebagai Kerusuhan Stonewall
Kerusuhan Stonewall kemudian menjadi titik balik dalam gerakan dan perjuangan modern untuk hak-hak LGBTQ hingga Juni. Titik ini menjadi awal dari peringatan Pride Month.
Ada banyak cara merayakan Pride Month. Sebelum pandemi COVID-19, jutaan orang berkumpul, berparade, dan menyatakan dukungannya pada komunitas LGBTQ. Namun, di tengah pandemi COVID-19, parade seperti ini berganti dengan kampanye dukungan pada hak-hak komunitas LGBTQ secara virtual.
Itulah mengapa #Pride dan “Happy Pride Month!” lengkap dengan bendera pelangi menjadi trending Twitter pada awal Juni 2021 lalu. Akan tetapi, Pride Month tidak hanya sekadar perayaan gembira.
Pride Month juga menjadi momentum untuk merefleksikan kepada masalah kekerasan berbasis gender yang masih menghantui teman-teman Transgender Laki-laki.
Transgender Laki-laki dan Kekerasan Berbasis Gender
Transgender adalah individu yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan jenis kelaminnya saat dilahirkan. Sementara itu, transeksual adalah seorang transgender yang melakukan upaya medis untuk proses transisi jenis kelamin.
Dalam konteks ini, mungkin kamu lebih familiar dengan Transgender Perempuan (transpuan). Transpuan adalah individu dengan alat kelamin laki-laki, namun mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Kata kunci di sini adalah identitas.
Tapi bagaimana dengan Transgender Laki-Laki?
Transgender Laki-Laki adalah individu yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan, dan kemudian mengidentifikasikan diri sebagai laki-laki.
Narasi mengenai Transgender Laki-Laki dan kelindan permasalahannya masih jarang muncul ke permukaan. Misalnya saja dalam permasalahan kekerasan berbasis gender. Kasus kekerasan terhadap Transgender Laki-Laki lebih sedikit dibahas dan terungkap. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa Transgender Laki-Laki lebih berisiko mengalami kasus kekerasan. Pada tahun 2011, sebuah studi pada 1.005 transgender menunjukkan bahwa Transgender Laki-Laki lebih rentan mengalami kekerasan. Kekerasan ini termasuk kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, kekerasan seksual saat dewasa, kekerasan dalam pacaran, kekerasan dalam rumah tangga, dan penguntitan.
Sebuah artikel menarik tentang kerentanan Transgender Laki-Laki oleh Abhipraya A.Muchtar di Magdalene.co. Di artikel tersebut, Abhipraya mengungkapkan bahwa setidaknya empat orang Transgender Laki-Laki yang pernah bercerita ke Lini Zurlia (Aktivis Perempuan) mengatakan bahwa mereka mengalami kekerasan seksual.
“Meskipun dia [trans laki-laki] maskulin, tapi masih memiliki kerentanan mengalami kekerasan dan diskriminasi karena alat kelaminnya seperti perempuan pada saat dilahirkan.”, kutipan dari pernyataan Lini Zurlia dalam artikel.
Lebih jauh, dalam artikelnya, Abhipraya menuturkan bahwa, “Walaupun maskulin dan tertarik pada perempuan, trans laki-laki tidak memiliki phallus power. Karenanya, mereka juga menghadapi corrective rape atau pemerkosaan yang dilakukan untuk “menormalkan” trans laki-laki.”
Transgender laki-laki juga rentan berada dalam kesadaran semu dari sistem patriarki. Mereka dituntut menjadi bagian dalam konstruksi sosial gender identitas laki-laki. Misalnya saja harus berpenampilan maskulin, memiliki penis, dan tertarik pada perempuan. Mereka -Transgender Laki-Laki- yang tidak memenuhi imaji ideal konstruksi sosial tersebut lantas menjadi rentan terhadap kekerasan, stigma, dan diskriminasi.
Memutus Mata Rantai Kekerasan Berbasis Gender terhadap Transgender Laki-Laki
Setiap orang memiliki identitas gender masing-masing.
Namun, sebagian dari kita mungkin belum pernah memikirkan apakah identitas gender. Pengalaman ini jauh berbeda pada individu transgender. Sebab, mereka telah melewati proses panjang perenungan, pencarian, dan pergumulan terkait identitas gender.
Oleh karena itu, cara terbaik untuk memahami pengalaman mereka adalah dengan memperkaya diri dengan pengetahuan mengenai realitas hidup sebagai transgender. Kelompok cisgender (individu yang identitas gender dan jenis kelaminnya sama) perlu mendengarkan cerita hidup dari teman-teman transgender, bukan menghakimi.
Penghakiman atas moral justru memicu kekerasan kepada individu transgender. Penghakiman ini tidak akan menyelesaikan akar permasalahan, termasuk bayang-bayang masalah kekerasan berbasis gender yang menghantui mereka.
Kekerasan berbasis gender pada transgender Laki-Laki tidak bisa dibiarkan begitu saja. Setiap orang bersikap empatik dan berupaya lebih untuk mengakhiri segala wujud kekerasan tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan kesadaran tentang keberadaan teman-teman Transgender Laki-Laki. Memperkaya diri dengan pengetahuan mengenai berbagai masalah kekerasan, stigma, dan diskriminasi yang mereka hadapi dalam kesehariannya.
Trangender Laki-Laki, dan juga Transgender Perempuan, harus diperlakukan dengan martabat dan setara. Sama seperti manusia lainnya, hak asasi mereka perlu dihormati.


